Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Transisi sukses

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Presiden MDRT 2019 Regina Bedoya sukses menyeimbangkan suka cita dan tantangan.
JASON NUTTLE

PADA 2006, seorang nasabah datang bertemu Regina Bedoya, ChFC, CLU, risau resah dengan kehancuran rumah-tangga dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Selama empat pertemuan pertama, nasabah ini melulu menyalahkan suami yang segera akan diceraikannya itu atas semua kesedihan yang menimpanya.

Tapi dengan dukungan dari Bedoya, anggota MDRT 26 tahun dari Juno Beach, Florida, dan Presiden MDRT 2020, nasabah tadi (yang belum pernah bekerja) dalam waktu setahun tidak hanya mendapatkan pekerjaan tetapi juga sukses di profesi barunya dan akhirnya menemukan tambatan hati yang baru.

“Yang membuat saya terkesima adalah semangat kuatnya untuk beranjak dari kondisi putus harapan. Kadang yang kita butuhkan hanyalah orang yang peduli, dan kita bisa bangkit menghadapi dunia lagi,” kata Bedoya. “Saya sering menganggapnya sebagai salah satu panutan karena saya sudah melihat dia dalam kondisi terburuk, dan ternyata mampu keluar menyongsong akhir yang bahagia.”

Cerita ini bukan satu-satunya pengalaman Bedoya membantu nasabah pulih dari keadaan tak terduga. Bersama dua anggota stafnya dan dengan 350 nasabah yang tersebar di Florida serta Georgia, praktiknya fokus pada segmen nasabah yang disebutnya “perempuan di masa transisi.” Kerap kasusnya berkaitan dengan perceraian (walau kadang juga ditinggal mati pasangan atau beralih ke masa pensiun) dan butuh bantuan untuk menyusun dan mewujudkan rencana finansial di tengah masa-masa penuh cobaan emosional.

Saya suka sekali mengunjungi anggota kita di tempat asalnya. Mereka tampak lebih ‘hidup’ saat di negaranya sendiri, dan ada semacam semangat murah hati tersendiri terhadap MDRT.

Sedianya, bukan itu rencana awal Bedoya. Ketika Bedoya, yang lahir di Michigan dan dibesarkan di Paraguay, mulai terjun di bisnis ini, ia fokus pada segmen nasabah yang ingin membangun aset dan menyiapkan masa pensiun. Baru setelah mengalami perceraian di tahun 2001, ia menyadari bahwa orang yang melalui fase yang dilaluinya itu membutuhkan seorang ‘advokat’ yang mampu memberikan dukungan dari segi finansial dan emosional.

“Awalnya seperti, ‘Mungkin fokusnya yang ini.’ Tapi kemudian berhenti di pikiran saja,” kenang Bedoya. “Lalu bisikannya jadi lebih lantang, dan akhirnya berubah menjadi desakan kuat. ‘Kerjakan yang ini. Ini tujuanmu yang sejati.’

“Makin saya lakukan, makin saya kuat. Dan makin bahagia, karena saya sadar kita tidak perlu terpaku pada kejadian yang menimpa kita, dan kejadian itu justru bisa menjadi pemicu hal yang lebih baik.”

Kata kekuatan muncul beberapa kali ketika kami berbincang dengan Bedoya. Ia mengaitkan kata itu dengan dua operasi bedah otak yang dijalaninya delapan tahun setelahnya. Selama masa perawatan, ia merasa telah menyerap sikap tegar yang kerap ia saksikan pada nasabah-nasabahnya.

“Wanita-wanita ini mengajarkan kepada saya bahwa sengsara bukan berarti kegagalan, tapi ujian untuk menempa kita,” katanya. “Jadi saat menghadapi cobaan hidup, bagi saya mudah saja, karena saya yakin setiap cobaan pasti ada jalan keluarnya.”

SEPERTI RATA-RATA PENASIHAT LAIN, Presiden MDRT yang baru ini tidak sestabil dan sepasti itu di awal-awal kariernya. Nyalinya ciut saat menghadiri Pertemuan Tahunan pertamanya di Dallas, Texas, pada 1994. Presiden kala itu Lyle L. Blessman, anggota MDRT 56 tahun dari Denver, Colorado, naik ke atas Panggung Utama mengenakan topi koboi, menunggangi kuda putih.

“Kalau waktu itu ada orang yang bilang ke saya, ‘Suatu hari kamu akan jadi Presiden MDRT,’ saya pasti berpikir, ‘Mungkin kamu sudah gila,’” kata Bedoya. “Saya pikir yang bisa jadi Presiden MDRT hanya-lah producer besar dengan 100 orang staf. Dan pasti laki-laki. Saat itu, MDRT belum pernah punya presiden perempuan.”

(Sebelas tahun kemudian, Adelia C. Chung, CLU, ChFC, anggota MDRT 37 tahun dari Honolulu, Hawaii, menjadi Presiden MDRT perempuan pertama.) Namun, di pertemuan itu Bedoya sendiri juga merasa tersentuh dan kagum dengan berbagai ide yang didengarnya serta komitmen para anggota untuk membantu nasabah mereka. “Hati saya tersentuh dan di perjalanan balik menuju bandara saya menitikkan air mata,” katanya.

Untuk pidatonya sebagai Presiden periode selanjutnya di Pertemuan Tahunan tahun ini di Miami Beach, Florida, ia awalnya tidak berencana untuk menyinggung perceraiannya. Tapi Bedoya tergerak untuk mengungkapkan itu dalam pidato tersebut karena merasa cerita itu bisa membantu para anggota untuk mengenal siapa dirinya dan apa pelajaran hidup yang telah dipetiknya, ketimbang hanya fokus pada praktik bisnisnya saja.

“Tugas saya menginspirasi anggota untuk bergiat di asosiasi kita, untuk berkontribusi, saling melayani, dan berbagi cerita tentang diri kita dengan sesama anggota,” kata Bedoya. “Sepatutnya saya memberikan contoh. Intinya, jujur dengan aspek manusiawi kita.”

Wanita-wanita ini mengajarkan kepada saya bahwa sengsara bukan berarti kegagalan, tapi ujian untuk menempa kita. Jadi saat menghadapi cobaan hidup, bagi saya mudah saja, karena saya yakin setiap cobaan pasti ada jalan keluarnya.

Sebelumnya Bedoya tidak pernah menyinggung perceraiannya di hadapan publik. Ia telah memutuskan untuk beranjak maju dari titik itu dan menatap ke depan saja. Dan walau terpaku pada masa lalu bukanlah pilihan yang diambilnya, ia setuju untuk berbagi cerita tentang masa-masa sukarnya, dengan harapan bisa membantu orang lain untuk melangkah maju.

Kini ia tidak lagi berlarut-larut memikirkan perceraiannya atau tumor otak yang dahulu dideritanya atau insiden medis (termasuk operasi bedah jantung) yang pernah dialami putra-putranya. “Kalau orang tanya, ‘Kesehatanmu bagaimana?’” kata Bedoya. “Saya langsung jawab, ‘Bagus! Kenapa tanya?’”

Tapi berbicara untuk pertama kalinya tentang perubahan hidup yang memicunya untuk memfokuskan kembali pangsa pasarnya, Bedoya menunjukkan kemampuannya untuk memanfaatkan kekuatan, empati, kejujuran, dan kemenangan sekaligus.

“Saya bisa saja memilih menyalahkan orang lain atas kondisi saya, atau saya bisa memilih berani dan memaafkan dan mengasihi – mengasihi diri sendiri dan kasih tanpa syarat bagi orang yang bersandar pada saya,” katanya. “Saya puas menyaksikan transformasi sikap nasabah-nasabah saya atas kehidupan mereka: beranjak dari rasa tertindas dan putus asa ke titik berdaya dan bersemangat menghadapi berbagai kemungkinan.”

BEDOYA tidak bercita-cita menjadi penasihat keuangan; ia memulai kariernya di dunia perbankan. Tetapi pertemuannya dengan Charlie Smith, direktur pelaksana di Prudential, mengubah segalanya.

“Ia lambang ideal pemimpin idaman. Ia tahu betul alasan yang mendasari setiap perbuatannya – menjadikan hidup manusia lain lebih baik,” katanya. “Ia selalu memantau pekerjaan kami. Kalau saya merasa bingung, ia bantu menjelaskan. Walau tidak harus, ia tetap meluangkan waktu di hari Sabtu untuk melatih kami.

“Tidak jarang, sampai dua kali. Ia mendampingi kami sampai semua fase pelatihan selesai, lalu mengulanginya lagi. Ia bilang, ‘Kalau sudah dengar dua kali, kalian akan tahu dan mengingatnya.’”

Praktik Bedoya sendiri sarat akan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Smith. Malah, tidak lama sebelum wawancaranya untuk artikel ini, Bedoya bertemu seorang nasabah baru yang masih berupaya pulih setelah tiga tahun bercerai. Sebagian besar waktu pertemuan diisi perbincangan mengenai keluarga nasabah, pelajaran yang didapat dari orang tua mengenai uang, dan hal yang ingin diwariskan untuk anak-anaknya. Mereka juga membahas rencana mewujudkan mimpi si nasabah untuk menjadi seorang life coach.

“Setelah 90 menit, jadwal memaksa saya untuk mengakhiri pertemuan; dia ingin berbincang lebih lama karena dia sudah banyak bertemu penasihat lain dan merasa, ‘Ini kali pertama ada penasihat yang bertanya tentang keluarga saya dan hal yang ingin saya raih dalam hidup ini, bukan hanya, ‘Bisa tunjukkan laporan detail dari semua investasi Anda?’ cuma supaya bisa mereka bongkar dan tawarkan yang baru,” katanya.

KEPEDULIAN begitu dalam terpatri dalam diri Bedoya, yang merupakan ibu dari empat anak dan nenek dari tujuh cucu. Ia sulung dari sembilan bersaudara dan putri dari seorang ayah yang masih menjalankan praktik sebagai dokter di usia 93 tahun (“pasien menolak berobat ke dokter lain”) dan seorang ibu yang, menurutnya, “tulus dan penuh kasih sayang pada orang-orang yang dicintai.”

Pentingnya hubungan tentu merupakan salah satu fokus utama MDRT, bukan hanya hubungan dengan nasabah tetapi juga dengan sesama anggota. Bersama rekan-rekan anggota MDRT, Bedoya telah menikmati mentari pagi di Singapura, berbelanja di Hong Kong, mengunjungi spa di Jakarta, berwisata kuliner unik di Bangkok, dan menitikkan air mata mendengar kisah seorang ibu tentang putranya di MDRT Day di Korea. Itu semua bagian dari jangkauan global Komite Eksekutif dalam mendukung dan menautkan para anggota MDRT di seluruh dunia yang jumlahnya kian hari kian bertambah.

“Saya suka sekali mengunjungi anggota kita di tempat asalnya. Mereka tampak lebih ‘hidup’ di negaranya sendiri, dan ada semacam semangat murah hati tersendiri terhadap MDRT,” katanya. “Kita semua ingin hal yang sama: melayani nasabah, bekerja sebaik mungkin, melindungi keluarga, dan menyediakan sumber daya kehidupan yang baik bagi sesama.”

Inisiatif Komite Eksekutif

MENJADI PRESIDEN MDRT berarti memimpin Komite Eksekutif melaksanakan serangkaian prioritas utama bagi organisasi. Bagi Bedoya, prioritas ini meliputi:

  • Terus menyempurnakan Program Mentoring MDRT guna memastikan MDRT dapat dengan mudah mengidentifikasi anggota yang ingin menjadi mentor dan anggota yang membutuhkan mentor. Termasuk di dalam upaya ini: pembuatan perangkat lunak yang memfasilitasi proses pencocokan tim mentoring, yang rencananya akan diluncurkan di kuartal keempat 2019. Program tersebut mencakup mentoring antar-anggota, selain mentoring antara anggota dan non-anggota.
  • Merampungkan rencana strategis Top of the Table, yang bertujuan untuk menyelaraskan tawaran dengan kebutuhan dan keinginan para anggota Top of the Table – proposisi nilai yang meningkatkan kualitas acara pertemuan Top of the Table.
  • Fokus pada upaya menambah jumlah anggota dan penyampaian lebih banyak konten untuk kawasan Amerika Latin.
  • Untuk para anggota di Asia, terus memajukan upaya untuk memberikan layanan dan sumber materi berbahasa lokal serta manfaat khusus yang mencerminkan tahap karier yang ditapaki serta kesempatan bisnis yang dihadapi.

Sebagai bagian dari Komite Eksekutif, Bedoya bangga menjadi pemikir mandiri yang menjaga fokus pada manfaat maksimal bagi para anggota. Sebagai Presiden, ia mengakui bahwa kualitas para anggota lebih penting dari kuantitasnya. Ia hendak mendukung para anggota lama dan menarik anggota baru lewat nilai-nilai integritas dan kesempurnaan kerja, serta filosofi Manusia Seutuhnya, yang tak lekang oleh waktu.

Di kehidupan pribadinya, Bedoya mengunjungi saudari-saudari kandung dan ayahnya paling tidak setahun sekali di Amerika Selatan dan empat anaknya (yang tersebar di Amerika Serikat di New York, Michigan, Pennsylvania, dan Florida) sedikitnya dua bulan sekali. Ia juga melayani di dewan gerejanya dan ikut serta dalam sebuah grup studi bersama empat anggota perempuan MDRT lainnya. Grup ini bernama MAIA, diambil dari nama dewi pertumbuhan Yunani.

Nama ini cocok dan ada beberapa alasannya. Pertama, tingginya titik capaian yang telah diraih Bedoya, dari melihat-lihat kantor asuransi kakeknya di Paraguay saat berusia 10 tahun, dari awal-mula kariernya, dan dari cobaan hidup pribadi ke kesuksesan dan kemampuan untuk berdikari. Mungkin tidak mengejutkan kalau di kantornya, Bedoya tidak punya meja kerja yang biasa.

Pertemuan dengan nasabah berlangsung di tempat yang lebih ramah, tempat yang melambangkan perubahan dan perkembangan abadi: sebuah meja bundar.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments