Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Saat alat yang tepat tidak tersedia

Antoinette Tuscano

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Kestle menggunakan teknologi untuk menghemat waktu dan uang nasabahnya.

Robo-advisors dan kecerdasan buatan sudah tiba, dan anggota MDRT empat tahun Jonathan Peter Kestle, CLU, B. Comm, tidak khawatir. Ia menggunakan teknologi untuk menghemat ratusan ribu dolar uang nasabah dan sejumlah besar jam kerja bagi dirinya sendiri.

Ya, robo-advisor yang mampu menawarkan imbalan jasa murah kepada nasabah memang merupakan nilai tambah tersendiri, kata Kestle, dari Ingersoll, Ontario, Kanada. “Tapi itu tidak begitu signifikan. Susah kalau cuma menjual asuransi jiwa berjangka saja,” imbuhnya. “Asuransi jiwa berjangka adalah komoditas. Itu produk yang akan berada di pasar bawah.” Kestle yakin sebentar lagi konsumen akan bisa membelinya di supermarket di Kanada.

“Kalau Anda bukan komoditas, Anda akan baik-baik saja.” Orang butuh nasihat keuangan, khususnya saat kondisi kehidupan dan kesehatan mereka bertambah rumit.

“Teknologi tidak akan menggantikan penasihat keuangan,” kata Kestle. “Penasihat yang memakai teknologilah yang akan menggantikan penasihat yang tidak memakai teknologi.”

Mengidentifikasi masalah

Nasabah Kestle berasal dari kalangan 55 tahun ke atas yang tengah menyongsong masa pensiun. Mereka tahu kira-kira berapa banyak uang yang telah mereka kumpulkan untuk pensiun. Tantangan mereka di masa pensiun adalah seperti apa dana tersebut akan dibelanjakan secara strategis.

Seringnya, kata Kestle, para agen menangani kebutuhan ini dengan metode-metode standar industri. Namun, itu masih kurang karena tidak tersedia solusi tersendiri untuk tiap nasabah. Tugas itu, kalau dilakukan secara manual, terlalu rumit. Di Kanada, satu orang bisa jadi memiliki 15 sumber pemasukan dana pensiun dan suami-istri yang sama-sama bekerja bisa jadi memiliki hingga 30 sumber pemasukan. Bisa berasal dari program dana pensiun pemerintah, program pensiun perusahaan, aset usaha, tabungan terdaftar, tabungan bebas pajak, dan seterusnya.

Dalam semua rekening ini, ada cara-cara spesifik untuk memperoleh efisiensi pajak terkait kapan saatnya menarik dana dari satu rekening dibandingkan dengan semua rekening dana pensiun lain dalam portofolio seseorang. Jika efisiensinya maksimal, bagi sebagian nasabah penghematan pajaknya bisa lebih dari $100.000.

Penasihat keuangan mencoba mengurai kerumitan rekening dan peraturan dana pensiun ini, tetapi mereka kewalahan, atau setidaknya jam kerja yang dibutuhkan terlalu panjang untuk menjamin kelangsungan bisnis mereka. Di situ letak masalahnya. Masalah yang tidak ada solusinya — hingga Kestle dan co-founder firmanya, anggota MDRT 33 tahun Ian C. Moyer, yang juga tinggal di Ingersoll, merekrut seseorang untuk membangun solusi tersebut.

Membangun solusi

Kestle membantu membentuk sebuah perusahaan baru, Cascades Financial Solutions, dan merekrut seorang mahasiswa ilmu komputer untuk menganalisis proses dekumulasi dana pensiun mereka dan membangun sebuah algoritme berdasarkan proses tersebut. Fokus Cascades adalah meng-ilustrasikan nilai dari rekomendasi yang diberikan dengan membandingkan potensi selisih pajak dari berbagai strategi penarikan dana. Mahasiswa tersebut dipekerjakan secara paruhwaktu, tapi mulai kerja penuh di proyek Cascades setelah lulus kuliah.

Dengan Cascades, para penasihat di firma Kestle dapat menunjukkan kepada nasabah hasil-hasil analisis dengan algoritme ini, yang jauh melampaui semua tren dalam dunia nasihat keuangan. “Kami biarkan matematika yang bekerja,” kata Kestle. “Begitu kami tunjukkan jumlah pajak yang bisa dihemat, case itu kami menangkan. Kami urai kerumitan prosesnya lalu kami sederhanakan. Teknologi bukan segalanya. Penasihat keuangan masih dibutuhkan. Teknologi adalah alat yang memberikan keuntungan kompetitif bagi penasihat keuangan.”

Begitu kami tunjukkan jumlah pajak yang bisa dihemat, case itu kami menangkan.
— Jonathan Kestle

Meluaskan hubungan dengan nasabah

Cara lain Kestle dalam penggunaan teknologi adalah penyediaan proses onboarding nasabah. Teknologi dipakai sebagai concierge digital. Di firmanya, mereka mengembangkan proses ini mulai dari mengirimkan fact-finder digital Cascades ke calon nasabah.

“Ada alfa dan beta dalam dunia investasi tradisional, yang bicara soal risiko, premi, dan volatilitas. Keping ketiganya adalah gamma. Gamma mengacu pada nilai tambah yang diberikan perencanaan investasi tersebut dengan membantu nasabah mengambil keputusan yang berdasar lebih kuat,” kata Kestle.

“Kami menginvestasikan uang di dana yang dikelola manajer investasi profesional. Karena bukan kami yang memilih investasinya, penasihat kami jadi punya waktu lebih untuk bicara soal kehidupan nasabah mereka dan menelusuri aturan-aturan pajak yang kompleks,” kata Kestle. “Kami bisa mendampingi mereka saat pasar sedang lesu dan mengingatkan mereka untuk melihat gambaran besarnya. Dan kami memeriksa solusi yang kami tawarkan untuk menilai apakah masih sepadan atau sesuai dengan nasabah. Penasihat berperan sebagai pencetus ide dan pemandu. Bukan terjebak dalam peran-peran administrasi perdagangan saham sehari-hari.”

MENGAPA ATM TIDAK MENGGANTIKAN TELLER BANK

Saat teknologi dan kecerdasan buatan mendesak posisi penasihat keuangan, ini bukan pertama kalinya teknologi tampil di sektor keuangan. Puluhan tahun yang lalu, ketika anjungan tunai mandiri (ATM) mulai lazim digunakan, para begawan dunia keuangan meramalkan sirnanya posisi teller bank manusia. Tapi itu tidak terjadi. Malah, di Amerika Serikat, jumlah pekerja teller justru meningkat sejak tahun 2000 dan tumbuh lebih cepat dari laju pertumbuhan angkatan kerja.

Mengapa bisa begitu? Setelah mesin-mesin ATM mulai menjamur, kadang lebih banyak dari lahan parkir di area-area padat, kantor cabang bank tipikal wilayah perkotaan mengalami penyusutan kebutuhan teller, dari 21 ke 13 orang. Artinya, biaya operasi menjadi lebih murah, dan bank-bank pun membuka lebih banyak kantor cabang. Ternyata, nasabah tetap perlu bicara dengan teller ketika urusan perbankan mereka lebih rumit dari sekadar menarik atau menyetor dana. Jadi, secara umum, kebutuhan akan teller meningkat, menurut American Enterprise Institute, sebuah lembaga think-tank kebijakan publik.

KONTAK: Jonathan Kestle jonathan@ianmoyer.com

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments