Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Yang sama antara aktor dan penasihat keuangan

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Aktor dan penasihat kawakan Bozzi menguak kemiripan antara keduanya.
Jeff Wojtaszek Photography

Saat ikut audisi drama TV “The Sopranos,” Eugene Bozzi, LUTCF, awalnya tidak bisa tampil alami. Sutradara casting memintanya untuk tidak tegang. Jadi, anggota MDRT 12 tahun dari Linwood, New Jersey, ini melupakan baris dialognya dan mengandalkan nalurinya.

“Bagus!” seru si sutradara.

Tampil jujur adalah satu dari sekian banyak kemiripan yang dilihat Bozzi ada di antara kedua profesi ini, setelah puluhan tahun menjadi penasihat purnawaktu (yang fokus pada asuransi jiwa dan perencanaan pensiun) dan aktor paruhwaktu, yang pernah tampil sekilas di film seperti “The Thomas Crown Affair” dan “In Her Shoes”, serta acara seperti “All My Children”, selain segudang peran yang dimainkannya untuk pertunjukan teater, film industrial, dll.

Saat bertemu prospek, khususnya untuk agen baru, tiap janji temu tidak langsung berbuah penjualan.
Sama seperti aktor yang perlu ikut banyak audisi untuk mendapatkan peran, agen baru perlu banyak janji temu.

Walau membatasi aktivitas akting demi bisa menjadi ayah yang baik, Bozzi melihat banyak kesamaan antara hal yang membuat orang sukses sebagai penasihat dan aktor:

  1. Selalu siap. “Penasihat memang tidak tampil di atas panggung, tapi kita harus siap menampilkan yang terbaik. Bagi saya, intinya adalah energi untuk siap melayani nasabah. Contohnya: Hari ini ada tiga prospek muncul. Mereka bertanya, dan saya harus langsung siap. Biar kepala sedang pusing, kalau saatnya kerja, ya, kerja. Aktor juga begitu. Bagi penasihat, bukan berarti harus berakting; kita punya keyakinan kuat atas pekerjaan kita. Tapi kita harus siap memberikan yang terbaik sekalipun tidak sedang dalam keadaan terbaik.”
  2. Tegar menghadapi penolakan. “Saya sudah mengikuti ratusan audisi. Hampir semuanya tidak saya menangkan. Anda harus siap dengan kemungkinan bahwa peran tersebut bukan untuk Anda. Tapi tiap audisi harus dijalani seolah perannya pasti Anda dapatkan. Khususnya untuk agen baru, tiap janji temu tidak langsung berbuah penjualan. Sama seperti aktor yang perlu ikut banyak audisi untuk mendapatkan peran, agen baru perlu banyak janji temu. Kalau Anda aktor di New York dan Los Angeles dan hanya ikut audisi dua atau tiga kali seminggu, jangan harap dapat peran.”
  3. Besar atau kecil, perlakukan sama. “Saya sering sekali main di film-film industral dan video pelatihan, dengan peran sebagai manajer kantoran. Saat ikut audisinya, saya tahu bayarannya tidak besar. Tapi, saya lihat sisi baiknya: peluang mengasah keterampilan, bertemu orang baru, dan menghasilkan uang. Jangan berpandangan, ‘Perannya kecil, bahkan mungkin tak sepadan.’ Fokus pada peluang bertemu orang lain, belajar, dan menjalin relasi. Begitu juga dengan pertemuan kita bersama prospek. Kita tidak tahu apa hasilnya nanti, tapi yang jelas kita mempraktikkan keterampilan dan keahlian kita. Siapa tahu ada peluang di ujung jalan. Kecuali kalau sudah tersohor, aktor dan penasihat konsisten menghasilkan uang bukan dari berburu proyek besar saja.”
  4. Yakin pada diri. “Sylvester Stallone menulis skrip yang tidak banyak diketahui orang, judulnya ‘Rocky.’ Waktu itu dia masih tinggal di apartemen sempit, mencuci piring saja mesti di kamar mandi. Dia menolak tawaran dana $100.000 untuk memproduksi film itu. Dia memilih membuatnya sendiri. Risikonya besar, memang; dia tidak tahu bahwa film itu akan memenangkan Piala Oscar, berhasil menjadi franchise, tapi dia yakin pada dirinya. Sama juga dengan kita, penasihat keuangan. Jeda dulu memang boleh, tapi kekuatan sejati hanya muncul kalau kita tahan banting, percaya diri, dan mau belajar dan melayani. Sudah 30 tahun saya di bisnis ini, dan saya tetap belajar, menghadiri kelas, seminar, dan konferensi.”
  5. Nilai dari pengalaman hidup. “Saat aktor pemula berjumpa dengan emosi atau makna tersirat di dalam naskah, Anda bisa tahu mereka bingung karena belum pernah mengalaminya sendiri. Mereka mencoba sebaik mungkin, berdasarkan pelajaran yang mereka terima di kelas akting. Bandingkan dengan aktor kawakan yang sudah malang melintang di dunia seni peran, yang pernah kehilangan anggota keluarga, melihat orang menderita, mengalami keretakan rumah tangga, pernah membesarkan anaknya. Skenario apa saja, terserah. Dia sudah mengalaminya. Pengalaman itu tinggal dia bangkitkan saja. Begitu pula dengan penasihat keuangan: Waktu saya terjun ke bisnis ini di usia 19, saya susah membayangkan keadaan keluarga orang yang usianya 40, atau apa yang dibutuhkan orang yang mau pensiun. Biasanya saya tidak mau memprospek orang yang usianya di atas 35, karena saya tahu pasti sulit. Nah sekarang, dengan semua lapisan pengalaman yang saya miliki, saya rasa saya bisa menghadapi semua jenis prospek.”
  6. Jangan jadi kacang lupa kulit. “Brad Pitt pun dulu orang biasa. Kalau Anda lihat semua aktor ini, waktu mereka belum jadi bintang, mereka kerja serabutan. Mereka tidak tahu mereka akan jadi seperti sekarang. Tapi mereka punya visi, gigih, kuat, dan punya kerangka pikir yang positif. Kita pun begitu. Mungkin perlu 30 tahun kerja keras baru seorang penasihat bisa mencapai level Top of the Table. Sukses dalam semalam? Tentu bisa. Setelah 15 tahun mencoba.”

Kontak: Eugene Bozzi eugene.bozzi@prudential.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments