Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Presiden Yayasan MDRT 2020

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Bagi Tarpey, relasi dan kerja tim adalah kunci kedermawanan.

PRIA ITU sudah menginjak usia 80an dan tinggal di kawasan Appalachia, Kentucky, yang miskin. Ia tumbuh sebagai pekerja tambang batu bara, minim pendidikan atau akses layanan kesehatan, dan hari itu atap rumahnya diperbaiki, dinding rumahnya dicat oleh para anggota gereja kampus mahasiswa Universitas Fordham. Tapi Brian G. Tarpey, kala itu hampir berusia 21 dan pertama kali menjadi relawan, masih ingat betapa dalam rasa syukur dan bahagia yang dialami pria itu.

“Bukan karena kami melayaninya di sana tetapi karena ia bisa menghabiskan waktu bersama kami dan berkisah tentang hidupnya,” kata Tarpey, anggota MDRT 16 tahun dari Fairfield, New Jersey, dan Presiden Yayasan MDRT 2020.

“Ada sesuatu yang menggelitik saya lewat senyum dan tatap matanya, seolah ia tahu sesuatu yang tidak kami tahu,” kata Tarpey. “Sekarang, saya rasa saya paham pesan yang coba ia sampaikan lewat sorot matanya dulu: bahwa hidup ini berarti karena hubungan dan waktu luang yang kita nikmati bersama orang yang kita cintai, kita sayangi, dan yang bekerja dengan kita. Itulah karunia terbaik dan harta sejati dari hidup ini.”

Semua yang tampak seperti masalah berat dalam hidup saya jadi ringan saat saya melayani.

Berpuluh-puluh tahun setelahnya, Tarpey mengakui betapa Yayasan MDRT telah membantunya menemukan kembali pelajaran yang dipetiknya dari pengalaman di Pegunungan Applachia, yang sempat hilang saat ia “mulai mengejar uang dan kesuksesan karier, karena menyangka itulah jawabannya.”

Perubahan tersebut mulai terjadi di tahun 2003 saat Tarpey pertama kali menghadiri Pertemuan Tahunan MDRT. Ia mendengar seorang pembicara bercerita tentang “mengapa” kita bekerja di profesi jasa keuangan. Tarpey juga mengunjungi bilik Yayasan MDRT di pertemuan itu, titik awal dari 15 tahun keterlibatannya bersama organisasi ini, yang meliputi kerja sebagai relawan di berbagai komite, menyumbang donasi pribadi, dan mengajukan permohonan hibah untuk lembaga lokal.

Salah satunya Spectrum360, yang melayani 350 anak yang mengalami kesulitan belajar, autisme, dan masalah perkembangan dan fisik lainnya. Hibah lain yang diperolehnya dilimpahkan ke Covenant House, yang menerima dana bagi para pemuda tuna wisma di New York City.

“Sungguh menggugah kalau Anda lihat hasil yang diberikan sekolah-sekolah ini kepada banyak keluarga,” kata Tarpey. “Bisa ikut mendukung upaya tersebut adalah hak istimewa luar biasa yang telah diberikan Yayasan kepada saya. Semua yang tampak seperti masalah berat di hidup saya, jadi ringan saat saya melayani.”

Tarpey tahu bahwa kedermawanan tidak selalu menjadi misinya. Ia tumbuh besar bersama delapan saudara kandung dan menyaksikan ibunya terpaksa menjual rumah setelah ayahnya wafat, meninggalkan dua cicilan utang dan tanpa asuransi. Ia lebih bertekad menjadi tiang keluarga yang kokoh, bukan penderma, dan memulai karier dengan menjual asuransi kesehatan ke berbagai perusahaan.

“Yang saya kejar cuma jaring pengaman finansial untuk saya dan istri, dan kami tahu kami ingin punya anak,” katanya.

Tapi MDRT dan Yayasan MDRT membuka pikiran Tarpey melalui berbagai proyek edukasi, komunitas, dan layanan amal. Tarpey ikut The Million Meal Challenge selama Pertemuan Tahunan 2010 di Vancouver, di mana ia mencurahkan empat jam membongkar berkarung-karung beras, dan bekerja bersama Soles4Souls pada 2014, menyediakan sepatu bagi komunitas kawasan timur laut Amerika Serikat yang porak-poranda akibat Topan Sandy.

Tarpey sekarang sudah terbiasa dengan sumbangsih semacam itu. Ia memahami dampak dari tiap pilihan yang diambil, baik itu perencanaan keuangan yang bisa melindungi keluarga atau bercerita soal pekerjaan kepada putrinya, yang kini bekerja di kantornya setelah lulus dari Cornell University.

“Saat usianya 10 tahun, dia melihat saya membaca dokumen permohonan hibah dan bertanya mengapa saya menangis,” katanya. “Saya kemudian menjelaskannya, dan sekarang dia bergabung bersama praktik konsultasi SDM kami, dengan fokus membawa kebijakan publik untuk memperdalam perubahan sosial di Amerika yang sarat akan nada korporat ini.”

Layaknya suami yang baik, Tarpey memuji istrinya, Penny, sebagai pendukung sejati yang membentuk wataknya kini, dan juga Dewan, staf, serta relawan Yayasan MDRT sebagai penggerak utama yang mengembangkan organisasi ini. Sebagai Presiden Yayasan, ia bertekad melanjutkan upaya integrasi program hibah Yayasan dengan penyediaan kesempatan untuk melayani dan menciptakan dampak sosial.

“Yayasan tengah menjalani perubahan dalam hal cara untuk memadukan keduanya,” katanya. “Salah satu hal yang kita amati adalah bahwa para anggota muda kita punya iktikad kuat untuk berkontribusi dengan kesadaran sosial mereka secara signifikan dan berdampak luas bagi masyarakat di seluruh dunia.

“Itulah evolusi dari visi kita, dan peran saya adalah mengawali dialognya dan mungkin juga menerangi beberapa langkah pertama menuju visi tersebut.”

KONTAK: Brian Tarpey btarpey@tarpeygroup.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments