Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Terbukanya pintu baru menuju sukses

Plabita Priyadarshi

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Baca cerita Plabita Priyadarshi, anggota MDRT dari India, yang berhasil menjadikan masa kerja dari rumah sebagai masa paling produktif dalam kariernya.

Suatu hari di bulan Februari, ketika pandemi sudah merebak luas di Tiongkok dan baru ditemukan segelintir kasus di tempat tinggal saya di India, saya mulai membayangkan apa jadinya bisnis saya jika pembatasan sosial diberlakukan. Apakah akan macet karena tidak bisa bertemu nasabah? Saya ngeri membayangkannya.

Di masa krisis semasif ini, orang seringnya mengesampingkan investasi dan asuransi dari daftar prioritas mereka. Saya takut untuk menelepon prospek dan meminta janji temu. Kemudian, datanglah berita bahwa pandemi belum akan berakhir dan hampir semua sektor kehidupan akan diisolasi. Saat itulah saya sadar saya perlu mencari cara agar bisa tetap bekerja dan bertemu prospek dan nasabah.

Saya agak pesimis dengan tanggapan prospek, pun ragu mereka suka dihubungi lewat panggilan video. Begitupun, saya harus mencoba. Dengan beberapa prinsip dasar cold call dan sedikit penyesuaian, saya mulai bekerja. Dan ternyata berhasil. Masa kerja dari rumah kini telah menjadi masa paling produktif dalam karier saya.

Cara baru berinteraksi dengan referensi

Saat seorang nasabah memberikan referensi, saya terlebih dahulu menelepon prospek dan memperkenalkan diri dan perusahaan yang saya wakili. Saya mengirimkan kartu nama digital melalui WhatsApp. Hal ini mempersiapkan mental prospek untuk bergeser dari format salinan cetak ke salinan digital dan membuat mereka lebih bisa menerima bentuk interaksi virtual.

Berikutnya, saya meminta waktu untuk diskusi dan bertanya apakah mereka merasa nyaman jika diskusi dilakukan lewat pertemuan Zoom/video. Jika ya, saya mengirimkan biodata dan informasi spesialisasi saya melalui surel atau WhatsApp.

Dalam pertemuan video Zoom pertama saya, prospek adalah seorang bapak yang telah pensiun selama enam bulan dan tinggal di rumah bersama istri dan putrinya yang sudah remaja. Saya tidak begitu yakin dia akan sreg dengan panggilan video, tetapi di luar dugaan, hampir 10 menit sebelum jadwal dia sudah ada di “ruang pertemuan”! Awalnya dia memang skeptis, tetapi saat pertemuan berlangsung, saya bisa membaca tanda-tanda bahwa dia terkesan. Walaupun sudah pernah membeli asuransi jiwa di internet, prospek merasa ternyata membeli asuransi jiwa di sebuah "pasar virtual" kegiatan yang menarik.

Mungkin dia menyukai sikap percaya diri saya dalam menawarkan polis asuransi lewat panggilan video karena, beberapa menit setelah panggilan dimulai, istri dan putrinya sudah ikut muncul di layar. Kami membahas tentang pandemi dan dampaknya terhadap keuangan pribadi. Kami membahas singkat anuitas, tabungan, dan rencana pajak yang dia miliki. Saya perhatikan ternyata, setelah pensiun, dia berhenti membayar Dana Pensiun Karyawan. Hal ini bisa berdampak pada besaran pajaknya, padahal batas waktu pelaporan pengembalian pajak sudah sangat dekat.

Tidak sulit bagi saya untuk menawarkan solusi, dan dia pun tidak perlu bertemu langsung dengan saya atau staf, atau mengirim dokumen cetak apa pun. Dengan adanya platform digital, semua dokumen dikirim secara daring, dan premi pertama dibayar melalui transfer bank. Saya berhasil closing.

Itu bisnis baru pertama saya selama kurun waktu isolasi dengan nasabah yang belum pernah saya temui sebelumnya. Siapa sangka! Ya, ternyata bisa! Tidak itu saja, nasabah dan prospek ternyata merasa lebih nyaman dengan panggilan video ketimbang saya. Saya rasa faktor pembedanya di sini adalah, walau virtual, nasabah tidak berbicara dengan robot tetapi dengan penasihat sungguhan.

Saya juga menemukan beberapa kelebihan aplikasi panggilan video: mudah untuk menambahkan orang lain seperti pasangan, anak, atau akuntan nasabah, dan menyertakan berkas PowerPoint, flyer, atau lembar komparasi.

Hari-hari isolasi mandiri sejauh ini telah menjadi masa paling produktif dalam karier saya. Saya juga kembali menghubungi teman, kerabat, dan nasabah lama. Rata-rata mereka girang saat saya bilang di telepon, “Coba tebak ini siapa? Kamu mau ikut rapat video denganku?” Sekarang saya disiplin menelepon mereka selama hampir sejam setiap pagi dan bertemu lewat panggilan video pada malam harinya.

Alexander Graham Bell pernah berkata, “Saat satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Sayangnya terlalu sering kita terpaku dan meratapi pintu yang tertutup, sampai-sampai buta pada pintu yang terbuka.”

Plabita Priyadarshi adalah anggota MDRT selama delapan tahun dan peraih Top of the Table dari Mumbai, India.

Artikel ini telah dimuat di Blog MDRT.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments