Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Algoritme, bitcoin, robo-advice

Liz DeCarlo and Antoinette Tuscano

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Masa depan jasa keuangan telah tiba. Pelajari cara mengoptimalkannya.
Illustration by Matias Trillo

Perubahan tidak menunggu persetujuan kita, apalagi untuk urusan teknologi. Namun, kalau Anda tetap berpikiran terbuka, teknologi akan menjadi solusi bagi sebagian tantangan yang Anda hadapi sebagai seorang penasihat keuangan, seperti cara melayani nasabah lama lebih baik atau membantu nasabah baru yang normalnya tidak tepat biaya untuk diajak bekerja sama.

Jerry Wellington bermitra dengan perusahaan yang menggunakan algoritme untuk membantu menjaga kelangsungan jasa manajemen portofolionya dan bekerja dengan calon-calon nasabah milenial. Jonathan Kestle menciptakan diferensiasi dari para pesaingnya dengan program yang mampu mengidentifikasi sejumlah besar pengurangan pajak bagi para nasabahnya.

Seperti Uber mengguncang industri taksi tradisional, berbagai cara pikir baru tentang perbankan dan jasa keuangan tengah berkembang – dan nasabah pun menanyakannya.

Pergeseran pola pikir kini menguat dan mengawali kemajuan yang bahkan tidak dapat kita bayangkan 10 tahun yang lalu. Terus baca untuk mengamati beberapa perubahan ini dan cara para anggota MDRT menguasai teknologi untuk membangun bisnis yang lebih baik.

Memakai teknologi untuk bilang ‘ya’ kepada nasabah

Dari portal daring untuk prospek beraset rendah hingga manajemen portofolio
terotomasi, Wellington memadukan dunia digital ke dalam jasa keuangannya.

Oleh Liz DeCarlo

Jeremy Mark Wellington, Dip PFS, Dip CII, bukan pakar atau penggemar teknologi. La tak ada minat untuk kasak-kusuk di depan layar komputer atau mencoba-coba teknologi paling mutakhir. Namun, setelah dikenalkan oleh seorang anggota MDRT lainnya, ia pun berdiri menyimak paparan para eksekutif dari sebuah perusahaan yang menawarkan algoritme untuk mengelola portofolio investasi nasabah secara real-time, beradaptasi dengan fluktuasi pasar, dan merekomendasikan alternatif jika, misalnya, ada dana yang turun.

Wellington melipat tangannya dan berkata, “Oh, saya sudah pernah. Dan saya tidak melihat keuntungannya.” Ia merasa ide mengotomasi manajemen portofolio itu sulit, tetapi setuju untuk berdiskusi dengan perusahaan itu selama dua hari. Ia melihat langsung hasil analisisnya, dan mulai memahami teknologi itu.

“Di akhir hari kedua, saya terpaksa menurunkan tangan dan mengakui bahwa cara mereka lebih andal dari cara saya,” kata Wellington, anggota MDRT tujuh tahun dari Truro, Inggris. “Sekuat tenaga saya mencoba untuk tidak menyukainya, tetap tidak bisa.”

Wellington, yang telah bergelut di jasa keuangan selama 30 tahun, tidak pernah merasa perlu mengikuti teknologi termutakhir. Tapi akhirnya ia mendapat gagasan untuk menggeser manajemen portofolio ke proses berbasis ilmiah yang membuatnya punya waktu lebih untuk fokus meningkatkan kualitas hubungan personal dengan nasabah – terlepas dari fakta bahwa butuh negosiasi panjang selama setahun untuk membujuk nasabah agar mau pindah ke layanan ini.

“Gelombang disrupsinya besar dan berlawanan dengan penilaian saya saat itu,” katanya. “Tapi syukurlah kami tetap menggunakannya, karena sekarang nasabah menyukainya.”

‘Mengapa dahulu, bagaimana kemudian’

Wellington telah memadukan teknologi ke dalam penawaran jasa keuangannya dengan beberapa cara, tetapi ia menjajakinya dengan mengingat hal yang ingin dicapai, bukan demi mengejar tren terkini.

Salah satu perubahan pertama terkait teknologi di bisnisnya dilakukan karena ia tidak suka bilang tidak. Tidak, aset Anda terlalu kecil untuk saya kelola. “Rasanya menyebalkan,” kata Wellington.

“Tiga atau empat tahun yang lalu, dengan naiknya biaya operasional sebagai penasihat keuangan di Inggris, Amerika, dan di seluruh dunia, banyak orang lebih memilih membidik nasabah dengan nilai aset bersih tinggi,” katanya. “Tapi di Cornwall tempat saya tinggal, tidak banyak nasabah yang seperti itu.”

Prospek-prospek yang ia temui adalah orang-orang berusia 20an dan 30an tahun, yang mencoba melakukan hal yang benar untuk keuangan mereka. Tapi dulu tak ada yang dapat diperbuatnya untuk membantu.

Wellington tidak begitu melek teknologi, dan keempat anggota timnya pun sama, tapi mereka merasa jawaban untuk masalah ini ada pada solusi-solusi digital.

Gelombang disrupsinya besar dan berlawanan dengan penilaian saya saat itu. Tapi syukurlah kami tetap menggunakannya.

Ia lalu melirik robo-advice, tapi tidak begitu suka karena prosesnya yang terlalu terotomasi. Keputusan seperti didesakkan kepada calon nasabah, dan ini rentan masalah. Karena itu ia bergeser ke teknik yang disebutnya “advice light”.

Ia memakai jasa seorang manajer investasi yang membuat portal daring untuk para nasabah dengan nilai aset bersih rendah. “Itu batu loncatan yang baik. Kami bisa membimbing dan mengarahkan mereka ke produk tabungan dan dana pensiun, produk tanggung jawab fiskal, tanpa harus memberi akses ke program layanan lengkap yang tidak sanggup mereka beli,” kata Wellington.

“Ekonomi skala jadi bisa diterapkan dan nasabah lebih mudah mengakses pasar, tapi tidak sampai membuat mereka mengambil keputusan yang keliru. Sistem pengawasan dan keseimbangannya tetap ada.” Dan, karena Wellington selalu menghubungi tiap nasabahnya setahun sekali lewat surat atau telepon, mereka tetap punya akses komunikasi, tapi secara lebih terjangkau.

Berkas administrasi digital

Wellington juga memadukan teknologi ke dalam interaksinya dengan nasabah sehari-hari. Ia selalu ingin punya kantor yang tanpa kertas, tapi tampaknya tidak bisa karena banyak dokumen perlu ditandatangani oleh nasabah.

Beberapa bulan yang lalu, istri sekaligus mitra bisnisnya, Donna Wellington, melihat seseorang menggunakan tablet untuk dokumen resmi, dan dari situ ide pun tercetus. Karena baru saja membeli iPad, Donna menggunakannya agar tidak lagi harus mencetak 100 halaman kertas yang dibutuhkan saat bertemu nasabah.

“Kami ada rapat perencanaan tahunan bersama nasabah dan banyak sekali dokumen cetak yang diperlukan untuk itu. Semua mesti dikerjakan dengan teratur. Nasabah menandatangani dokumennya, lalu dokumen diteruskan ke kantor untuk dipindai, dan salinan cetak tadi dihancurkan,” jelasnya. “Banyak sekali kebutuhan cetak, pindai, dan penghancuran dokumen. Semua dilakukan dalam dua hari saja. Gila rasanya.”

Jadi mereka memutuskan untuk mengganti semua berkas administratif cetak dengan dokumen digital. Ia menggunakan Acrobat Reader untuk membuat dokumen PDF dan PaperPort untuk menyusun halaman-halamannya. Nasabah menggunakan iPad Pro A4 dengan pensil Apple untuk mencentang kotak-kotak dan menerakan tanda tangan mereka.

“Saya memakainya untuk menulis catatan dan memberikannya kepada nasabah untuk diteken, dan ukuran A4-nya membuat kami bisa mengetik dengan ukuran huruf yang besar. Nasabah lansia yang matanya mulai kabur suka,” kata Wellington. “Pemberesan berkas-berkas administrasi jadi lebih mudah. Saya suka sekali menulis catatan. Dengan begini, saya bisa menuliskannya dengan rapi di iPad. Dulu, catatan saya sering berantakan dan kertas yang bertanda tangan nasabah sering hilang. Sekarang, semua rapi dan beres. Nasabah pun mengapresiasi pesan peduli lingkungan di baliknya.”

Wellington juga bisa membagikan salinan berkas administrasi elektronik dengan tim dan nasabahnya via Dropbox Business. “Impian saya untuk punya kantor yang bersih, rapi, dan tanpa kertas pun terwujud. Dan ini menjadi diferensiasi unggul bagi bisnis kami,” katanya. “Itu teknologi simpel yang bisa semua orang pakai, tapi kebanyakan orang tidak menggunakannya. Kuncinya hanya visi, waktu, dan niat untuk beradaptasi.”

Menyusun alur kerja yang sederhana bagi nasabah dan tim telah mendorong munculnya inovasi teknologi bagi Wellington. Begitu pun, ia tetap berupaya agar semua itu terjangkau.

“Teknologinya mahal tapi tidak dipakai maksimal, itu buang-buang uang namanya,” katanya. “Khususnya di perusahaan-perusahaan baru, ada kecenderungan untuk berinvestasi pada inovasi terbaru, tapi saya suka menggunakan aplikasi gratis semaksimal mungkin dan mengadaptasikannya ke bisnis saya. Saran saya, jangan dibuat rumit.”

Kontak Jerry Wellington jerry@fpconcepts.co.uk.

DATA MENCENGANGKAN TENTANG ERA DIGITAL

53% milenial lebih memilih kehilangan indra penciuman daripada teknologi mereka

66% orang mendapatkan kabar berita dari media sosial

93% keputusan membeli dipengaruhi media sosial

33% pernikahan dimulai dari perkenalan di dunia maya

Populasi pengguna Twitter yang berkembang paling pesat berasal dari kalangan kakek-nenek.

— Erik Qualman, penulis dan pembicara

AGE FOTOSTOCK

ANGGOTA MDRT MEMBANGUN BRAND AGENSINYA DI DUNIA MAYA

Kami memastikan agensi kami menonjol di dunia maya dan kami mengelolanya dengan konsisten. Profil agen dan perusahaan kami ada di LinkedIn, dan kami juga punya laman personal dan perusahaan di Facebook, Instagram, Twittter, dan bahkan Pinterest.

Kami mengklaim lokasi bisnis kami di Google. Kami rutin menulis blog dan memastikan situs web kami ditinjau dan diperbarui secara berkala. Kami juga mengelola dan meminta ulasan nasabah di situs web Adviser Ratings lokal dan Google. Di era digital, kuncinya adalah proaktif mengelola kehadiran di dunia maya, bukan reaktif.

Hal lain yang bisa kami lakukan adalah memberikan berbagai kemudahan sebelum prospek bertemu kami. Ada lembar fakta yang bisa diunduh dari situs web kami, video yang bisa ditonton di saluran Vimeo kami, dan berbagai artikel blog yang bisa menjadi bahan belajar. Sebelum berharap menerima, kami sudah memberi.

— Amanda Cassar, MFP, AFP, anggota MDRT tujuh tahun, Burleigh Heads, Queensland, Australia

TERAKAN JEJAK DIGITAL YANG KENTARA DENGAN MEMPERKUAT KEHADIRAN ANDA DI DUNIA MAYA

Transformasi digital Anda semestinya lebih dari sekadar perangkat lunak yang diintegrasikan ke dalam proses kerja. Transformasi mesti meliputi jejak-jejak digital, dan jenama (brand) yang Anda bangun di dunia maya karena sering nasabah pertama kali mengetahui Anda lewat internet.

“Investasi terbesar saya di Twitter,” kata David Braithwaite, Dip PFS, anggota MDRT 10 tahun dari Kent, Inggris. “Orang menguntit Anda di internet dan mencari Anda di Google. Pesan yang positif dan konsisten membuat orang lebih memilih Anda ketimbang yang lain.”

“Di era digital ini, orang selalu mengutarakan hal yang disukai dan tidak disukainya. Karyawan memberi tahu kami apa yang mereka suka dan tidak suka. Begitu pula dengan para partner kami,” kata Eric Qualman, penulis buku “Socialnomics” dan “Digital Leader.” “Pemasaran mulut-ke-mulut kini menemukan bahan bakar digitalnya. Kalau kerja kami bagus, nasabah menjadi tenaga pemasar paling produktif di media sosial.”

Jonathan Godshall Camacho, MBA, LUTCF, berkata bahwa penting sekali untuk memahami cara menampilkan diri dengan baik di dunia maya. “Saat mem-posting di media sosial, Anda harus melakukannya dengan proporsi yang tepat,” kata anggota MDRT empat tahun dari Puebla, Meksiko ini. “Posting sembilan artikel menarik, lalu satu artikel yang mengedukasi mereka mengenai praktik bisnis Anda.”

Peter Jason Byrne menggunakan kehadirannya di internet untuk terhubung dengan nasabah, dan membantu mereka terhubung dengannya. “Penentunya bukan pada kita sedang apa, tapi nasabah sedang apa. Kalau di media sosial kami melihat ada nasabah yang baru bertunangan, kami mengirimkan artikel tentang cara menyusun anggaran pesta pernikahan. Dan kalau saya melihat ada nasabah yang sedang ditimpa kemalangan, saya kabarkan bahwa formulir klaimnya sedang diproses.

“Ada juga beruang Teddy yang kami kirim sebagai ucapan semoga lekas sembuh atau ucapan selamat atas kelahiran anak baru,” kata Byrne, anggota MDRT 10 tahun dari Coorparoo, Queensland, Australia. “Ketika staf kami baru-baru ini ke Kamboja untuk melayani nasabah, kami menceritakan perjalanan ini dari perspektif beruang Teddy di media sosial.”

Byrne dan Camacho mengikuti panduan yang dianjurkan Qualman. “Luangkan waktu untuk membangun jaringan setiap hari, sebelum Anda benar-benar membutuhkannya,” katanya. Di dunia maya, posting yang utama. Sediakan tiga menit sehari untuk mengirim artikel menarik kepada seseorang atau memberi komentar positif di akun Twitter mereka.

Dan ingat, terlepas dari menjamurnya teknologi di sekeliling kita, pada akhirnya faktor penentu pamungkasnya adalah menjalin hubungan di dunia nyata, kata Qualman. “Pahami keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata. Ingat, teknologi berubah setiap detik, tapi sifat alami manusia tidak.”

BISAKAH FINTECH DAN PENASIHAT KEUANGAN MANUSIA HIDUP BERDAMPINGAN?

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments