Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Memimpin di rumah dan di kantor

Adam A. Solano Jr., CRPC

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

9 pelajaran memimpin dari para orangtua

Foto di atas adalah salah satu foto favorit saya. Foto itu diambil di tahun 2005, pada hari Jumat, saat baru pulang dari kantor, ketika empat anak saya meminta saya membantu 'proyek' mereka di luar rumah. Sekalian melepas penat, saya pun mengikuti mereka ke halaman belakang. 

Saya ini orang yang menganggap bahwa meluangkan waktu untuk anak setelah sepekan penuh bekerja itu berarti membacakan mereka buku cerita atau menemani mereka bermain ayunan atau jalan-jalan. Pokoknya, kegiatan semacam itu: ringan tetapi hasilnya memuaskan.

Saat berjalan ke halaman, saya menerima instruksi dari mereka – membantu mewarnai setiap batu bata di teras dengan kapur warna. Dan begini peraturannya: Setiap warna harus dipakai. Jangan sampai ada dua batu bata yang warnanya sama. Setiap batu bata harus diwarnai sampai selesai. Pokoknya, bukan 'kegiatan ringan' yang saya bayangkan.

Saat proyek 'bikin repot' ini selesai, kami pun berfoto. Foto tersebut mengingatkan saya akan "masa-masa manis" kehidupan keluarga muda saya. Kalau dulu saya menolak, saya pasti kehilangan momen dan foto favorit.

Dari situ saya berpikir: Pelajaran apa yang saya dapatkan dari peran saya sebagai ayah, yang membantu saya menjadi pemimpin yang lebih baik? Berikut ini daftarnya.

  1. Punya visi
    Harus ada filosofi atau 'sistem operasi' dalam bisnis Anda – yang dikendalikan dan dibentuk oleh Anda sendiri. Ada begitu banyak hal dalam hidup ini yang dapat membuat Anda melenceng dari jalur. Filosofi bisnis Anda harus mendasari budaya kerja Anda, persis seperti budaya di dalam rumah dan kehidupan keluarga Anda.
  2. Kalau mereka belum paham, tidak apa-apa
    Salah satu asisten saya suka sekali berkata bahwa saya ini seperti profesor di bisnis ini. Maksudnya bukan seperti profesor di kampus, tetapi 'profesor' karena begitu menguasai segala aspek teknis dari profesi dan pekerjaan kami. Contohnya begini: Pernahkah staf Anda bilang bahwa dia tidak bisa menemukan berkas nasabah atau dokumen sejenisnya dan begitu Anda yang mencarinya dokumen itu langsung ketemu? Begitu juga, saya sering meminta anak saya untuk meng-ambil alat dari garasi rumah. Selalu saja, 10 menit kemudian, saya yang akhirnya (lagi-lagi) menunjukkan di mana semua perkakas disimpan. Jangan tuntut orang lain langsung mahir kalau Anda sendiri perlu bertahun-tahun untuk itu.
  3. Rayakan
    Saya baru saja merayakan 25 tahun karier saya di profesi ini. Pencapaian penting memang patut dirayakan, tetapi bagi saya pengakuan atas komitmen-komitmen kecil itu bisa lebih dahsyat efeknya. Misalnya begini, saya yakin merayakan dedikasi putri saya yang tekun sepanjang malam menghapal dialog dramanya telah membuatnya merasa dihargai lebih dari riuh tepuk tangan penonton setelah tirai panggung diturunkan. Di kantor, selain peringatan sekian tahun berkarier di profesi ini, kami juga merayakan dan menghargai hal-hal berfaedah yang dikerjakan secara konsisten.

Anak-anak mengajarkan kita cara memimpin yang cakupannya jauh lebih luas dari rumah kita. 

  1. Bilang maaf bila memang perlu
    Anda ingin anak Anda berani minta maaf? Atau staf Anda bertanggung jawab atas kesalahannya? Sebagai pemimpin,Anda harus memberi contoh. Kita sering merasa enggan meminta maaf kepada anak atau karyawan (atau nasabah!) karena seolah kita gagal memimpin mereka. Walau rasa-rasanya janggal, meminta maaf (bila memang perlu) adalah hal yang wajib dilakukan.
  2. Lembut tetapi tegas
    Waktu masih kecil, putri kedua saya punya kebiasaan jelek keluar dari kamarnya setiap malam. Dan ini bukan kebiasaan yang sebentar saja lalu hilang. Beberapa kali dia turun dari tempat tidur tiap malam selama sekitar setahun. Kami butuh kelembutan sekaligus ketegasan yang tidak saya sangka saya miliki. Akhirnya, kami menang. Pelajaran yang bisa dipetik: tarik garis batas dengan tegas, dan terapkan dengan lembut.
  3. Biarkan orang lain menjadi dirinya sendiri
    Saya pernah dengar orang bilang, "Saya bukti hidup bahwa cara saya ini berhasil!" Pernyataan itu mungkin benar, tetapi merupakan watak pemimpin yang tidak praktis. Empat anak saya punya kesenangannya sendiri. Claire anak yang gaul, lucu, yang suka ngeband. Olivia penyuka teater dengan segudang prestasi. Dominic tipikal siswa SMU penggemar olahraga. Dan Victor selalu mendapat nilai tertinggi di kelasnya. Merangkul perbedaan mereka telah mengasah jiwa pemimpin saya. Saya tidak memaksakan budaya "caraku" dalam berbisnis atau mendampingi nasabah.
  4. Satu perhatian untuk setiap orang
    Sikap “ingin dianggap penting” selalu tersirat dalam perilaku setiap orang. Sebagai orang tua, saya harus belajar cara mengenali setiap peluang untuk memperhatikan orang per orang. Seorang pemimpin harus selalu mencari cara untuk membuat nasabah dan stafnya merasa penting, dan menurut saya pertemuan 'satu-lawan-satu' adalah cara terbaik.
  5. Berbuat tanpa pamrih
    Berapa kali saja Anda berbuat sesuatu untuk anak atau pasangan Anda tanpa mendengar kata terima kasih? Kalau dengan nasabah atau staf Anda? Apakah Anda bersikap baik hati, memberi hadiah, dan melayani dengan baik hanya demi pengakuan? Tidak seharusnya begitu. Seorang pemimpin, sama seperti orang tua, harus melakukan hal yang benar tanpa mengharap imbalan.
  6. Sadari bahwa waktu lekas berlalu
    Kalau Anda tidak belajar dan berinovasi dalam hidup ini, waktu akan menjadi lawan, bukan kawan. Kalau Anda perhatikan, anak-anak mengajarkan kita cara memimpin yang cakupannya jauh lebih luas dari rumah kita. Mereka itu benar-benar karunia Tuhan.

Adam Solano adalah anggota MDRT selama 21 tahun dari Grayslake, Illinois.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments