Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Bekerja dengan milenial: Stereotip vs realitas

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Walsh menjabarkan segi-segi segmen pasar ini yang lain dari yang Anda kira.

SEORANG NASABAH yang berusia 20an akhir duduk di kantor Anda, mata terpaku pada layar ponsel. Ketika sebentar dia memperhatikan, dia cuma mau tahu apakah rekomendasi Anda bisa dibawanya ke penasihat yang lain. Dia bahkan sebetulnya enggan untuk datang dan tak pernah menjawab panggilan saat Anda meneleponnya untuk mengatur jadwal janji temu. Di samping itu: Dia tak ada uang, tak percaya asuransi, dan hanya mau jadi nasabah kalau Anda bisa membuatnya kaya dalam sekejap.

Pengalaman seperti itu pasti tidak mengenakkan. Pengalaman seperti itu, kata Brendan Clune Walsh, juga tak pernah terjadi saat ia berhadapan dengan kalangan milenial, generasi yang lahir dari 1981 hingga 1996, berkisaran usia 24-39.

“Saya senang bekerja dengan mereka dan kerap kali mereka justru lebih terbuka dengan asuransi,” kata anggota MDRT selama sembilan tahun dari Detroit, Michigan, ini.

Fokus utama bisnis Walsh adalah penyediaan rencana waris untuk keluarga bernilai aset bersih tinggi dan perencanaan sukses untuk perusahaan, tetapi ia dan penasihat lain di kantornya (yang juga milenial, dan Walsh sendiri sebetulnya hanya lebih tua sedikit dari kalangan ini) sudah cukup berpengalaman dalam bekerja dengan nasabah milenial untuk tahu mana fakta, mana fiksi. Contohnya:

Nasabah-nasabah pengusaha berusia 30an tahun yang, kata Walsh, “jauh lebih aktif terlibat dalam prosesnya ketimbang nasabah saya yang lebih tua.” Mereka bahkan mau datang ke kantor Walsh, sementara banyak nasabah lain yang lebih tua inginnya didatangi, bukan mendatangi. “Mereka lebih mau menerima nasihat tentang asuransi jiwa dan disabilitas untuk mendanai perjanjian jual-beli, dan menganggap kami sebagai pakar di bidangnya,” katanya. “Mereka lebih tertarik ke manfaat jangka panjang, daripada imbal balik secepatnya, dan mereka juga sangat cepat dalam mengambil keputusan.”

Atau nasabah yang direferensikan kakeknya ketika masih berusia 26 tahun, yang kemudian menikah dan menghubungi Walsh setelah beberapa tahun – kali ini lebih siap untuk bekerja dengan Walsh. “Dia sangat membuka diri dan sudah menunjukkan minat sedari awal, dan sekarang kalau ada pertanyaan tentang keuangan, dia menelepon untuk meminta saran,” kata Walsh. “Dia juga pintar menabung, kami sering bertemu langsung, dan dia sangat mengapresiasi pekerjaan kami.”

Salah satu faktor besarnya, kata Walsh, adalah karena milenial jauh lebih selaras dengan situasi keuangannya daripada yang disangka banyak orang. Mungkin ini karena mereka ingin segera bebas dari utang pendidikan tinggi atau karena melihat efek krisis ekonomi 2008 terhadap keluarga mereka. Apa pun alasannya, Walsh mengamati kalangan milenial ini lebih bijak menabung ketimbang banyak dari nasabahnya yang berusia lebih tua.

Selain itu, imbuhnya, banyak dari label yang dicapkan pada generasi milenial malah sebetulnya berlaku untuk orang dari kalangan usia berapa pun di tahun 2020. Bahwa milenial tak mau berbicara lewat telepon? Nasabah Walsh yang berusia lebih tua pun banyak yang seperti itu. Fakta ini menjadi pengingat kita untuk lebih mengenal preferensi saluran komunikasi tiap nasabah, baik itu via telepon, surel, pesan singkat, LinkedIn (favoritnya Walsh), atau lainnya, selama tetap sesuai aturan kepatuhan.

Perhatiannya terus terusik dengan perangkat mobile? Walsh justru tak pernah mengalami rapat di mana nasabah milenialnya tak bisa lepas dari ponsel atau terus-terusan berkirim pesan, dan patut dicatat bahwa di titik ini kita semua sudah terprogram untuk bereaksi pada getaran atau bunyi nada dering dari ponsel kita.

Ingin hasil instan dan tak tertarik menyusun rencana hari depan? Ingat, dalam dunia digital nonstop yang memfasilitasi pembelian sekali klik, jasa antar sehari sampai, dan seleksi polis elektronik, setiap orang ingin serba lebih cepat. Selain itu, Walsh sendiri memiliki nasabah baru milenial, CEO sebuah perusahaan rintisan, yang justru menginisiasi proses asuransi key person untuk pendiri perusahaan tersebut.

“Saya rasa milenial punya jiwa wirausaha yang lebih kuat dari yang orang kira,” kata Walsh. “Begitu mereka paham konsep dari pekerjaan kami dan bantuan yang bisa kami berikan, mereka mampu melihat nilainya. Milenial adalah segmen nasabah kami yang terus berkembang karena mereka mulai muncul sebagai generasi pengusaha dan pemimpin yang baru.”

Kontak: Brendan Clune Walsh brendan@catalyst-sg.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments