Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Bangun hubungan yang lebih baik lewat pertanyaan dan pola pikir yang berbeda

Kent Bridgeman

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Interaksi Anda dengan nasabah akan berubah saat Anda menyadari bahwa, kendati kita tak dapat mengendalikan apa yang terjadi, kita bisa memilih cara menanggapi apa yang terjadi.

Anda bisa mempererat hubungan dengan nasabah, mendapatkan lebih banyak nasabah, dan akhirnya meningkatkan penghasilan — tanpa tambahan anggaran dan jam kerja — jika mau mengubah pola pikir. 

Mungkin Anda membatasi potensi diri dengan merenungkan pertanyaan yang keliru dan memelihara pola pikir yang menghambat pertumbuhan. Dalam teks klasiknya "Ubah pertanyaan, ubah kehidupan", Marilee Adams, Ph.D., mendemonstrasikan cara mengajukan pertanyaan yang akan mengubah pola pikir kaku menjadi pola pikir tumbuh. Begini cara kerja prinsip-prinsipnya. 

Pola pikir kaku versus pola pikir tumbuh 

"Kita tak bisa mengendalikan apa yang terjadi, tapi kita bisa memilih cara untuk menanggapi apa yang terjadi," tulis Adams. 

Saat menghadapi berbagai peristiwa dalam kehidupan, kita cenderung melabeli kejadian dengan narasi. Ketika mengantre di kantor pos, kita berpikir, "Kenapa sih lama sekali?" 

Pertanyaan semacam ini, menurut Adams, adalah pertanyaan "menghakimi" atau "hakim". 

Pertanyaan seperti ini menimbulkan pola pikir beku, yaitu pola pikir yang membuat kita cenderung memandang segala sesuatu secara satu arah dan permanen. 

Namun, kita bisa mengubah narasi tersebut, dengan mengubah cara mengajukan pertanyaan tentang diri sendiri dan orang lain. 

Sambil mengantre di kantor pos, ajukan saja pertanyaan "belajar" atau "pembelajar" seperti, "Bagaimana saya memanfaatkan waktu mengantre ini sebaik-baiknya?" 

Mengenali pertanyaan menghakimi 

Pertanyaan menghakimi selalu menimbulkan narasi menyalahkan, respons otomatis yang menarik kita ke jurang keputusasaan. Karena sifatnya otomatis, pemikiran seperti ini sering tidak disadari. Tubuh tegang dan rasa tertekan bisa menjadi pertandanya. 

Saat sisi benak yang "menghakimi" tidak menemukan sumber dari luar untuk disalahkan, dia sering membalik ke diri sendiri, dengan pertanyaan seperti, "Ada apa denganku?", atau "Kok aku tak pernah beres?" 

Kabar baiknya, begitu Anda belajar mengenali adanya pertanyaan menghakimi, Anda bisa beralih ke pola pikir belajar, menggunakan konsep yang disebut Adams sebagai "pertanyaan pengalih". Dengan pertanyaan seperti "Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?" atau "Asumsi apa yang melintas di benakku?", pikiran Anda akan lebih terbuka dan lebih bisa menerima. 

Menerapkan kiat-kiatnya 

Terdengar bagus memang, tetapi bagaimana cara menggunakan kiat-kiat ini dalam bisnis Anda? 

Salah satu kiat dalam buku Adams adalah Q-storming atau question-storming ("curah pertanyaan"). Curah pertanyaan mirip dengan curah pendapat (brainstorming); Anda menyisihkan sekian waktu (misalnya, 10 menit) khusus untuk bertanya saja. Selama sesi ini, jangan menjawab pertanyaan dan jangan mengajukan pertanyaan menghakimi. Tujuannya adalah mengeksplorasi sebanyak mungkin sudut pandang dari sebuah situasi. 

Contohnya, nasabah merasa tidak puas dengan rekomendasi yang Anda berikan. Anda bisa memulai sesi curah pertanyaan dengan merenungkan, "Apa yang sedang dia pikirkan, rasakan, atau inginkan?" 

Jika ada solusi potensial yang melintas di benak Anda, catat pada memo tempel atau kartu indeks, lalu sisihkan. Untuk saat ini, teruslah bertanya sampai waktu habis. Jika kehabisan ide, lihat "12 pertanyaan yang mengarah pada kesuksesan" di buku Adams. Setelah sesi berakhir, tinjau daftar pertanyaan Anda. Anda akan menemukan limpahan kemungkinan yang mungkin takkan pernah Anda jajaki dalam proses berpikir biasa. 

Keindahan proses ini adalah fleksibilitasnya untuk diterapkan pada segi mana pun yang sedang mandek dalam hidup Anda, termasuk hubungan pribadi dan hubungan dengan nasabah. Mengembangkan pola pikir pembelajar adalah keterampilan yang membutuhkan banyak latihan. Namun, dengan mengembangkan "pertanyaan pembelajar", Anda bisa mengasah keterampilan itu dan menciptakan skenario yang menguntungkan Anda dan nasabah. 

Artikel ini telah dimuat di MDRT Blog. 

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments