Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Mencicipi rasa pensiun

Angelia Z. Shay, CLU, ChFC

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Alasan perlu mencoba rasanya pensiun sebelum benar-benar pensiun.

SALAH SATU hal yang terlebih dahulu saya sampaikan kepada nasabah adalah, “Ini pertama kalinya Anda di sini. Tapi saya, dalam 25 terakhir, mungkin sudah 800 atau 900 kali. Dan ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

“Jangan sampai ‘pensiun dari’, tapi pensiunlah ‘menjadi’. Coba ingat lagi waktu Anda masih SMA atau kuliah dan ada acara dansa. Seperti gadis lain, Anda membeli dan mencoba sendiri gaun yang akan dikenakan. Sepatu hak tingginya pun Anda coba, untuk menilai penampilan dan merasakan sendiri seperti apa memakainya. Saya dorong Anda, sebagai nasabah, untuk mencicipi masa pensiun dan coba kita bahas seperti apa rasanya.”

Kerap kali, nasabah yang datang sudah menyimpan begitu banyak waktu liburan yang belum mereka gunakan. Jika demikian, saya akan berkata, “Anda bilang ingin tinggal di Florida. Bagaimana kalau Anda meluangkan dua atau tiga pekan untuk tinggal di sana, supaya bisa mengalami sendiri rasanya.”

Kadang ada suami/istri yang akan pensiun lebih awal dari pasangannya. “Kita tidak tahu seperti apa nanti jadinya. Coba simpan penghasilan si suami/istri yang ingin pensiun itu di bank dan lihat seperti apa rasanya. Anda bilang Anda akan baik-baik saja tanpa penghasilan itu, jadi coba mulai disimpan di bank saja.”

Cara pikir kalangan generasi baby boomer biasanya begini, “Hari ini aku kerja, besok aku pensiun. Habis perkara.” Kali ini, kita bangun pemahaman seperti apa rasanya pensiun.

Bisakah dibilang bahwa selama tiga tahun ke depan kita akan memulai transisi Anda ke masa pensiun? Apakah perusahaan tempat Anda bekerja membolehkan Anda untuk bekerja paruhwaktu? Mungkin hanya 20 jam seminggu, tiga hari seminggu. Yang jelas, kita mulai bertransisi ke masa pensiun. Pengalaman saya bersama nasabah, mereka bisa pensiun dengan baik. Saya juga meminta mereka, kalau ingin terlibat dalam kegiatan sosial, terlibatlah dari sekarang. Saya perhatikan seringkali orang tidak memulainya sebelum pensiun, dan tidak melakukannya tepat setelah pensiun. Telanjur terlambat.

Mereka harus mulai menjalankan kegiatan-kegiatan itu sebelum pensiun karena biasanya — dan saya sering kali melihat ini terjadi — saat mereka baru pensiun mereka bersikap, “Ah, aku santai-santai dulu sebulan ini.” Mereka bermalas-malasan, tidak keluar rumah atau mengerjakan hal-hal yang selama ini tidak sempat dikerjakan di rumah. Akhirnya, mereka tak kunjung berkegiatan di luar rumah.

Salah satu faktor yang membuat masalah ini terjadi adalah karena watak orang berbeda-beda. Ada nasabah yang datang dan kita langsung tahu bahwa bila mereka bilang akan melakukan sesuatu, mereka pasti melakukannya. Nasabah yang seperti itu tak perlu kita cemaskan.

Namun ada juga nasabah yang berkata mereka akan melakukannya, tetapi ternyata tidak. Pernah ada seorang wanita yang direferensikan oleh salah seorang nasabah saya. Dia sudah pensiun selama tiga atau empat tahun. Selama percakapan awal antara saya dan dia, saya berkata, “Coba ceritakan seperti apa keadaannya sejak Anda pensiun. Ceritakan seperti apa Anda menjalani hari-hari Anda.” Dia banyak sekali menggunakan istilah, “Saya ingin mulai”, “Saya akan mulai”, dan “Saya tahu seharusnya saya”. Kenyataannya, walau sudah tiga tahun, dia belum juga melakukannya.

Tanggapan saya, “Anda benar-benar harus mulai mengelola gaya hidup Anda. Seperti apa kesehatan Anda sekarang jika dibandingkan dengan saat baru pensiun.” Kemudian saya diam. Saat dia mulai merenung, dia mulai menyadari fakta bahwa dia tidak tahu mengapa dia pensiun. Karena kehidupannya tidak bertambah baik. Dia kesepian. Dia depresi. Dia sedih. Tak ada orang datang bertamu ke rumahnya. Bayangannya tentang pensiun tak sesuai dengan kenyataan.

Salah satu tindak lanjut saya adalah menghubungkannya ke Candy Stripers, kelompok relawan yang melakukan kegiatannya di sebuah rumah sakit setempat. Ada seorang nasabah saya yang berusia 67 tahun dan merupakan anggota Candy Stripers di rumah sakit tersebut, dan saya memperkenalkannya. Dia benar-benar mendorong wanita tadi untuk ikut, walau hanya untuk tugas kecil seperti memberitahu penjenguk kerabat mereka dirawat di ruang berapa. Wanita itu pun mulai melakukannya. Apakah dia menggunakan potensinya sebagaimana mestinya? Tidak, tetapi setidaknya dia berbuat sesuatu. Kasus-kasus seperti ini yang membuat kita sedih. Kalau sudah telanjur berlarut-larut, mereka tidak bisa meningkatkan kualitas hidupnya.

Namun, cerita itu bisa saya bagikan kepada orang lain. Ini yang saya saksikan terjadi. Seperti ini dampaknya. Narasinya menjadi lebih sahih, tetapi tetap disayangkan karena saya tak bisa memperbaiki 100% kondisinya.

Angelia Shay adalah anggota MDRT selama 20 tahun dari Glen Allen, Virginia. Dengarkan selengkapnya di Podcast MDRT episode “Retirement topics clients and advisors should talk about more” di Resource Zone di mdrt.org.

Kontak: Angelia Shay angie@thepathfinancial.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments