Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Mencari jalan tengah saat suami-istri beda pendapat

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Saat suami-istri beda pendapat soal rencana keuangan, penasihat bisa berada dalam posisi sulit. Tapi ada cara praktis untuk menengahi.

MUNGKIN orang-orang di dalam satu keluarga berbeda cara dalam memandang pengeluaran. Mungkin pemahaman mereka atas presentasi Anda tidak seragam. Yang mana pun itu, jika nasabah berselisih paham bagaimana Anda mengendalikan percakapannya?

Pada sesi rekaman Podcast MDRT baru-baru ini, para anggota berbagi strategi untuk mengendalikan situasi seperti ini dan memastikan semua orang bisa seiya-sekata.

Brandon Green, ChFC, CLU, anggota 10 tahun dari Houston, Texas: anggota 10 tahun dari Houston, Texas: Dulu, kita diajarkan konsep ping-pong. Saat si suami beda pendapat dari si istri, kalau bolanya sudah bolak-balik tiga atau empat kali, itu berarti Anda sudah kehilangan kendali. Saya pernah menghadapi suami-istri yang berselisih paham tentang jumlah uang pertanggungan. Akhirnya saya menyela dengan berkata, “Boleh saya bertanya?” Nasabah bilang, “Oh, jadi sekarang Anda konselor pernikahan?” Saya jawab, “Tidak, tapi kalau boleh, izinkan saya berbicara dengan istri Anda. Sepertinya saya bisa menyelesaikan masalah ini untuk Anda.” Dia tersenyum dan berkata, “Boleh, silakan.”

Saya berpaling ke si istri dan bertanya, “Bagaimana kalau jumlah pertanggungannya X?” Dia menjawab, “Saya hanya ingin memastikan saya akan baik-baik saja nanti.” “Bagaimana kalau jumlah pertanggungannya Y?” Dan kami teruskan proses melipat-gandakan jumlah pertanggungannya, tetapi jawabannya terus sama. Saya kembali ke si suami dan berkata, “Bilang pada istri Anda, dia akan baik-baik saja.” Si suami berkata kepada istrinya, “Sayang, dengan aset dan pertanggungan lain yang kita punya sekarang, jumlah yang ini sudah cukup. Sayang akan baik-baik saja.” Dan si istri lantas membalas, “Kalau begitu, baiklah.”

Dana Mitchell, CLU, CFP, five-year member from Toronto, Ontario, Canada: anggota lima tahun dari Toronto, Ontario, Kanada: Rata-rata perdebatan suami-istri yang saya lihat berkisar pada isu jumlah biaya yang diperlukan untuk kebutuhan rumah tangga. Yang satu mungkin menanggap jumlahnya sekian, dan yang lain beranggapan sekian. Saya rasa kadang mereka tidak sepaham tentang gambaran besarnya. Dan itulah sumber perdebatan “Oh, pertanggungannya tidak perlu sebesar itu” atau “Harusnya justru lebih besar lagi”.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, saat menyusun rencana awal, kita perlu menghitung anggaran mereka supaya tahu berapa pengeluarannya. Kita bisa merujuk kembali ke hasil analisis anggaran dan berkata, “Kita sudah menghitung anggarannya waktu menyusun rencana akumulasi harta Anda; ini angkanya saat ini, dan ini porsi yang ingin Anda tabungkan. Kalau nilai pertanggungan asuransinya X, berarti kita perlu memangkas anggaran ini. Sekarang baiknya kita duduk bersama, membahasnya dengan baik-baik, dan memangkas anggarannya supaya jelas jumlah pertanggungannya sudah tepat atau belum.”

Bila Anda menyajikan angka-angkanya, perdebatan akan reda dan perhatian mereka kembali terpusat pada apa yang dibutuhkan dan mana yang perlu dikurangi. Baru orang bisa bicara soal hal-hal yang nyata. Karena kalau soal memangkas jumlahnya jadi setengah, di atas kertas itu bisa saja terjadi, tapi apa arti tindakan pada kenyataannya? Apakah pasangan tersebut sama-sama memahaminya?

Everett Revere Foxx, anggota lima tahun dari Glen Allen, Virginia: Saya rasa yang dikatakan Brandon ada benarnya. Mereka tidak sama-sama memahami tujuan besar dari rencana yang akan diambil. Jadi saya biasanya akan bertanya, “Di titik ini, apa yang menurut Anda paling penting? Karena mungkin saya atau pasangan Anda belum paham apa yang menurut Anda paling penting.”

Saya tidak tahu, sikap seperti itu membuat saya jadi seperti konselorpernikahan atau tidak. Saya rasa mereka cuma ingin saling mengerti tentang tujuan mereka bersama. Lalu saya akan memediasi diskusinya, tapi begitu pun, kalau ingin sampai di titik yang sama, kita mungkin memang perlu sedikit berkompromi agar semua pihak puas.

Green: Awal-awal terjun di bisnis ini, saya lihat peran sebagian besar penasihat lebih seperti polisi. “Lakukan ini. Kalau tidak, nanti akan begini.” Pelan-pelan kita beranjak dari sikap tersebut ke sikap seorang pelatih, dan pada akhirnya seorang konsultan. Intinya, makin tinggi jam terbang, makin kita paham kapan kita mainkan peran-peran tersebut. Situasinya bisa berbeda-beda, dan kadang ketiga peran itu perlu kita mainkan dalam pertemuan yang sama.

Dengarkan perbincangan selengkapnya di mdrt.org/podcast

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments