Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

10 cara menyempurnakan perekrutan

Kate Zabriskie

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Perhatikan kesesuaian calon karyawan dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Andai saja kami tahu dari dulu.
Dia bukan orang yang perhatian pada detail,
padahal tugasnya repetitif.
Dia orang kreatif. Dia bosan, dan mau hengkang.
Andai saja kami punya ruang untuk
bakat yang dia miliki.

Saya sungguh tidak paham.
Saat wawancara, dia bagus sekali.
Tapi setelah enam bulan, tampak jelas
dia bukan pilihan yang pantas.

ENCARI ORANG YANG TEPAT untuk sebuah posisi itu setengah seni setengah sains. Walau ada orang yang tampak berbakat dalam mencari kandidat terbaik, kita semua bisa belajar dengan mengikuti proses langkah-demi-langkah berikut ini.

Tahu apa yang Anda mau

Pertama-tama, bayangkan dahulu seperti apa kerja orang baru ini. Apa yang akan dia kerjakan? Seperti apa interaksinya dengan rekan sejawat? Apa ekspektasi Anda terkait kualitas dan kuantitas kerjanya? Perangai macam apa yang paling cocok? Apakah butuh jiwa kreatif? Apakah pekerjaannya sama setiap hari? Jika dia akan berinteraksi dengan orang selain Anda, siapa mereka dan apa yang mereka mau dari rekrutan baru ini?

Susun uraian kerja yang jernih

Bila sudah tahu jenis orang yang Anda mau, waktunya menyusun uraian kerja. Saat menyusun tugas-tugas yang akan dilaksanakan, awali tiap kalimat dengan kata kerja dan tulis dalam bahasa sederhana. Dengan begitu, Anda mengukuhkan ekspektasi Anda.

Pikirkan syarat yang perlu dipenuhi agar lolos seleksi

Pengalaman dan pendidikan sangat penting agar berhasil di sebagian jenis pekerjaan. Namun untuk sebagian lain, tidak. Kalau pendidikan bukan syarat mutlak, mencantumkannya sebagai syarat wajib justru akan mengecualikan calon pelamar yang mungkin Anda cari. Persyaratan bisa memperlebar atau mempersempit lingkup pelamar — sehingga mungkin akan memperkecil peluang Anda untuk menemukan orang yang tepat. Pikirkan matang-matang mana syarat yang bersifat esensial sebelum lanjut ke langkah berikutnya.

Buat iklan lowker yang atraktif

Seperti pelamar yang mempromosikan dirinya, Anda pun mempromosikan perusahaan dan lowongan yang tersedia. Iklan adalah kesempatan Anda menarik perhatian pelamar berbakat. Baik menggunakan jasa perekrut eksternal ataupun merekrut sendiri, curahkan waktu untuk menentukan nama jabatan, menarasikan latar belakang perusahaan, dan menguraikan singkat syarat-syarat wajibnya. Sertakan informasi tentang lokasi kerja dan manfaat karyawan, atau ada poin-poin plus lainnya. Iklan Anda adalah visualisasi ringkas tentang mengapa perusahaan Anda atraktif, apa yang Anda cari, dan mengapa bekerja dengan Anda itu pilihan hebat.

Promosikan jabatannya

Jenis posisi yang ingin Anda isi menentukan di mana Anda akan mempromosikannya. Ada banyak opsi yang tersedia. Terlepas dari yang mana pun yang Anda pilih, rencanakan dan pahami cara kerja tiap jalur promosinya.

Reka pertanyaan seleksi

Di samping menyusun iklan dan mempromosikan posisinya, Anda perlu membuat daftar pertanyaan untuk menyaring para kandidat dan mewawancarai mereka yang Anda pilih untuk temui. Langkah ini penting dan ada beberapa alasannya. Pertama, prosesnya bisa diulang. Kedua, pewawancara punya panduan pertanyaan yang relevan dan sah. Terakhir, Anda memastikan sikap adil dan mengumpulkan jawaban yang dapat dibandingkan dengan relatif mudah.

Evaluasi kandidat dan atur jadwal wawancara telepon

Begitu iklan ditutup, waktunya mempelajari kualifikasi pelamar yang memenuhi kriteria Anda dan mengatur jadwal seleksi. Tergantung jumlah lamarannya, Anda mungkin perlu menyaring semua pelamar atau menyusun peringkat kandidat dan menyeleksi peringkat teratas saja. Yang mana pun itu, pastikan Anda mewawancarai pelamar lewat telepon sebelum bertemu langsung. Wawancara telepon ada beberapa manfaatnya. Anda bisa mendapatkan kesan awal tentang pelamar tanpa harus dipengaruhi penampilan fisiknya. Wawancara ini juga efektif untuk mengajukan beberapa pertanyaan dasar.

Tentukan kandidat undangan wawancara langsung, dan persiapkan tim pewawancara Anda

Setelah proses penyaringan rampung, waktunya mempersiapkan tim pewawancara dan mengundang kandidat untuk datang ke kantor. Persiapan itu penting. Anda dan calon karyawan sama-sama menjalani audisi. Tim pewawancara Anda harus solid. Bahas cara menyambut, urutan wawancara, pertanyaan yang diajukan tiap orang, dan cara menutup pertemuan serta mempersilakan kandidat meninggalkan ruangan. Minimalkan unsur kejutan. Semua perlu diskenariokan. Tergantung posisi yang ditawarkan, mungkin proses wawancara berisi lebih dari satu tahapan. Mana pun pilihan Anda, Anda harus punya rencananya.

Tampung masukan dan urutkan peringkat kandidat

Setelah proses wawancara selesai, urutkan peringkat kandidat. Karena tiap orang diberi pertanyaan yang sama, pengurutan peringkat ini mestinya lebih mudah. Kalau ada perbedaan pendapat di tubuh tim, pikir lagi sebelum mengajukan penawaran kerja. Kalau tidak satu pun kandidat dianggap cocok, pikir lagi sebelum mengajukan penawaran kerja. Lebih baik menunggu orang yang tepat daripada tergesa-gesa merekrut orang yang salah.

Ajukan penawaran kerja

Bila tidak ada hambatan berarti, waktunya mengajukan penawaran kerja. Ajukan dengan gembira, dan sadari bahwa ini baru langkah pertama memadukan karyawan baru dengan pranata dan budaya perusahaan Anda.

Seperti itu kira-kira. Langkah-langkah ini akan membawa hasil yang berbeda. Disiplin dan kesabaran adalah pangkal dari perekrutan yang baik. Makin piawai Anda menyusun dan mengikuti proses inklusif yang memadai, makin baik hasil yang Anda peroleh. Sekarang, saatnya berburu!

Kate Zabriskie adalah presiden Business Training Works Inc. Ia dan timnya membantu perusahaan menyusun strategi layanan pelanggan dan melatih mereka untuk menepati janji perusahaan.

KONTAK: Kate Zabriskie businesstrainingworks.com

Otobiografi sebagai alat seleksi
calon karyawan

Oleh Matt Pais

WAKTU ANDA TIDAK CUKUP untuk bertemu langsung begitu banyak pelamar. Namun, wawancara telepon mungkin tidak memadai dalam menentukan siapa yang akan maju ke tahap wawancara langsung.

Steven Wang menyisipkan sebuah tantangan bagi para pelamar di antara dua tahap perekrutan ini. Ia meminta mereka menulis dan mengirimkan esai otobiografis.

“Ada banyak informasi tentang orang yang mungkin akan bekerja dengan Anda ini, yang mungkin tidak disampaikan selama wawancara,” kata anggota MDRT sembilan tahun dari Irvine, California, ini sembari menambahkan bahwa ia mendengar dan mulai menerapkan konsep ini sekitar lima tahun silam. “Anda bisa kaget membaca tulisan mereka. Anda jadi lebih mengenal kepribadiannya dan mengerti apakah dia pilihan terbaik untuk tim Anda.”

Selama satu wawancara telepon, misalnya, seorang pelamar hanya mengatakan bahwa panjangnya masa tidak bekerja di dalam CV-nya itu karena ia perlu jeda. Tapi di dalam otobiografinya, ia menjelaskan bahwa waktu jeda tersebut ia butuhkan untuk merawat orang tua yang sakit.

Wang mendapatkan wawasan lebih jernih mengenai watak pelamar ini, serta pemahaman atas pentingnya asuransi dan tantangan yang dihadapi saat merawat orang sakit.

Wang biasanya memilih 8 - 10 kandidat untuk diwawancarai lewat telepon dan meminta 3 - 4 dari mereka untuk menulis esai otobiografis.

“Saya ingin tahu kesulitan yang dialami orang dan apa relevansinya dengan saya,” kata Wang, yang kantornya saat ini didukung enam staf yang membantu urusan prospecting dan melayani nasabah lama. “Tim itu seperti keluarga sendiri; mereka bantu Anda dan Anda bantu mereka. Dan kenal mereka lebih dekat bisa mempererat kekompakan.”

Begitu pun, Wang tidak memberikan panduan cara menulis esai otobiografis tersebut kepada para pelamar. Ia tidak menentukan panjang tulisan atau topik spesifik yang ia cari. Tapi tentu, cara pasti untuk gagal di seleksi ini adalah tidak mengerjakannya sama sekali. Di situ tampak pelamar tidak mengikuti instruksi dan melaksanakan tugas yang diembankan kepadanya.

Bagi pelamar yang menyelesaikan otobiografinya, ada yang menulis sependek satu paragraf, ada juga yang sepanjang tiga halaman. Idealnya satu halaman, kata Wang.

“Yang penting cukup sebagai gambaran awal, tidak perlu sampai menyeluruh,” ujarnya. “Tiga halaman boleh saja, tapi saya tidak yakin mereka mau sepanjang itu. Mereka kan belum jadi karyawan saya.”

KONTAK: Steven Wang steven.wang.jdw6@statefarm.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments