Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Melindungi nasabah yang bekerja di luar negeri

Liz DeCarlo

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Enrilydo Ursal membuka ceruk dengan memprospek tenaga kerja migran.

Foto: Jacob Maentz

NASABAH DATANG MENEMUI Enrilydo Ursal, saat mereka bersiap meninggalkan tanah airnya. “Rata-rata akan pergi ke luar negeri. Saya bilang, perjalanan diawali di sini,” kata Ursal, anggota MDRT selama enam tahun dari Cebu City, Filipina. “Tapi saya juga bilang, sedari awal inilah rencana keluar harus disusun.”

Ceruk pasar Ursal adalah pekerja migran. Ia bermitra dengan sebuah agensi yang menempatkan tenaga kerja Filipina di negara-negara lain. Para pekerja ini direferensikan kepadanya sebelum berangkat ke Qatar, Arab Saudi, Australia, Amerika Serikat, Jepang, atau lokasi-lokasi mancanegara lain yang membutuhkan tenaga kerja profesional dari Filipina. Banyak dari nasabah Ursal merupakan pekerja medis, insinyur, pembuat roti, asisten restoran, dan asisten rumah tangga.

Rata-rata juga tidak punya banyak uang saat meninggalkan Filipina. Mayoritas orang Filipina tidak memiliki rekening tabungan bank dengan saldo yang aman, dan sebelum berangkat ke luar negeri, mereka harus membayar biaya penempatan kerja dan biaya perjalanan. Biasanya, mereka meminjam.

“Mereka tidak punya uang untuk membayar premi awal,” kata Ursal. “Saya tetap menjaga komunikasi, biasanya lewat Facebook. Saya bilang, ‘Kalau sudah pulang, ayo bertemu. Kita awali dengan langkah kecil.’”

Sedikit yang bisa memulai program asuransinya saat meninggalkan tanah air untuk bekerja. “Akan baik jika Anda membangun dana masa depan yang sekaligus menyediakan perlindungan dari risiko kehidupan,” kata Ursal kepada para prospeknya.

Sebelum mereka berangkat, Ursal memberi pendampingan tentang manajemen keuangan. Ia membuka kelas seminar untuk mengajarkan dasar-dasar pengelolaan uang. Ia juga menjelaskan bahwa polis asuransi yang dianjurkannya adalah rencana proteksi dan tabungan, dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari bank. Ia dorong mereka untuk menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan untuk premi asuransi.

Bagi banyak nasabah Ursal, menabung dan menyusun rencana masa depan adalah hal baru. “Kami negara konsumen. Ada mal di hampir setiap sudut kota Cebu. Orang digoda untuk belanja.

“Mereka hidup tanpa memikirkan masa depan. Begitu sayangnya mereka dengan keluarga sampai-sampai, saat pulang kampung, semua uangnya mau diberikan kepada keluarga,” katanya. “Memang tampak murah hati dan peduli. Tapi saya bilang, ‘Kalau Anda bisa di rumah lebih lama bersama keluarga, bukankah hal itu akan membuat Anda lebih bahagia? Mau sampai kapan Anda tidur berteman bantal dan bukan suami atau istri sendiri?’”

Di titik itulah rencana keluar berperan. Mayoritas pekerja migran — 90% menurut estimasi Ursal — ingin pulang dan menetap di Filipina.

Karena berteman di media sosial, Ursal biasanya tahu kapan mereka akan pulang untuk mengunjungi kampung halaman. Ia menjadwalkan pertemuan, dan mendorong mereka untuk mulai menabung demi masa depan melalui polis asuransi jiwa yang dilengkapi fitur tabungan jangka panjang.

“Sekian persen dari uang yang mereka hasilkan dialokasikan untuk kebutuhan mendesak sekarang, dan sekian persen lagi disisihkan untuk masa depan,” katanya. “Impian banyak orang Filipina adalah kembali ke negaranya dan membuka usaha sendiri. Biasanya, mereka berencana membeli apartemen untuk disewakan.”

Ursal membantu para nasabahnya menyusun rencana yang mengalokasikan sebagian penghasilan mereka untuk premi per bulan atau per kuartal, dengan target bisa pulang kampung dan menjadi wirausaha. Karena tingginya permintaan sewa tempat tinggal di Cebu, pulang kampung dan membeli properti, kata Ursal, adalah rencana bisnis yang layak.

“Banyak pencari kerja dari provinsi lain datang ke Cebu,” katanya. “Banyak yang menyewa tempat tinggal, dan bisnis real estat pun berkembang pesat.”

Karena berfokus pada nasabah yang tinggal di luar negeri — dengan zona waktu yang jauh berbeda — Ursal harus menyesuaikan cara kerjanya. “Mereka rata-rata berkabar lewat Facebook, jadi kalau saya tidak tidur, saya pasti cek. Saya tidur sekitar pukul 1 malam, jadi saat mereka butuh, saya masih terjaga,” katanya. “Karena media sosial, mereka langsung bisa menghubungi dan saya mencoba untuk langsung menanggapi.”

Di Cebu, kota tempatnya tinggal, Ursal sudah mulai melebarkan sayap bisnisnya ke segmen pekerja kantor call center. Ia juga terus membangun kemitraan dengan agensi-agensi penempatan tenaga kerja migran lainnya untuk menumbuhkan bisnis.

“Pasar untuk tenaga kerja migran masih sangat luas,” katanya. “Saya rasa mereka butuh inspirasi. Inspirasi untuk berbuat sesuatu yang mungkin tidak langsung terasa manfaatnya, tetapi yang secara otomatis melindungi mereka dari risiko kehidupan. Inspirasi untuk bertemu kembali dengan keluarga selagi mereka masih sehat, bukan saat sudah tua dan lemah.”

Dengan bantuan Ursal, mereka pun lebih berpeluang untuk lebih cepat pulang dan kembali bersama keluarga mereka. “Benar kata pepatah,” kata Ursal. “Walau jauh kaki melangkah, rindu rumah rindu tak terbantah.”

Kontak: Enrilydo Ursal enrilydo.i.ursal@sunlife.com.ph

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments