Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Pengalaman paling gila bersama nasabah

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Anggota MDRT bercerita tentang pengalaman tak terlupakan dan pelajaran yang mereka petik darinya.

Agen biasanya tahu harus bagaimana saat pertemuan dengan nasabah terasa biasa saja. Tapi bagaimana kalau ternyata anjing nasabah ikut mencicipi teh Anda?

Saat melakukan rekaman Podcast MDRT baru-baru ini, para anggota berikut bercerita tentang pengalaman paling aneh saat bertemu nasabah dan cara mereka menangani situasinya.

Itu rumah atau kebun binatang?

Ya, sebetulnya tidak jadi nasabah sih, tapi ceritanya cukup gila. Waktu itu ada agen yang berhenti, tapi sudah terlanjur punya janji temu dengan prospek di hari Jumat. Saya pikir, saya coba saja. Siapa tahu bisa closing. Jadi saya temui prospek tersebut.

Saat masuk ke rumahnya, saya harus melewati titi papan, dan di bawahnya saya bisa lihat ada gudang bawah tanah dari batu. Masuk saja sudah berbahaya. Dan di dalam rumah, seperti kebun binatang. Burung-burung bebas beterbangan.

Kami kemudian duduk. Mejanya terbuat dari kumparan listrik. Saya lalu presentasi produk untuk melindungi program pinjaman beragunan mereka. Preminya sih ‘luar biasa’, $12 sebulan. Mereka bilang, “Kok mahal sekali?” Saat itu saya langsung tahu, mereka tidak bakal jadi nasabah.

Itu pengalaman tak terlupakan, dan jangan sampai terulang lagi. Di situ saya belajar untuk menyeleksi calon prospek saya.

— Mark D. Olson, MSFS, CFP, anggota MDRT 20 tahun dari Somerville, New Jersey

Berbagi teh dengan anjing nasabah

Kejadiannya hampir 20 tahun yang lalu, saat saya baru saja jadi agen. Saya dulu menemui nasabah di mana saja, kapan saja, dan melakukan apa saja untuk mereka. Nasabah saya bertanya, “Mau minum teh?” Saya jawab, “Ya, boleh.”

Saya taruh cangkirnya di atas lantai di samping kursi goyang. Nasabah sedang membereskan beberapa berkas di ruang lain saat saya mendengar ada suara aneh. Ternyata anjing kecilnya menjilati teh saya. Saya harus cepat memutuskan. Saat dia kembali, tehnya saya minum atau saya beri tahu soal anjingnya ini?

Tehnya saya minum.

Kalau ingat, sampai sekarang saya masih meringis geli. Tapi saat itu saya tidak sampai hati bilang ke nasabah, “Maaf sekali, Bu, tapi anjing Anda minum teh saya, jadi boleh buatkan secangkir lagi?” Saya lebih memilih mementingkan kesan pertama yang baik di hadapan nasabah. Jadi, ya, saya dan anjingnya secangkir berdua.

— David Braithwaite, Dip PFS, anggota MDRT 11 tahun dari Kent, Inggris

Lain kali, istrinya ditinggal saja

Kalau pengalaman saya, prospeknya anti dengan asuransi. Saking antinya, dia dan istri pergi ke Amerika Serikat dari Kanada tanpa asuransi perjalanan. Kami sudah sarankan jangan, tapi tidak didengarkan.

Terang saja, suatu kali saat ke Amerika, istri pria itu mengalami patah pergelangan kaki dan harus masuk rumah sakit. Mereka pikir, “Kembali saja. Di sini kita tidak ada asuransi. Kita harus kembali ke Kanada.” Mereka sudah cukup dekat dengan perbatasan tapi, tidak bisa ditunda lagi, mereka harus ke rumah sakit.

Istrinya dirawat di situ dan saat sudah keluar dari rumah sakit, si suami bilang, “Jane, kabar baiknya, kamu sudah sembuh. Kabar buruknya, kalau saja aku tahu biayanya $15.000, aku pasti sudah kabur dari sini, dan meninggalkanmu.” Gila, kan?!

Kadang kita memang perlu tahu bahwa ada orang yang tidak mau atau tidak butuh kita. Atau, memang nasabah tidak nyambung dengan kita. Kalau sudah begitu, lanjut ke yang lain saja.

— Jonathan Peter Kestle, CLU, B Com, anggota MDRT lima tahun dari Ingersoll, Ontario, Kanada

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments