Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Tegar melalui hal yang tak terduga

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Grant berbagi pelajaran luar biasa dalam mempertahankan bisnis ketika kehidupan pribadi berantakan.

POLISI MILITER PRANCIS memberi tahu Scott Alfred Grant bahwa beredar kabar dirinya menjadi buruan pembunuh bayaran.

Waktu itu tahun 2006, dan sudah lima tahun ini mantan istrinya — setelah kehilangan hak asuh di pengadilan Kanada dan membawa lari anak-anak Grant ke negara asalnya — telah menebar cerita bohong ke wartawan lokal bahwa anggota MDRT selama 19 tahun dari Vancouver, British Columbia, Kanada, ini orang berbahaya.

Sidang internasional yang rumit dan berlarut-larut akhirnya memutuskan di Mahkamah Agung Prancis bahwa Grant dapat membawa kembali anak-anaknya. Tetapi citra Grant telanjur rusak karena cerita bohong itu. Pernah ada seorang wali kota yang begitu takut kepadanya, hingga gemetar saat menyerahkan tiket kereta ke Paris.

Percaya atau tidak, cobaan berat ini mengingatkannya pada prinsip-prinsip di balik asuransi.

“Tak pernah saya duga keadaan ini akan saya alami. Tak pernah saya duga saya diburu pembunuh bayaran. Tak pernah saya duga nama saya disebarluaskan,” kata Grant. “Itu semua sama persis dengan merencanakan dan mengambil asuransi: Ada hal-hal di luar dugaan yang akan terjadi dalam hidup kita. Sebaiknyalah kita selalu bersiap menghadapi yang terburuk, sambil berharap yang terbaik.”

Yang terbaik itu dialami Grant pada musim panas tahun 2001. Untuk pertama kalinya ia menghadiri Pertemuan Tahunan MDRT di Toronto, Ontario, Kanada. Ia menjalin relasi dengan para anggota yang lain dan belajar lebih dalam tentang asuransi disabilitas. Ia bersemangat dan optimis untuk tetap sukses walau sedang menghadapi kasus perceraian yang menggantung.

Lima bulan kemudian, istrinya menelepon dari Prancis, dan mengancam akan melukai dua anak mereka yang masih berusia 5 dan 6 tahun.

“Di situ saya tahu saya harus ke Prancis dan memulai upaya hukum untuk membawa pulang anak-anak,” katanya.

Selain harus mondar-mandir ke luar negeri, Grant juga harus menyediakan waktu dua jam tiap hari untuk kasus itu.

Sementara, karena kasus perceraiannya masih menggantung, aset-asetnya dibekukan, dan ia membayar puluhan ribu dolar untuk biaya hukum, perjalanan, dan sebagainya. Ia harus meraih produksi level MDRT, bukan karena koneksinya dengan organisasi ini tetapi karena uang itu ia butuhkan untuk bertahan hidup.

Setelah kasusnya diketahui publik di Kanada pada 2006, Grant mendapatkan dukungan dari masyarakat lokal. Orang yang membaca berita tentang masalahnya ingin bekerja dengannya. Suatu kali, Grant bertanya kepada seorang agen real estat tentang proses perceraiannya yang berlarut-larut. Agen real estat itu kemudian berkata sudah dua minggu ia tidak bisa bertemu putranya.

Grant, yang hanya bercerita tentang dirinya jika memang relevan dan membuat nasabah lebih tenang, akhirnya mengatakan bahwa ia sendiri sudah 2 1/2 tahun tidak bertemu anak-anaknya setelah dilarikan ibu mereka.

Bukan hanya si prospek ini saja yang menjadi nasabah Grant, tetapi juga semua keluarganya, termasuk delapan saudara dan orang tua mereka.

“Ketika seseorang berkata bahwa mereka sedang menghadapi masalah rumah tangga, saya memahaminya,” kata Grant. “Bisnis saya tumbuh pesat di segmen nasabah yang kuranglebih senasib dengan saya.”

Bagaimana agar bisnis tetap tumbuh positif di tengah-tengah terpaan masalah seperti ini? Berikut beberapa kiat sukses dari Grant:

Mengatur jadwal. Grant lebih memilih menyediakan jam-jam kerjanya di pagi hari untuk mengurus kasusnya sendiri daripada menunggu sampai malam, ketika fisik dan emosinya sudah lelah.

Strategi janji temu. Ia hanya bertemu nasabah pada hari Rabu. Nasabah berasumsi terbatasnya opsi jadwal janji temu ini karena Grant sangat sibuk dan sukses. Pada hari-hari padat pertemuan itu, perhatian Grant teralih dari masalah pribadinya dan ia menemukan momentum untuk terkoneksi dengan para nasabahnya. “Di tahun itu, bisnis saya meroket,” katanya.

Berlatih di Toastmasters. “Saya jadi lebih fasih ketika harus berbicara dengan wartawan dan percaya diri untuk tetap lugas walau dalam tekanan,” katanya. “Semua penasihat perlu belajar di Toastmasters untuk menjadi komunikator yang lebih baik.”

Sikap positif. “Mentor saya berkata, ‘Saat bertemu anak-anakmu suatu hari nanti, kamu mau jadi penasihat yang tegar dan sukses atau pria pemurung, pemarah, dan bangkrut yang dijauhi semua orang?’” kata Grant. “Pertanyaan yang keras, tapi sangat memotivasi saya.”

Iman. “Sebelumnya, saya bukan jemaat gereja yang taat. Tapi, dalam konsep Manusia Seutuhnya, kerohanian adalah aspek yang penting. Saya merasa Tuhan punya alasan untuk ini dan akan terang suatu saat nanti.”

Dikuatkan para Sahabat MDRT. “Banyak dari kita yang saling bertemu tiap tahun pada acara Pertemuan Tahunan, dan sapaan, ‘Apa kabarmu, Bung?’ besar artinya bagi saya bahkan hingga saat ini,” katanya. “Dukungan dari mereka luar biasa.”

Kontak: Scott Alfred Grant scottg@ridgewealth.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments