Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

7 kunci menepati janji, tetap positif, dan mengatasi rasa takut ditolak

Liz DeCarlo

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Pelajari cara memaksimalkan hari sembari meningkatkan kualitas bisnis dan kebahagiaan Anda.

Fokus pada hal baik dalam hidup Anda

Orang optimis cenderung mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga pada kesempatan, bukan kesulitan.

Mulai hari dengan langsung fokus pada hal yang sudah berjalan baik dalam hidup Anda. Kenali dan akui mana yang salah, tapi curahkan waktu dan tenaga untuk mengelola yang sudah benar.

Karena yang tumbuh subur adalah hal yang Anda sirami dengan curahan energi. Jadi, buat apa mencurahkan tenaga pada masalah? Curahkan pada solusinya. Curahkan pada kesempatannya.

— Bert Jacobs, pendiri dan CEO Life is Good

Momen terobosan terbesar hanya berjarak selangkah keluar dari zona nyaman. Kuncinya adalah nyaman dengan kondisi yang tidak nyaman; jangan pernah terpaku pada status quo.
Ryan Estis, konsultan bisnis dan pembicara

Sederhana saja. Mulai hari dengan membereskan sesuatu, sekalipun cuma membereskan tempat tidur. Carilah seseorang yang akan membantu Anda menjalani hidup. Hormati setiap orang. Ketahuilah bahwa hidup ini tidak adil dan Anda akan sering tersandung kegagalan. Tapi beranilah mengambil risiko, tegarlah menghadapi masa sukar, berpalinglah dari suara-suara sumbang, pikul beban dan tekanan, dan jangan pernah menyerah.

Kalau Anda lakukan semua ini, tidak ada satupun hal yang dapat menghalangi pencapaian tujuan Anda. Dan dengan tercapainya tujuan itu, Anda telah membantu menciptakan dunia yang lebih baik.

— Admiral William H. McRaven,U.S. Navy Seal (purnawirawan)

Mengatasi rasa takut ditolak

Penolakan itu cuma opini, dan dunia ini sarat dengan opini. Semua orang punya pendapat, dan semua orang ingin mengungkapkan pendapat yang dirasakannya. Tapi penolakan tidak lebih dari sebuah opini dan preferensi orang yang menolak. Malah mungkin lebih kepada orang yang menolak, bukan pada yang ditolak. Akan tetapi, kita sering keliru dengan menganggapnya sebagai kebenaran mutlak tentang diri kita.

Rasa takut ditolak dapat betul-betul melumpuhkan kita. Faktanya, para tokoh yang telah mengubah dunia, yang mengubah cara hidup kita, cara pikir kita, dan cara kita memperlakukan sesama, semuanya pernah ditolak, bahkan dengan begitu kasarnya. Tapi mereka terus maju.

Orang-orang seperti Martin Luther King Jr., Mahatma Gandhi, atau Nelson Mandela tidak tunduk pada penolakan. Reaksi mereka terhadap penolakanlah yang telah membentuk karakter mereka. Dan mereka merangkul penolakan itu.

Anda tidak harus menjadi Gandhi atau Mandela untuk bisa merangkul penolakan. Ketika ditolak, jangan lari, tapi coba refleksi, “Mengapa aku ditolak?”

Kita takut ditolak karena kita merasa penolakan itu begitu negatif dan mengerikan. Kadang kita kalah, memang. Rasanya kata "tidak" itu berarti musibah. Dan karena itu, kita sangka dengan menghindari yang negatif kita akan mencapai yang positif, bukan begitu?

Bohong. Bohong yang membuai. Kalau Anda tidak ditolak karena tidak mencoba, itu berarti Anda telah menolak diri sendiri. Kalaupun Anda akan ditolak, lebih baik ditolak orang, daripada ditolak diri sendiri.

— Jia Jiang, pendiri Wuju Learning

Dapat referensi tanpa meminta

Kita sering merasa kesulitan saat meminta referensi. Kyriakos Chatzistefanou tahu persis tentang hal ini, dan karena itu ia telah merancang pendekatan untuk mendapatkan referensi tanpa meminta secara langsung.

Ketika Chatzistefanou, anggota MDRT 11 tahun dari Thessaloniki, Yunani, sedang bertemu dengan salah seorang nasabah terbaiknya, ia memulai perbincangan santai dengan beberapa pancingan:

  • “Saya ingin dengar pendapat Anda mengenai kerja sama kita.” Pernyataan ini mendorong nasabah untuk mengutarakan hal-hal positif yang dirasakan ketika didampingi oleh Chatzistefanou. Kemudian, ia lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih mengerucut, seperti bertanya tentang pelajaran yang nasabah petik dari proses yang telah dijalani.
  • “Apa hal yang akan Anda kemukakan kepada orang lain mengenai kerja sama kita?” Ini sebetulnya sugesti halus yang menggiring nasabah untuk menceritakan pengalaman mereka bekerja bersama Chatzistefanou.
  • “Siapa kira-kira dua orang pertama yang melintas dalam benak Anda, yang patut mendengar cerita tentang kerja sama kita?” Secara tidak langsung, Chatzistefanou mengajak nasabah untuk memunculkan nama yang akan direferensikan kepadanya.
  • “Situasi apa yang tengah mereka hadapi sehingga Anda menganggap mereka perlu saya temui?” Pertanyaan ini membantu Chatzistefanou untuk mulai mempelajari situasi yang tengah dialami calon prospek, sekaligus menguatkan alasan mengapa mereka mesti ditemui.
  • “Kapan terakhir kali Anda bertemu mereka?” Kalau yang direferensikan itu anggota keluarga atau kolega yang sering ditemui nasabah, Chatzistefanou dapat berasumsi bahwa nasabah memang tahu betul tentang kehidupan calon prospek. Kalau agak jarang — misalnya, sudah setahun tidak bertemu — itu berarti perlu penjajakan lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran lengkapnya.

Chatzistefanou mencatat segala hal yang ia ketahui mengenai calon prospeknya dalam satu dokumen. Dokumen ini membantunya menentukan area-area tertentu yang perlu menjadi perhatian saat pertama sekali mencoba menemui referensi, yang didapatkannya tanpa "meminta".

Kuasai pendekatan minim tekanan yang menumbuhkan rasa percaya

Jika proses memprospek Anda sudah bisa mengatasi banyak situasi, bisnis sudah pasti tumbuh subur, kata Alex Braun, anggota MDRT 21 tahun dari Melbourne, Victoria, Australia.

Braun, yang fokus pada pangsa pasar kalangan profesional di bidang medis dan hukum, memulai prosesnya dengan testimoni dari nasabah-nasabah terbaiknya. Begitu ia mendapatkan testimoni tertulis dari seorang nasabah yang telah percaya kepadanya, ia menggunakannya untuk meng-identifikasi profesional lain yang dapat ia temui.

Untuk prospek-prospek pilihan ini, Braun mengirimkan surat tulis-tangan, yang disertai testimoni nasabah sebagai lampirannya. Surat tersebut selalu ditulis dengan mempertimbangkan penggunaan istilah untuk audiens spesifik. Untuk para dokter, Braun menuliskan baris seperti ini: “Melalui surat ini saya ingin menawarkan layanan tanpa biaya dan tidak wajib untuk meninjau kembali program keuangan yang Anda miliki — anggaplah sebagai ‘opini kedua.’”

Ia menutup surat dengan janji untuk menindak-lanjuti surat tersebut dalam dua hingga empat pekan ke depan. Pengaturan waktu sangat penting, kata Braun, karena dengan interval yang pas prospek tidak merasa tertekan.

Jika perlu menjadwalkan panggilan telepon setelah tindak lanjutnya, Braun selalu menelepon tepat pada jam yang disepakati – tidak terlalu awal atau terlambat empat menit – karena ini merupakan upaya awal membangun rasa percaya prospek. “Begitu Anda menelepon prospek, rasa percaya mulai terbangun,” kata Braun.

Menyentuh pancaindra nasabah

Coba kenang satu peristiwa penting dari masa kecil Anda. Biasanya Anda masih bisa mengingat bau, bunyi, rasa, suhu, atau bentuk dari pengalaman tersebut. Ketika sebuah pengalaman merasuk hingga ke pancaindra, jelas Bryon A. Holz, ChFC, CLU, pengalaman tersebut melekat lebih kuat dalam ingatan.

Holz, anggota MDRT 22 tahun dari Brandon, Florida, menggunakan kekuatan pengalaman indrawi untuk mempererat hubungan dengan nasabah. Dalam presentasinya, ia menawarkan kiat-kiat berikut:

  • Suasana kantor. Holz dan stafnya menya-lakan lilin dengan wangi-wangi alam, seperti vanila dan kayu manis, saat nasabah sedang berkunjung.
  • Sabun simbolis. Ketika nasabah masuk ke kantor, Holz memberikan sebatang sabun, dalam kemasan kertas. Mereka memegang sabun itu di tangan, mencium wangi segarnya, merasakan dan mendengar bunyi kerutannya. Setelah beberapa saat nasabah menebak-nebak apa maknanya, Holz menjelaskan: “Kalau dipikir-pikir, uang itu seperti sabun. Semakin digenggam, semakin cepat habis.”
  • Surat yang menenangkan. Ketika Resesi Besar di tahun 2008, Holz mengirimkan lembar informasi kepada nasabah untuk menjelaskan perubahan yang terjadi di pasar, dengan satu kantong teh celup “wangi bunga kamomil yang menenangkan” terstapel pada kertasnya.

“Jangan lagi sampai kehilangan kesempatan untuk menyentuh pancaindra nasabah,” kata Holz.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments