Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Mengatasi kesukaran ekstrem

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Sharma tetap positif sekalipun perang memaksanya mengungsi.

Keluarga sudah Anda kumpulkan, bisnis sudah Anda tinggalkan. Keadaan darurat perang. Negara Anda diserang. Dan Anda bergegas mengatur jadwal terbang, pergi dari tanah air. Setahun kemudian Anda kembali, dan kantor Anda berantakan. Berkas-berkas hangus terbakar, semua peralatan hancur. Situasi masih genting, tapi Anda tetap membangun kembali praktik asuransi. Dan sebulan kemudian, keamanan begitu gawat sehingga Anda terpaksa kembali mengungsi.

Dalam situasi demikian, hampir semua orang pasti sedikit frustrasi, kalau tidak putus asa.

Kecuali Satish Sharma. Kala itu — April 1991, saat serdadu Irak menyerang Kuwait — anggota MDRT 25 tahun dari Kuwait City, Kuwait, justru merasa optimis karena ia berhasil mengumpulkan yang tersisa dan membangun prasarana usaha yang baru. Jadi, ketika ia kembali lagi, dengan mudah bisnis bisa ia sambung, karena ia tahu ke mana harus pergi, siapa yang perlu ditemui.

“Kalau Anda di ruang gelap dan tak tahu apa di mana, pasti sulit sekali rasanya, dan rasa takut pun pasti ada,” kata Sharma, yang sekarang menjalankan bisnis broker asuransinya sendiri setelah 32 tahun bersama perusahaan yang kini menjadi bagian dari MetLife. “Kalau Anda pernah berada di ruang itu sekali dan hafal ada lemari di sebelah sini dan ada rak di sudut sana, kali berikutnya akan terasa lebih mudah.”

Sungguh sikap tahan banting yang luar biasa. Dan walau sedikit saja penasihat keuangan yang mungkin mengalami kegemparan seperti Sharma, ia punya banyak nasihat soal mengatasi keadaan sulit dan keluar dari badai sebagai sosok yang lebih kuat.

1. Jaga fokus pada hubungan.

Ketika dipaksa meninggalkan negaranya, Sharma tidak hanya membantu keluarganya, tetapi juga teman dan kenalan, untuk mengatur urusan transportasi. Selalu yakin bahwa hubungan dengan prospek, sekalipun tidak menjadi nasabah, itu tetap bermanfaat, Sharma luwes bergaul dengan orang lain yang senasib dengannya. Hal ini berbuah persahabatan dengan seorang pria yang kini ia anggap sebagai abang dan mentornya. Orang ini bukan saja membeli asuransi senilai ratusan ribu dolar untuk dirinya dan keluarganya dari Sharma selama bertahun-tahun, tapi cucu pria ini kini telah menjadi suami dari salah satu anak perempuan Sharma.

2. Pakai waktu sebaik mungkin.

Setelah meninggalkan Kuwait ke India, Sharma sebetulnya bisa saja duduk diam menunggu waktu untuk kembali. Tapi ia justru menulis surat ke kantor pusatnya di Dubai, menyampaikan keinginannya pergi ke sana untuk memperluas wawasan, menyesuaikan diri dengan kerja para agen saat itu, dan membantu membimbing agen-agen baru. Selama periode itu, ia mendulang banyak dukungan dan diberi tanggung jawab untuk memulai kembali praktiknya ketika Kuwait sudah kembali dibuka.

3. Jika tak ada prospek yang beli, beli untuk orang tercinta.

Ketika Sharma kembali ke Kuwait pada Agustus 1991, tidak ada yang mau beli polis baru. Mereka gamang dengan nasib Kuwait ke depannya. Dan Sharma tentu tidak mau membuat laporan nol penjualan di pekan pertamanya kembali kerja. Jadi ia membeli dua polis untuk bayi perempuannya. “Kok ada dua nasabah yang beli polis darimu?” tanya manajernya. “Nasabah saya tidak bisa bilang tidak,” tanggap Sharma, “usianya baru 11 bulan.”

4. Berpikir kreatif.

Menjadi agen di Kuwait memang banyak batasannya. Karena warga negara Kuwait sudah dilindungi program pemerintah, mereka tidak perlu beli asuransi. Untungnya, hampir 75% penduduk negara itu adalah ekspatriat, yang tidak bisa memperoleh manfaat program jaminan pemerintah. Karena itu, Sharma bekerja merancang sebuah produk untuk mengasuransikan orang-orang yang rutin mengirim uang ke keluarga mereka di luar Kuwait. Uang tersebut digunakan untuk membeli perlindungan asuransi. Ia juga berperan besar dalam mempromosikan bancassurance, yang membantu mengasuransikan nasabah sembari tetap mendorong mereka untuk menyimpan uang di bank, walau kadang mereka khawatir dengan stabilitas lembaga-lembaga keuangan tersebut.

Kita sering tidak sadar, di dalam setiap rintangan ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
— Satish Sharma

5. Ubah ragu jadi peluang.

Orang mudah ragu ketika keadaan tidak menentu. Alihalih ragu untuk kembali ke tanah airnya setelah dipaksa mengungsi, Sharma berkata, “Kalau tidak ada perusahaan asuransi lain dan cuma saya yang beroperasi, pasarnya saya kuasai.” Ketika prospek enggan membeli, ia membantu mereka mengingat kembali pentingnya perlindungan asuransi, dalam kecamuk perang maupun tenteramnya damai. Ketika krisis keuangan 2008 melanda dan nasabah kehilangan rasa percaya pada bisnis dan produk yang ditawarkannya, Sharma mendirikan crisis center di kantornya. Di situ ia duduk, menjelaskan kepada nasabah yang khawatir bahwa polis mereka tetap aman.

“Masa sukar itu pasti datang,” kata Sharma. “Kita sudah sering mengalaminya. Kalau Anda mulai berpikir negatif, tidak akan ada ujungnya. Tapi saya sangat positif dahulu, dan tetap sangat positif hingga sekarang.

“Rasa percaya dirilah yang membantu Anda kembali bangkit berdiri.”

KONTAK

Satish Sharma at satish.sharma@sharmaagency.com.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments