Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Kisah Nyata asuransi pada praktiknya

Michael Bibb, BA, Dip PFS

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Nasabah menyesali keputusan untuk tidak ikut saran penasihatnya

MEREKA DAHULU DIREFEREN-SIKAN nasabah lain, dan kami menawarkan asuransi jiwa saja karena mereka tidak begitu percaya asuransi. Seolah mereka akan hidup selamanya. Seolah mereka kebal saja. Dan mereka tak mau dihubungi lagi karena tidak benar-benar percaya. Mereka nakhoda atas biduk takdirnya sendiri.

Dua tahun kemudian di sebuah SPBU, saya melihat si istri. Dia terpaksa bekerja karena suaminya terserang stroke. Emosi saya seperti diaduk-aduk karena dia berkata, “Michael, seandainya dulu kami mendengar nasihatmu.” Sekarang pun saya masih sulit untuk rela karena mudah sekali merasa bahwa yang salah tetaplah kita. Sudah jadi tugas kita untuk membantu. Kita punya jiwa peduli, dan jika prospek tidak mengambil rekomendasi kita, agaknya kita tetap punya salah di situ.

Tapi pelajaran terbesarnya ada pada kata-kata, “Seandainya dulu kami mendengar nasihatmu.” Tak bisa saya sangkal, saya pun berharap kalau saja mereka bisa mendengar kata-kata saya, atau kalau saja di pertemuan tersebut saya memakai strategi yang berbeda. Tapi ujung-ujungnya, mereka jugalah yang memutuskan untuk yakin bahwa mereka tidak membutuhkannya. Dan kini si istri bekerja malam hari di SPBU demi mencoba mempertahankan kualitas kehidupan yang sama seperti sebelumnya. Itulah konsekuensi saat risiko terjadi.

Kita tahu bagaimana baiknya, tetapi yang terpenting adalah nasabah tahu bagaimana baiknya dan bahwa mereka punya perlindungan demi kebaikannya sendiri. Agar tak pernah lagi kita bertemu wanita paruh baya yang terpaksa bekerja paruh-waktu di SPBU sekadar demi bertahan hidup.

Kita membiarkan nasabah berbicara 80% dari waktu yang ada. Mereka mengidentifikasi bagaimana baiknya. Mereka juga melihat apa hambatannya, dan tentu saja hilangnya kondisi sehat dan hilangnya penghasilan adalah bagian dari hambatan tersebut. Ini yang menjernihkan pandangan mereka.

Contohnya, apakah Anda mau seperti wanita paruh baya yang bekerja di SPBU itu? Kalau tidak, sekaranglah waktunya bertindak. Tapi semua kembali pada visi mereka sendiri. Karena hambatan tersebut mereka sendiri pula yang mengalami. Kita adalah fasilitator yang menjembatani antara mereka dan kehidupan yang mereka inginkan sekaligus kehidupan yang tidak mereka inginkan.

Michael Bibb, BA, Dip PFS, adalah anggota MDRT lima tahun dari Warwick, Inggris. Hubungi Bibb di michael@carpediem.com.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments