Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

10 langkah dalam membuat aplikasi

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Alexander menjelaskan caranya meluncurkan produk yang bermanfaat bagi nasabah dan bisnisnya.
Chris Renton

SEPERTI berbagai usaha berdampak besar lain, misinya berawal dengan skala kecil.

Gareth Alexander, Dip PFS, BSc(Hons), awalnya hanya ingin menyediakan portal khusus bagi nasabah, tempat mereka bisa menjadwalkan janji temu dan memantau tabungan, investasi, serta cakupan proteksi.

Hasil akhir yang diraih anggota MDRT tiga tahun dari Harpenden, Inggris, ini ternyata berupa aplikasi yang dengan luar biasa menaikkan frekuensi interaksi dengan nasabah per tahunnya. Aplikasi tersebut begitu populer (dan terbuka untuk umum) sampai-sampai jumlah unduhannya hampir dua kali lipat jumlah nasabah, karena baik prospek maupun non-nasabah bisa mengakses buletin, bantuan perencanaan keuangan, dan berbagai fitur lainnya.

Efisiensi dan profitabilitas meningkat, dan nasabah punya akses mudah ke informasi yang tak perlu dikirim secara cetak, yang berarti juga turut menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kemungkinan mereka mengingat alasan rekomendasi tertentu diberikan.

Jika Anda ingin membuat aplikasi untuk praktik Anda, Alexander, yang berspesialisasi di bidang perencanaan keuangan keluarga berbasis trust, menganjurkan beberapa langkah berikut:

1. Belajar dari orang yang sudah melakukannya. Selama Pertemuan Tahunan 2015 di Vancouver, Tracey Karen Diana Devonport, anggota MDRT 25 tahun dari Houghton, Afrika Selatan, berbicara tentang proses pembuatan aplikasi yang diluncurkan perusahaannya. Setelah presentasi tersebut, Alexander menghubungi Devonport untuk meminta nasihat tambahan, yang memandu langkah-langkah pengembangan aplikasinya.

2. Cari perusahaan yang bisa membantu. Dengan wawasan dari Devonport, Alexander mencari agensi lokal yang berspesialisasi di bidang pengembangan aplikasi bagi pengelola kekayaan profesional. Tidak berhasil menemukannya, Alexander mencari perusahaan yang bisa membantu mengembangkan aplikasi orisinal yang dapat diubah-suaikan. Itu berarti, kita perlu mencari perusahaan teknologi mapan untuk dijadikan mitra, mengevaluasi kekuatan finansial mereka serta layanan yang disediakan.

3. Bersabar. Diluncurkan pada 2017, pengembangan aplikasinya memakan waktu enam bulan, melalui tahap beta berkali-kali dan diuji tiap pekan bersama para pengembang. Mereka membuat platform sehingga tim Alexander bisa melakukan perubahan sendiri (dan dibantu tim pengembangan jika perubahan tersebut membutuhkan penulisan kode program). Walau bekerja hingga larut malam dan di akhir pekan, Alexander tahu manfaat jangka panjangnya tetap sepadan.

4. Tetap terbuka. Dari draf yang satu ke yang lain, Alexander meluaskan fungsionalitas aplikasinya, menambahkan konten video untuk menjelaskan portal tersebut, cara nasabah berkomunikasi dengan penasihatnya, informasi tentang regulasi setempat, dan lain sebagainya. Fitur notifikasi push juga telah menuai hasil besar; 90% dari pesan yang dikirim ke ponsel nasabah dibaca dalam kurun tiga menit setelah diterima.

5. Perluas kolaborasi. “Kami sadar tak ada satu agensi pun yang bisa melakukan semuanya sendiri,” kata Alexander. Memanfaatkan referensi, Alexander menemukan mitra yang dapat memproduksi video dan konten media sosial lainnya, dan dari situ ia menggaet mitra-mitra teknologi lain untuk membantu di aspek-aspek yang berbeda.

6. Tetap fokus dan bertanggung jawab. Makin banyak tugas yang dilakukan, makin sulit bisa selaras tentang mana yang perlu diselesaikan dan kapan. Alexander menindaklanjuti komunikasi lewat surel saat pekerjaan belum selesai dan menjelaskan hasil yang diharapkan dari tiap langkah yang diambil.

7. Cari masukan dari nasabah. Untuk tahu hal yang dibutuhkan nasabah dari aplikasi tersebut, Alexander tidak sungkan bertanya. Lewat diskusi dengan sekitar 30 nasabah dekatnya, ia menambahkan fungsi survei nasabah untuk mendapatkan masukan konstruktif. Alexander juga menyediakan akses ke berbagai platform investasi dan fungsi mengisi kuesioner profil risiko (persyaratan tahunan wajib menurut regulasi di Inggris).

8. Jangan lupa promosi. Produk fantastis tak ada artinya kalau orang tidak tahu produk itu ada. Alexander mengunggah sebuah video 20 detik ke YouTube tentang aplikasi tersebut dan memasang banner di situs web perusahaan, akses mudah untuk mencari dan mengunduh aplikasinya.

9. Pantau tanggapan. Awalnya, Alexander menyangka banyak nasabah yang mungkin tidak akan menggunakan teknologi ini. “Nyatanya, masyarakat lansia, orang-orang berusia 60 ke ataslah, yang menghabiskan waktu dengan iPad dan teknologi lebih banyak dari kalangan lain,” kata Alexander. “Mereka menganggap aplikasi ini faktor pembeda dan bahwa kami mau berinvestasi untuk meningkatkan layanan. Itu jadi alasan yang menguatkan biaya yang kami kenakan.”

10. Tetap bertumbuh. Alexander mengembangkan aplikasi lain (dengan mitra teknologi lain) yang bisa mengirimkan pesan SMS kepada nasabah, tentang kabar terbaru mengenai jadwal review, bahan informasi, dan sebagainya. “Luar biasa,” katanya, sambil menekankan bahwa 98% dari SMS yang dikirim selalu dibaca. “Kalau Anda ingin mendapatkan informasi dari nasabah dan Anda memintanya lewat SMS, ternyata langsung dibalas.” Fitur SMS bermula sebagai cara mengucapkan selamat ulang tahun kepada nasabah, tapi kemudian berkembang menjadi saluran komunikasi untuk beragam hal.

Pada akhirnya, kata Alexander, ini proses belajar. “Anda harus jeli dalam menentukan apa yang coba dicapai, tapi juga harus fleksibel agar proyek tersebut bisa berkembang,” katanya. “Dan teknologi tidak bisa menggantikan hubungan personal kita dengan nasabah. Teknologi justru kian mempererat hubungan tersebut.”

KONTAK: Gareth Alexander gareth@pp-wealth.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments