Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Tiga ragam cara meningkatkan bisnis Anda

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Rekrut staf yang tepat, nominasikan nasabah untuk memperoleh penghargaan, dan adakan acara makan malam santai

Nominasikan nasabah untuk menerima penghargaan dan rasakan manfaatnya

Anda pasti tahu kalau bisnis nasabah sedang tumbuh pesat. Tapi apakah Anda berupaya agar orang lain juga tahu itu?

Daniel O’Connell, MBA, anggota MDRT 10 tahun dari Addison, Texas, punya kolega yang membantu menominasikan para nasabahnya untuk Dallas 100 Enterpreneur Awards, acara yang diselenggarakan Universitas Methodis Selatan sebagai bentuk penghargaan terhadap perusahaan dengan pertumbuhan terpesat di Dallas. Mereka yang masuk dalam peringkat 100 teratas diundang dan menikmati waktu tak terlupakan bersama para pengusaha sukses lainnya dan penasihat keuangan yang menominasikan mereka.

“Itu malam perayaan yang tak terlupakan bagi mereka, dan kami sendiri cuma menomi-
nasikannya saja,” kata O’Connell. “Hubungan dengan nasabah jadi tambah erat dan kita jadi bisa menikmati waktu bersama mereka tanpa embel-embel bisnis.”

Selain itu, bagi O’Connell cara melayani seperti ini berbuah referensi ke hadirin lain di acara tersebut. “Para kenalan nasabah kami semuanya kaget,” katanya, “karena penasihat lain tak pernah melakukan hal ini untuk mereka.”

6 PERTIMBANGAN SAAT MEREKRUT STAF PENTING

Bukan rahasia bahwa staf pembantu berperan besar dalam kinerja sebuah usaha. Salah rekrut berisiko frustrasi dan proses kerja yang berbelit-belit, yang sulit diurai dan diluruskan. Tetapi, kalau merekrut orang yang tepat, cara-cara baru dalam pengem-bangan usaha pun tercipta.

Dalam lima tahun terakhir, Marcus T. Henderson Sr., RFP, MRFC, anggota MDRT 26 tahun dari Brentwood, Tennessee, kian meningkatkan produktivitasnya dengan mempekerjakan seorang koordinator strategis di kantornya. “Saya rekrut karena kepribadiannya, urusan teknis bisa dilatih nanti,” kata Henderson. “Anda tak bisa mengajar orang untuk bilang ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ dan membereskan pekerjaannya. Dijalankan atau tidak, itu kembali ke diri mereka masing-masing.”

Ia juga berkata bahwa yang dicari bukan orang yang paling ‘tepat’ secara biaya. Ia lebih suka menggaji sedikit lebih tinggi karyawan yang tidak harus diajarkan terlalu banyak hal dasar.

Ini enam pertanyaan yang ia ajukan ketika mencari orang yang akan mengisi posisi koordinator strategis, yang merupakan seorang Registered Paraplanner. Tugas staf ini tidak sebatas mengkoordinir jadwalnya, tetapi juga ikut serta dalam semua pertemuan awal dan lanjutan bersama para nasabah, sembari menyusun analisis aset bersih mereka:

  1. Apakah kelebihannya bisa mengisi kekurangan saya?
  2. Apakah mereka fasih bekerja di pasar ceruk yang saya garap?
  3. Apakah perilakunya kredibel dan profesional?
  4. Apakah mereka punya potensi besar untuk menguasai semua tugasnya?
  5. Apakah ada rasa saling menghormati dan saling percaya?
  6. Apakah mereka cocok dengan visi bisnis saya?

Henderson sangat spesifik dalam hal ini: Anggota stafnya ini bukan sekreta-ris, tetapi karyawan level eksekutif yang harus memenuhi semua syarat di atas, dan yang harus ia bantu dan bimbing apabila perlu. “Praktik itu tutup kalau Anda tidak ada,” katanya. “Dan kalau itu bisnis, isinya bukan cuma Anda. Nasabah pun merasa dimudahkan jika ada banyak orang yang bisa melayani mereka sekalipun saya sedang tidak ada.”

MANFAAT MAKAN MALAM SANTAI TANPA OBROLAN BISNIS

Sebagian agen mengumpulkan prospek untuk makan bersama, diselipi presentasi bisnis yang menawarkan manfaat produk bagi para peserta jamuan.

Ozer Culhagil, Ph.D., anggota MDRT delapan tahun dari Columbia, Maryland, tidak percaya dengan teknik ini. Ketika Culhagil menjamu para nasabah dan teman-teman mereka, ia tidak bicara soal bisnisnya. Sama sekali.

Malah, di acara serupa baru-baru ini – jamuan makan dan minum anggur di rumah nasabah – seorang tamu berkata, “Terus, ngomongnya kapan, nih?”

“Ngomong apa?” jawab Culhagil. “Kamu berteman dengan Jim; itu mengapa kami mengundangmu.”

“Oh, begitu, ya?” kata si prospek.

“Tak usah tanya soal bisnis; tidak bakal kujawab,” ujar Culhagil. “Silakan datang ke kantor untuk itu, kami sambut. Tapi di sini kita tidak bicara bisnis. Kami di sini untuk bercengkerama dan berterima kasih kepada Jim. Dia merasa kalian memberi arti bagi hidupnya dan kita mungkin bisa saling cocok.

“Kami hanya ingin kamu tahu siapa kami. Itu saja.”

Mentalitas ini berpangkal dari pengalaman Culhagil: acara seperti ini paling baik kalau hadirinnya sekelompok kecil saja, supaya tidak ada obrolan kecil di pojok ruang seperti biasa terjadi di acara besar, yang mengucilkannya dari percakapan. Dengan hadirin paling banyak dua belas orang, termasuk Culhagil dan tiga agen lain di timnya, ia mampu mengendalikan situasi dan berkenalan dengan setiap orang di ruang acara.

Plus, situasinya bisa diulangi.

“Saya bisa makan malam bersama Jim dan dua orang lain, tiga orang, empat orang, terserah,” kata Culhagil. “Jim pasti tidak mau mengadakan acara yang sama kalau isinya makan dan satu jam presentasi. Jadi fokus saja pada jamuan dan orang-orang di dalamnya. Di situ letak suksesnya.”

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments