Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Alasan mengapa tangan jangan ditaruh di belakang

Liz DeCarlo

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Bahasa tubuh langsung menunjukkan siapa Anda di hadapan nasabah dan prospek.

Kita semua langsung mengenali orang karismatik ketika bertemu dengan mereka, tapi mendefinisikan hal yang membuat seseorang karismatik lebih sulit dari kelihatannya. Di situlah letak keahlian Vanessa Van Edwards. Ia ahli dalam memahami bahan baku tersembunyi dari karisma dan seperti apa orang bisa belajar untuk menjadi lebih karismatik.

“Karisma adalah titik seimbang antara kehangatan dan kecakapan,” kata Van Edwards, seorang penyelidik perilaku dan pakar bahasa tubuh. Saat berjumpa dengan Anda, orang langsung berasumsi, dan orang karismatik umumnya langsung menunjukkan indikator rasa percaya.

“Yang pertama sekali dilihat orang adalah tangan,” kata Van Edwards. “Tangan adalah indikator rasa percaya kita. Tangan menunjukkan niat.” Orang yang Anda temui mesti melihat tangan Anda; menaruh tangan di belakang membuat orang kurang percaya.

Tangan juga merupakan indikator kecakapan. Orang-orang karismatik menggunakan tangan untuk melukiskan perkataan mereka. Van Edwards menyarankan kita untuk menjaga agar tangan tetap terlihat, menggunakan gestur saat menjelaskan, dan tidak menaruh tangan di saku saat bertemu orang baru.

Saat berjabat tangan, sebaiknya Anda juga menjaga kontak mata. “Kontak mata mempercepat proses membangun koneksi, dan juga menjadi cara untuk tahu persepsi orang tentang Anda,” katanya.

Van Edwards mendefinisikan tiga tipe tatapan mata:

  • Tipe Kuasa: Jaga kontak mata di bagian atas wajah. Hal ini menunjukkan kecakapan.
  • Tipe Akrab: Kontak mata di antara mata dan mulut. Tipe tatapan ini menyiratkan persahabatan dan rasa percaya.
  • Tipe Mesra: Tatapan mata-ke-mata dan ke bagian tulang selangka. Saat melihat orang yang membuat kita jatuh hati, tatapan mata kita cenderung lebih turun.

Tatapan wanita lazimnya tipe akrab, sementara pria biasanya tipe kuasa, katanya. Tapi pria dan wanita seyogianya menggunakan tatapan sesuai tujuannya: kuasa untuk menunjukkan kecakapan dan akrab untuk memancarkan kehangatan.

Perkataan kita juga penting diperhatikan. Jangan memulai percakapan dengan hal negatif, seperti “Tadi macet parah di jalan,” atau “Saya tertekan sekali.” Cari peluang menyetel suasana positif — menggunakan kata untuk membentuk pikiran, perilaku, dan tindakan. Jadi, awali percakapan dengan, “Perjalanan ke sini tadi lancar” atau “Hari ini berakhir luar biasa.”

“Anda mencari kebaikan dan menularkan kebaikan kepada orang lain lewat kata-kata,” ujar Van Edwards. “Jangan sia-siakan peluang untuk mempersiapkan yang positif. Seperti interaksi dengan anggota tim dan pasangan, persiapkan suasana hati lawan bicara saat hendak memperkenalkan bisnis Anda.”

Van Edwards menganjurkan hal yang sama untuk surel. “Pikirkan terlebih dulu suasana seperti apa yang ingin Anda ciptakan dalam hati pembaca surel Anda. Manfaatkan peluang untuk mewujudkannya,” katanya. Dalam undangan rapat, ganti nama rapat yang biasa ke nama yang mewakili suasana yang ingin Anda ciptakan lewat rapat itu, misalnya: namai rapat Anda "Sesi Kerja Kreatif". Gunakan kata-kata positif seperti “bersama”, “bahu-membahu”, dan “saya siap menerima masukan”. Gunakan frasa-frasa kompeten seperti “Mari kita cari solusinya”.

“Dengan begitu, hati dan pikiran peserta rapat sudah siap bahkan sebelum rapat dimulai,” kata Van Edwards. “Kita mempersiapkan mereka untuk menampilkan versi terbaik dari diri mereka saat hadir nanti.”

Suarakan pikiran dengan benar

Suara pun merupakan peluang untuk belajar menjadi lebih karismatik, kata Van Edwards. Anda dapat mengontrol suara dengan napas, dan berbicara dengan napas dihela menghasilkan nada yang lebih rendah. Kita terdengar lebih kompeten dan orang merasa lebih tenteram saat mendengar suara yang lebih rendah.

Hindari nada yang meninggi di ujung kalimat. “Nada tersebut seolah berkata, ‘Saya sendiri ragu dengan perkataan saya, jadi baiknya Anda tidak usah percaya,’” kata Van Edwards.

Ucapkan sapaan dengan napas dihela, rekam percakapan agar memahami cara menghilangkan nada meninggi, dan latih diri untuk menyampaikan kabar, harga, jadwal kerja yang serius dengan nada suara rendah, kata Van Edwards.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments