Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Melayani generasi roti lapis

Matt Pais

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Bagi nasabah kategori ini, perencanaan keuangan dan perancangan anggaran untuk semua tanggungan bukan hal gampang.

Istilah “generasi roti lapis” (“sandwich generation”) terdengar lucu dan menyenangkan, seolah menyiratkan berbaring nyaman di antara roti orang tua yang kokoh dan roti anak yang empuk, dan semua berpadu dalam kesatuan utuh. Atau mungkin sebaliknya, di antara anak yang sudah mandiri dan orang tua yang memerlukan sedikit saja perhatian.

Tapi, keluarga dan emosi di dalamnya itu kompleks, dan situasi yang dihadapi generasi roti lapis ini, sebagaimana diamati para penasihat keuangan, jauh dari kata simpel.

Seperti cucu perempuan yang harus merawat neneknya karena si ayah dan ibu tinggal jauh dari mereka. Tak punya akses ke pundi dana orang tua, si cucu menggunakan uangnya sendiri untuk keperluan si nenek, dan orang tuanya tidak tahu-menahu soal ini. Malah, ia meminta Colin Parkin, Dip FA, CeMap, untuk memberitahukan hal ini ke orang tuanya.

“Mereka kaget ketika saya kemukakan tentang situasi putri mereka, dan betapa dia tidak sampai hati memberitahukannya,” kata anggota MDRT 40 tahun dari Lincoln, Inggris, yang kemudian mengurus proses bantuan keuangan untuk pengeluaran si cucu tadi. “Mereka berterima kasih atas bantuan saya dan berkata bahwa tanpa saya jalan keluarnya tidak akan muncul karena mereka saja tidak tahu apa yang terjadi.”

Mengkomunikasikan kebutuhan perencanaan

Perlunya menggali keterangan lebih dalam saat melayani keluarga generasi roti lapis ini telah mengubah cara Stefani Jean Fiedler, CLU, CFP, anggota MDRT tiga tahun dari Rice Lake, Wisconsin, menjajaki metodenya saat berupaya memahami tujuan-tujuan nasabahnya. Pilihannya sering mengerucut pada membelanjakan uang untuk keperluan sendiri atau mengalokasikannya untuk anggota keluarga.

“Mereka berada dalam posisi emosional yang pelik,” kata Fiedler. “Penting sekali untuk membimbing mereka melalui prosesnya dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Bicara dengan si anak dan memberi tahu mereka bahwa ibu masih punya uang itu juga bisa meredakan tekanan.”

Dalam prosesnya, perhatian khusus perlu diberikan dalam meninjau tujuan-tujuan mereka – bukan sekadar melihat apakah tujuannya sudah berubah. Penting juga untuk memastikan anjuran yang diberikan mereka laksanakan. “Di awal diskusi dulu, Anda bilang ingin berlibur bersama anak-anak. Apakah sudah terlaksana?” tanya Fielder. Kalau jawabannya belum, ia akan membahas bagaimana nasabah dapat mencari dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana tersebut.

Tentu saja, syaratnya ialah skenario yang disusun untuk semua anggota keluarga dapat berjalan lancar, walau tidak ada jaminan untuk hal itu. Michael G. Herman, ChFC, LUTCF, tahu betul tentang risiko ini dari pengalaman pribadi. Ketika ibunya terkena stroke, anggota MDRT 21 tahun dari Lakewood, Colorado, dan saudara laki-lakinya harus merawat beliau.

“Bukan tugas yang gampang. Saya punya tanggungan sendiri, saudara saya juga, ayah saya sudah tiada, dan sayangnya kedua orang tua kami dulu menolak ikut asuransi perawatan kesehatan jangka panjang,” kenangnya. “$200.000 uang ibu saya sudah terlanjur keluar untuk membiayai perawatan di rumah sebelum ia memenuhi syarat ikut program Medicaid. Dan sekarang kami mencoba mempertahankan rumahnya.

“Saya berbisnis di industri asuransi, tapi ibu saya sendiri tidak terlindungi.”

Tantangannya kian berat saat Herman mesti menyediakan layanan pramurukti di rumah ibunya karena ia tidak ingin anak-anaknya terpaksa mengurusnya di kamar mandi. “Kebutuhan seperti ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya,” kata Herman. “Biayanya lebih mahal kalau harus dirawat di rumah, dan membawanya ke panti perawatan, keluar dari rumah tempatnya tinggal selama 45 tahun, merupakan keputusan terberat yang pernah kami ambil.”

Herman sering membagikan cerita ini kepada nasabah untuk melukiskan beban finansial dan emosional yang timbul akibat tiadanya perencanaan matang untuk kebutuhan ini. Ia menyaksikan aset senilai $1,5 juta diambil dari keluarga ibunya (yang punya empat orang saudara perempuan di fasilitas yang sama tempatnya tinggal, belum termasuk seorang lagi yang telah meninggal dunia).

Jadi, ia tidak terkejut melihat tekanan yang juga dialami keluarga lainnya. Salah seorang nasabahnya harus 'menampung' ayah dan ibu mertua – yang keduanya berada di tahap awal Alzheimer – di rumah mereka. Di rumah itu juga ada dua orang anak yang masih remaja. Lansia yang mulai sakit ingatan dan remaja belia yang berhadapan dengan drama SMA setiap hari berarti, seperti diungkapkan nasabah Herman, meja makan jadi tempat yang “amat sangat menarik” setiap malamnya. Setidaknya, itulah ungkapan terhalusnya.

“Ia dan istrinya jadi sering bertengkar, kedua anaknya jadi frustrasi, dan ketegangan di dalam rumah meningkat,” kata Herman. “Mereka bertekad untuk tidak menyimpang dari konsep keluarga menjaga keluarga, yang mestinya tidak perlu dilakukan kalau saja ada rencana sedari awalnya.”

Begitupun, berkali-kali, nasabah Herman yang belum berada di situasi ini mengutarakan alasan yang sama: “Sesama anggota keluarga akan saling menjaga,” tanpa berpikir tentang kesulitan dan tetek-bengek di baliknya. “Masalah ini baru tampak nyata kalau sudah terjadi pada Anda,” katanya.

Meringankan beban

Lalu apa yang dapat diperbuat agen untuk membantu nasabah mereka, dalam situasi proaktif maupun reaktif? Bagi Subhas V. Nathan, anggota MDRT 14 tahun dari Singapura yang memiliki banyak nasabah yang merawat orang tua sekaligus anaknya, ini berarti menekankan perlunya perlindungan medis lengkap saat orang masih sehat. Hal itu bakal sangat membantu nasabah yang punya dua anak usia 15 dan 16 tahun, yang sekaligus tengah mengelola tiga jenis usaha, ketika kedua orang tuanya menderita stroke. “Dia harus mempekerjakan dua pramurukti, dan kedua orang tuanya tidak lagi bisa diasuransikan ketika saya pertama sekali mulai merancang program asuransi untuknya,” kata Nathan. Keuangan nasabah terkuras untuk biaya medis orang tuanya, menambah beban di samping harus membayar biaya pendidikan anak-anaknya.

Ini masalah yang lazim terjadi, kata Pearlyn Koh, ChFC, anggota MDRT 14 tahun dari Singapura, karena tanggungan keuangan untuk pendidikan anak dan kesehatan orang tua kerap menghabiskan tabungan yang mestinya dapat disisihkan untuk perlindungan tambahan atau kebutuhan mereka sendiri. Seorang nasabah duda terpaksa mengutang untuk membiayai pendidikan anak dan menanggung kebutuhan ibu dan saudara perempuannya, yang keduanya mengidap skizofrenia dan tidak mampu bekerja. Karena harus melunasi utang, sebagian dari polis asuransinya tidak dapat dipertahankan. “Ketika sudah tidak mampu mendanai preminya lagi,” kata Koh, “dia tidak lagi bisa diasuransikan karena kondisi medis yang telah ada sebelumnya.”

Inilah salah satu alasan mengapa Singapura menetapkan Pioneer Generation Package dan Silver Support Scheme untuk membantu warga lansia dan meringankan efek domino beban keuangan yang harus ditanggung keluarga generasi roti lapis. (Akan tetapi, seperti ditekankan Koh, walau ada program bantuan untuk masyarakat berpendapatan rendah, perencanaan tambahan dibutuhkan para nasabah berpendapatan menengah yang tidak dapat memperoleh manfaat yang sama.) Ada pula wacana untuk program perawatan anak dan lansia di fasilitas yang sama, kendati hal ini dianggap tabu dan ditentang sebagian masyarakat.

Menemukan solusi

Meskipun solusinya tampak mendasar – perencanaan senantiasa menjadi fondasi bagi asuransi – tetap ada banyak ruang untuk diferensiasi dan kreativitas dalam menghadapi situasi ini. Fiedler mengatakan tantangan terbesar yang diamatinya adalah bahwa generasi tua ingin membantu setiap anggota keluarga tapi tidak tahu persis apa peran mereka.

Itu mengapa ia menganjurkan adanya penyesuaian gaya hidup yang dapat menyatukan semua generasi, seperti misalnya kakek dan nenek membantu merawat cucu atau mengurus rumah. Hal ini membuat generasi tua tetap terlibat aktif dalam kehidupan keluarga sembari memberikan bantuan yang dapat menghemat waktu generasi tengah. Di kasus yang lain, solusinya dapat berupa kakek pindah ke lokasi yang lebih dekat dengan keluarga, sehingga cucunya dapat menjenguknya sesekali.

Akan tetapi, cukup sering Fiedler melihat gesekan antargenerasi, khususnya ketika orang tua merawat salah seorang anak dan ini menimbulkan rasa iri anak yang lain. Untuk menyelesaikan konflik ini, ia mengajak keluarga untuk berdialog tentang beda
antara adil dan setara, dengan mengajukan pertanyaan halus seperti, “Mengapa Sally bilang kalau dia kesal?” Fiedler memastikan tidak ada sikap menuduh selama percakapan ini.

Melayani keluarga yang akur saja sudah cukup menantang, apalagi keluarga para anggotanya yang saling bersitegang. Parkin baru-baru ini ditentang oleh nasabahnya karena ia memberitahu bahwa si nasabah ini agak keterlaluan saat tidak sepakat dengan sesuatu hanya karena si istri ingin melakukannya.

“Kalau memang orang tersebut keterlaluan, ya harus diberi tahu, begitu sudah,” kata Parkin, yang juga membujuk ayahnya untuk menandatangani surat kuasa dengan membantunya memahami akibat bagi ibunya jika tidak bertindak dan hal yang tidak diinginkan terjadi padanya. “Kalau mereka sepakat, bagus. Kalau tidak, apa boleh buat.”

Bagi Herman, sangat penting untuk mengendalikan emosi dan tidak mendesak, atau bahkan memaksa, nasabah untuk menerima sarannya karena ini justru membuat mereka makin sulit dibujuk. Bertanya adalah strategi yang lebih ampuh.

“Sering orang bilang bahwa mereka tidak ingin menjadi tanggungan anak-anaknya,” katanya. “Di titik itu saya bertanya, ‘Coba jelaskan. Bagaimana jadinya nanti kalau sesuatu yang tidak diinginkan benar-benar terjadi?’

“Situasi ini sangat sulit bagi siapa saja, bukan hanya nasabah dari generasi roti lapis — setiap orang yang merencanakan program pensiun dan biaya kuliah pada sekaligus juga akan mengalaminya,” katanya. “Kalau Anda tambahi lagi dengan, misalnya, anak yang mau menikah dan orang tua yang punya masalah medis, urusannya akan jadi sangat berat.”

MENURUT ANGKA

Menurut studi yang dilakukan di tahun 2003 oleh Pew Research Center, 47% orang dewasa di Amerika yang berusia 40-59 tahun masih memiliki orang tua mereka yang berusia 65 atau lebih sekaligus membesarkan anak atau menanggung sebagian dari kebutuhan keuangan anak yang sudah dewasa. 15% dari orang dewasa berusia 40–59 tahun menanggung keuangan seorang anak dan seorang orang tua yang sudah lansia.

Karena hal ini, orang dewasa dari generasi roti lapis cenderung lebih merasa kekurangan waktu setiap hari, dan 31% di antaranya merasa lebih diburu waktu, jika dibandingkan dengan 23% orang dewasa yang tidak tergolong generasi roti lapis.

Studi di tahun 2010 yang dilakukan Economic Intellegence Unit, yang melakukan survei terhadap generasi roti lapis dari tujuh negara di Asia, menunjukkan bahwa masalah ini terjadi di tataran global:

  • 36% mengaku harus bekerja lebih keras karena perlu membayar biaya perawatan orang tua dan anak
  • 14%harus mencari pekerjaan tambahan
  • 58% memangkas atau mengurangi tabungan untuk membiayai kebutuhan mereka
  • 49% menurunkan tingkat investasi mereka

Dari semua wilayah yang disurvei (Tiongkok, Hong Kong, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Australia), sebagian besar responden (53%) yang merasakan tekanan dari tuntutan yang dialami sebagai generasi roti lapis berasal dari Hong Kong.

Berikut ini persentase selengkapnya:

  • 45% untuk Tiongkok
  • 42% untuk Taiwan
  • 26% untuk Korea Selatan
  • 21% untuk Singapura

Terlepas dari tantangan ini, tingkat kebahagiaan di antara orang dewasa dari generasi roti lapis dan bukan tetap sama.

PENTING UNTUK DIINGAT

  1. Samakan persepsi setiap orang. Ketika berhadapan dengan berbagai generasi, komunikasi menjadi hal teramat penting untuk memastikan seluruh anggota keluarga memahami keadaan yang dihadapi.
  2. Dorong nasabah untuk mampu merawat diri sendiri. Anda ada untuk membantu, tetapi, pertama dan terutama, jangan sampai mereka lupa untuk mandiri.
  3. Sebisa mungkin proaktif. Selain perencanaan yang lazim dilakukan, proaktif dapat berarti membantu nasabah mengumpulkan kontak dan informasi relevan lainnya sebagai data dasar bagi rencana tanggap jika sesuatu terjadi pada anggota keluarga.
  4. Kerap meninjau tujuan. Saat ketiga generasi ini semakin berumur dan keadaan keuangan dan kesehatan-nya berubah, pastikan untuk rutin menjajaki seperti apa rencana asuransi mereka bisa selaras dengan tujuan dan perubahan bagi nasabah dan keluarganya.
  5. Berempati. Percakapan antaranggota keluarga bisa jadi sangat emosional. Berbagi cerita pengalaman sendiri dengan nasabah dapat membantu mengidentifikasi urgensinya dan menunjukkan seperti apa Anda dapat membantu mereka.

KONTAK

Colin Parkin at colin@ampleholdings.co.uk.

Stefani Fiedler at stefani@business-estate.com.

Michael Herman at mike@gwsfinancial.com.

Subhas Nathan at subhasnathan@gmail.com.

Pearlyn Koh at p_oyster@rocketmail.com.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments