Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Jalan untuk transisi

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Mitchell mencari panduan pihak luar untuk karyawan baik dengan jabatan yang salah.

TIDAK LAZIM kalau orang justru berterima kasih setelah dipecat.

Tetapi itulah yang terjadi ketika Dana Mitchell, CFP, CLU, melepas seorang anggota staf admin yang telah menjalin hubungan baik dengannya tetapi tidak memiliki perhatian terhadap detail yang cukup untuk mampu menindaklanjuti pertanyaan nasabah.

Mantan stafnya itu tersebut menulis surat ucapan terima kasih kepada Mitchell karena tidak menahannya di posisi yang diakuinya tidak cocok untuknya. “Ia berterima kasih karena saya memintanya untuk menimbang kembali kariernya dan memikirkan hal yang sebetulnya ingin ia lakukan,” kata Mitchell, anggota MDRT selama enam tahun dari Toronto, Ontario, Kanada.

Transisinya berjalan lancar karena Mitchell menggunakan jasa konsultan untuk membantu prosesnya. Ide ini didapatkannya dari seorang anggota MDRT saat menghadiri acara Pertemuan Tahunan.

Pertama, Mitchell mengontak pengacara hubungan kerja perusahaannya untuk mengetahui lebih dalam tentang proses PHK seorang karyawan, dan memahami besaran uang pisah yang pantas. Pengacara tersebut lantas memberikannya daftar konsultan yang bisa membantu secara profesional. Ia kemudian menelepon beberapa di antaranya, bertanya tentang jasa mereka, menyeleksinya dengan teliti sebelum akhirnya memilih satu.

“Relasi dengan anggota staf penting bagi saya,” kata Mitchell, “jadi kalau saya investasikan uang untuk membayar konsultan, saya harus pastikan dia orang yang tepat.”

Konsultan tersebut kemudian membantu di pertemuan awal selama dua jam untuk membahas proses PHK. Lalu mendampingi staf tersebut selama lima jam kerja untuk menyempurnakan resumenya dan membahas beberapa peluang kerja untuk orang yang memiliki gelar sarjana bisnis.

“Saya rasa orang bisa kewalahan untuk menentukan dengan pasti ke mana harus melangkah,” kata Mitchell. “Belum pernah ada orang yang memberitahunya, ‘Kalau minatmu di bidang ini, kamu mulainya dari sini.’”

Proses ini membantu memberikan batu pijakan untuk beranjak dari masalah yang dialaminya di kantor. Mantan stafnya itu warga kota kecil dengan watak berpikir umum, dan dia sulit beradaptasi dengan kota besar dan aspek-aspek mendetail dari jabatannya. Dengan pendampingan dari konsultan, dia akhirnya memutuskan untuk tidak hanya angkat kaki dari kota itu tetapi juga dari industri jasa keuangan, dan berpindah ke sektor industri yang sifatnya lebih transaksional.

Dari pengalaman ini, Mitchell, yang dibantu delapan orang staf (termasuk staf aktuaria dan spesialis investasi di bidang retainer) dan berspesialisasi untuk perencanaan keuangan lengkap bagi segmen pengusaha, belajar beberapa hal:

Tidak semua skill bisa diajarkan. Mitchell sempat berpikir karyawannya ini akan mampu mengemban tugasnya dengan baik dan kesalahan yang terjadi hanya bagian dari proses belajarnya saja. Setelah dua tahun dan tak kunjung berkembang, jelaslah bahwa duduk perkaranya adalah ketidakcocokan tugas dengan orangnya, bukan jumlah waktu yang diberikan untuk menyesuaikan diri.

Daripada menunda, lebih baik bertindak. Tanpa bantuan konsultan, kata Mitchell, ia mungkin akan mempertahankan stafnya itu, dan hal ini dapat membahayakan efisiensi dan semangat kerja tim karena staf lain harus memeriksa hasil kerja orang itu. Satu keluhan dari nasabah atau satu orang staf yang keluar saja cukup untuk memicu perubahan, kata Mitchell. Dengan adanya nasihat dari konsultan, jelaslah bahwa ada solusi yang lebih baik. “Anda berusaha sebaik mungkin saat merekrut, tapi jika ternyata tak cocok, lebih baik dilepas daripada ditahan-tahan hanya karena alasan hubungan baik. Ini baik bagi perusahaan, baik pula bagi Anda sendiri.”

Ada peluang untuk menata ulang. Selama 15 tahun berbisnis, Mitchell baru sekali ini melepas anggota stafnya. Namun, situasi ini justru membuka peluang untuk menata ulang struktur perusahaannya (dengan bantuan konsultan yang sama) sehingga tiap staf bisa fokus mengawaki satu aspek pekerjaan saja. Karena itu, daripada membebani satu orang tenaga admin dengan banyak komponen layanan, kini nasabah tahu siapa yang menangani soal asuransi dan siapa soal investasi. Dengan sistem ini, praktik Mitchell dapat menghindari kemacetan komunikasi atau masalah yang timbul karena anggota staf menangani bidang yang tidak dikuasainya.

Memecat bukan berarti gagal. “Ada beberapa nasabah saya yang sering melepas stafnya dan saya berpikir itu tanda bahwa ada yang salah dengan sistem perekrutan mereka,” kata Mitchell. “Mereka sebetulnya hanya proaktif untuk melihat apakah seseorang itu bisa dilatih atau tidak, dan satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah dengan memberi kesempatan bekerja. Hubungan baik yang selama ini terjalin dihargai bukan dengan menahan mereka, tetapi dengan melepas dan membantu mereka melangkah ke titik berikutnya.”

Kontak: Dana Mitchell dana@basiswealth.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments