Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Ruang Putih di Tempat Kerja

Juliet Funt

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Kita hidup di zaman serba sibuk. Orang jarang meluangkan waktu untuk berhenti atau berpikir. Di sesi ini, Funt meminta Anda untuk bertanya pada diri sendiri: adakah hal yang bisa kita relakan, dan seberapa besar manfaat yang kita dapat dengan mengurangi waktu kerja dan mendelegasikan tugas walau sedikit saja? Perubahan kecil dapat berdampak besar jika dilakukan dengan strategis.

Saya punya tiga anak laki-laki bermata biru, punya rasa penasaran tinggi, dan mengagumkan. Dan mereka semua lahir di Cedars-Sinai Medical Center di Beverly Hills, California. Cedars-Sinai adalah klinik mewah dan modern tempat untuk kelahiran alamiah. Benar. Itu adalah bangsal bersalin paling bahagia di muka Bumi. Tidak ada keringat, tidak ada teriakan; semua orang bersantai dan berbahagia.

Kami mengambil bayi-bayi mungil itu, menaruhnya di kursi mobil bayi, dan mengantarkan mereka pulang. Mereka mulai merangkak dan berjalan dan berbicara, dan bayi saya sangat cerewet. Dan mereka melakukan apa yang disebut racauan bayi. Bayi meracau dengan mengambil ungkapan yang mereka dengar dan mengucapkannya berulang-ulang, berulang-ulang, hingga Anda tidak tahan lagi. Kami sedang mengambil cuti dan saya melihat putra tertua saya, Jake, berceloteh terus-menerus di bank dan supermarket.

Lalu kami naik mobil dan saat melihat sesuatu dari kaca jendela mobil, dia mulai meracau: "Mami, mobil pemadam kebakaran. Mami, mobil pemadam kebakaran. Mami, mobil pemadam kebakaran. Mami, mobil pemadam kebakaran." Dan suatu hari, saya berpikir, Astaga, anak ini berbicara terus-menerus sepanjang hari, dan ketika menghela nafas, dia berharap saya langsung menanggapi. Lalu saya mulai lebih jernih berpikir dan mengoreksi ucapan batin saya sebelumnya, Astaga, anak ini berbicara terus-menerus sepanjang hari, dan ketika menghela nafas, dia berharap saya langsung menanggapi. Oh, itu pasti seperti yang dirasakan suami saya sejak kali pertama kami bertemu.

Kemudian saya pulang dan mendekati suami tercinta saya, Lorne. Saya mengajak dia duduk di sofa dan berkata, "Sayang, saat semobil dengan Jake tadi, aku menemukan sesuatu. Kupikir, seperti itulah yang kamu rasakan saat kali pertama kita bertemu. Mata Lorne basah, dia memandang langit-langit rumah dan berkata, "Puji Tuhan Yesus." Dan kami adalah orang Yahudi.

Dan itu benar. Saya akan mengatakan pada Anda bahwa, dibandingkan perempuan, laki-laki lebih toleran terhadap keheningan dalam percakapan—jeda sebentar, waktu sela. Tapi saat ini, kita semua menjadi kurang nyaman dengan momen-momen seperti itu dalam hidup kita, momen saat kita merasakan kekosongan dan siap untuk apa pun yang mungkin datang. Koneksi internet kita tidak terputus. Jadwal kita begitu padat dan bising. Pikiran kita penuh sesak, dan jeda hanya ada di masa lalu.

Sekarang kita semakin terbiasa dengan aktivitas yang terus terkoneksi. Saat kita berhenti sejenak, kita merasa terganggu. Rapat, surel, dan ponsel pintar yang selalu bersama kita menghabiskan waktu kita, dan karena itulah, tenaga kerja Amerika menjadi begitu sibuk dan kelelahan. Kita seperti bekerja terus-menerus di warung makan di sebuah pasar malam.

Inovasi dan kreativitas layu di hadapan dewa kesibukan palsu. Di rumah, keluarga kesusahan untuk terhubung satu sama lain karena orang dewasa mengerjakan banyak hal saat makan malam, terikat ke kantor dengan tali yang tak terlihat. Dan anak-anak, karena kesepian, berusaha mendapatkan kehangatan dari layar ponsel atau tablet mereka sendiri.

Ini adalah gambaran tidak menyenangkan dari apa yang kita sebut "budaya ketidakpuasan", di mana apa yang kita lakukan rasanya tidak pernah cukup. Budaya ketidakpuasan ini telah mengubah hari kerja menjadi rangkaian kesibukan reaktif, dan itu adalah masalah besar. Karena saat orang berbakat tak punya waktu untuk berpikir, bisnis akan kena dampaknya.

Saya tantang Anda. Saya tantang Anda untuk mencoba mengingat kapan terakhir kali Anda memergoki orang sedang berpikir di tempat kerja. Dan apa yang akan Anda lakukan jika Anda memergoki karyawan yang sedang bersenandung? Apakah Anda akan memanggil paramedis? Apakah Anda akan menghubungi media? Kita tidak merasa nyaman saat melihat orang sedang berpikir secara mendalam, meski aktivitas semacam itulah yang mengubah segalanya. Ke mana pun kita pergi—lembaga keuangan, apotek, rumah sakit, tempat berbelanja—sama saja yang kita temukan. Adu cepat melakukan segalanya.

Tampak lucu memang, tapi apa yang dikorbankan? Apa yang harus Anda korbankan? Apa yang harus perusahaan atau organisasi Anda korbankan terkait kreativitas dan produktivitas dan keterlibatan?

Jadi, di manakah posisi kita dalam rangkaian beban berlebih dan evolusinya? Saya akan memberi tahu Anda.

Tahukah Anda momen saat tokoh kartun Wile E. Coyote meloncati tebing dan berhenti di udara, dan dia dapat memilih untuk kembali ke tebing atau jatuh ke palung di bawahnya? Di situlah kita berada. Di momen itulah kita dapat memilih untuk melempar handuk dan berkata "Pekerjaan memang seperti itu" atau kita dapat mencari solusi baru yang tepat. Dan saya punya solusi itu.

Bumbu rahasianya adalah apa yang saya sebut "ruang putih" (white space). Jadi, apa itu ruang putih? Ruang putih adalah jeda strategis di sela-sela aktivitas. Baik itu setengah detik, satu detik, tiga detik, atau setengah jam, jeda yang dirajut ke dalam lembar kesibukan dapat meningkatkan kreativitas dan kualitas keterlibatan kita. Jeda ini ibarat oksigen yang membuat api semangat menyala. Meski berupa jeda dalam jadwal aktivitas, tetapi ruang ini tidaklah kosong. Dalam ruang putih, pikiran dibangunkan dari tidur.

Jika otak Anda dipindai dengan MRI (Pencitraan Resonansi Magnetik), Anda akan melihat aktivitas kompleks dan menakjubkan di jaringan saraf standar otak Anda. Aktivitas ini telah dikaitkan dengan wawasan dengan introspeksi dengan memori dan kreativitas. Semuanya terjadi di momen jeda itu.

Saat jaringan saraf otak aktif, yang dapat dilihat dari momen ruang putih dan kesadaran akan adanya waktu yang lebih banyak untuk hadirnya ruang putih, segalanya berjalan lebih baik. Sekarang, mungkin Anda khawatir, Anda mungkin berpikir bahwa ruang putih adalah sesuatu yang perlu Anda isi, seperti jenis aktivitas yang harus Anda lakukan saat berolah raga. Tidak seperti itu.

Sekarang, kita akan mempelajari cara mengurangi kerja yang tidak berguna, dan ruang putih akan muncul dengan sendirinya. Jadi, sebelum saya mengajari Anda untuk mendapatkan ruang putih, hal pertama yang perlu dilakukan adalah kembali ke belakang. Kita harus memahami bagaimana ruang putih telah dicuri dari Anda. Karena jika Anda tidak memahami pencuri ruang putih dan mengapa ruang putih jadi barang langka, Anda tidak akan mampu berpegang pada ruang putih baru yang akan saya ajarkan untuk Anda dapatkan.

Jadi, bagian dari masalahnya adalah penyesuaian sosial. Kita cenderung untuk mengikuti arah dari kerumunan. Kita ikut dan kita ikut dan kita ikut. Di dunia yang super-sibuk, multitasking, dan kecanduan layar, beginilah keadaannya. [Visual] Orang mulai pulang membawa pekerjaan saat pekerjaan sebenarnya telah selesai. Dan seluruh dunia bilang, "Oke", dan kebiasaan itu menjadi norma baru. Orang mulai mengecek surel mereka setiap detik seperti burung pelatuk mematuki pohon. Dan seluruh dunia bilang, "Oke." Itulah norma barunya, dan kita menghadap ke arah sana. Setiap orang mulai meningkatkan kecepatan internalnya, dan kita bergerak lebih cepat dan lebih cepat lagi hingga kita berada di pesawat, dan kita mendesakkan tas kita ke bagasi kabin, dan kita takut membuat orang lain menunggu sebentar saja. Kita ikut dan kita ikut dan kita ikut.

Tapi kenapa kita menghadap ke arah itu? Ada banyak arah yang bisa kita pilih. Kita bisa memilih 25 hari PTO (paid time off) dalam setahun. Tetapi kita tidak melakukannya. Saya punya jawaban atas pertanyaan itu. Saya akan menunjukkan sebuah bahan tayang (slide). Akan sedikit rumit untuk dibaca, tetapi saya hanya ingin Anda mendapatkan pengertian akan gerakan dan kerumitannya. Kami telah mempelajari pertanyaan kenapa penyesuaian cenderung menimbulkan beban berlebih. Dan kami telah menyingkap 33 sumber tekanan yang menjadi alasannya.

Di bagan ini, kami menyebutnya bagan serangan, kita bisa lihat 33 sumber tekanan mengalir deras ke bawah. [Visual] Tekanan industri Anda mengalir ke tata nilai perusahaan, yang mengalir ke perilaku kepemimpinan senior, yang mengalir dan mengalir dan mengalir lagi sampai ke penerima banjir tekanan yang rumit dan beragam ini: Anda. Kita tidak sedang mengatasi masalah sederhana.

Sekarang, setelah melihat bagan ini dan membongkar elemen-elemennya, Anda akan menemukan empat elemen terpisah. Kami menyebutnya "pencuri produktivitas." Empat pencuri itu adalah dorongan, kecakapan, informasi, dan aktivitas. Tapi kenapa kita menyebutnya pencuri? Semua yang saya sebutkan adalah hal-hal positif. Dorongan, kecakapan, informasi, dan aktivitas adalah aset. Anda tidak akan dapat bekerja di mana pun tanpa empat hal itu. Anda tidak akan mempekerjakan orang yang tidak memiliki aset-aset itu.

Kami menyebutnya pencuri karena empat hal itu cenderung tumbuh melampaui batas. Dan jika ditarik ke titik ekstrem, keempatnya menjadi tidak produktif. Dorongan menjadi dorongan berlebihan. Kecakapan menjadi perfeksionisme. Informasi menjadi banjir informasi. Aktivitas menjadi hiruk-pikuk. Keempatnya dapat menjerumuskan kita ke dalam kecepatan dan tekanan yang mengurangi seluruh efektivitas kerja.

Namun, jika Anda ingin ruang putih yang lebih banyak, Anda harus belajar cara merancang dorongan, kecakapan, informasi, dan aktivitas dengan tujuan jelas agar keempatnya selalu melayani Anda. Bagaimana cara melakukannya? Untuk memulai jalan baru, kita hanya akan memperhatikan, hanya memperhatikan. Memperhatikan kapan dorongan, kecakapan, informasi, dan aktivitas menjerumuskan Anda untuk melakukan kerja berlebihan. Dan perhatikan kapan panggilan itu datang dari dalam rumah. Itu artinya, para pencuri itu juga merupakan bagian inti dari kepribadian kita, dan mereka muncul dengan proporsi yang berbeda-beda pada setiap orang.

Saya akan memberi contoh. Saya selalu menjadi yang pertama. Pencuri paling jahat dalam diri saya adalah kecakapan. Saya juga seorang perfeksionis yang berdedikasi. Omong-omong, saya juga menyukai para perfeksionis. Saya menyukai kalian dan saya sendiri dan kita semua karena kita bertanggung jawab atas begitu banyaknya kecakapan dan keindahan dan spesifisitas dan semua perhatian pada detail, dan itu mengagumkan. Namun, perhatian pada detail bisa menjadi berlebihan. Kita menjadi terlalu ketat melihat segala hal.

Nah, itulah pencuri paling jahat dalam diri saya. Dan saya melawannya hari demi hari. Segala sesuatu punya nilai, dan segala sesuatu punya bayang-bayang hitam. Yang manakah pencuri dalam diri Anda?

Langkah selanjutnya dalam proses ruang putih adalah memasang filter. Filter adalah bangunan mental yang menyela kecenderungan untuk secara otomatis pasrah pada pencuri. Dan semua filter yang akan saya ajarkan kepada Anda hari ini bersifat reduktif. Apa artinya? Artinya, tujuan dari filter itu adalah untuk mengurangi beban, membuang yang tidak diperlukan, keharusan dan aktivitas dan laporan dan pemberian tugas dan surel dan teks yang tidak diperlukan. Begitulah cara untuk mencipta kapasitas.

Dan untuk memikat dan membuat Anda bersemangat dalam menggunakan cara berpikir ini, bayangkanlah: jika saya dapat membebaskan 3 sampai 8 persen waktu yang biasa dipakai tim Anda, apa yang menurut Anda perlu mereka lakukan dengan waktu kosong itu? Apa yang Anda inginkan untuk mereka kerjakan? Anda bisa menjawabnya, tetapi Anda harus reduktif. Filter reduktif yang kita gunakan untuk ruang putih dalam pekerjaan dapat muncul dari empat pertanyaan. Kami menyebutnya pertanyaan penyederhana, dan keempatnya adalah:

  1. Adakah yang bisa saya buang?
  2. Apa yang sudah cukup bagus?
  3. Apa yang benar-benar ingin saya ketahui?
  4. Apa yang layak diperhatikan?

Dari lubuk hati paling dalam, saya bisa menjanjikan hal ini: Jika Anda tidak mendapatkan apa pun dari sesi ini kecuali empat pertanyaan itu, itu sudah cukup untuk sepenuhnya mengubah cara Anda bekerja. Dan Anda akan memperhatikan bahwa semua jalan akan kembali kepada para pencuri yang sudah saya sebutkan. Dorongan perlu mendengar: Adakah yang bisa saya buang? Kecakapan: Apa yang sudah cukup bagus? Informasi: Apa yang benar-benar ingin saya ketahui? Dan Aktivitas: Apa yang layak diperhatikan?

Lalu, apa selanjutnya? Mari kita ambil salah satu pertanyaan, dan membongkarnya sedikit demi sedikit untuk melihatnya diwujudkan dalam bentuk nyata. Pertanyaan pertama, Adakah yang bisa saya buang? Dan ingat, ini berlaku baik untuk level tim maupun organisasi. Adakah yang bisa saya buang? Adakah yang bisa kita buang?

Studi yang dilakukan Harvard Business Review menunjukkan bahwa secara umum hari kerja karyawan berpengetahuan diisi dengan 41% tugas dengan nilai rendah. Dan mereka mencoba berujar, "Mengapa susah sekali mendelegasikan pekerjaan ini? Mengapa susah sekali membuangnya?" Namun, masalahnya bukan hanya apa yang kita kerjakan di perusahaan dan organisasi. Kita menambah pekerjaan. Kita menambahkan inisiatif dan tugas; kita menambahkan proses. Kita tidak cenderung mengurangi pekerjaan. Penambahan kerja itu bersifat adiktif. Jika Anda ingin lebih banyak ruang putih, Anda perlu mulai mempraktikkan ini. Di akhir kerja, baik di level tim maupun organisasi, ajukan pertanyaan ini: Adakah yang bisa saya buang? Adakah? Dan apa yang bisa didiskusikan? Semuanya. Untuk daftar pekerjaan, tanyakan pada diri Anda sendiri: Apa yang tidak benar-benar perlu saya kerjakan, atau apa yang tidak perlu saya kerjakan sekarang?

Aktivitas—banyak yang bisa dibuang. Berapa banyak laporan yang benar-benar Anda butuhkan? Apakah semua permintaan dari seorang klien internal (karyawan) layak dipenuhi? Ke mana Anda dapat mengalihdayakannya? Bagaimana dengan kebiasaan beradu argumen, saling menyela atau kolaborasi berlebihan di lingkungan yang tidak memungkinkan untuk membuat sebuah keputusan? Cari jalan keluar.

Sekarang, saya akan memberikan cara berbeda untuk membuang yang tidak perlu. Saya menyebutnya "menyempitkan perimeter". Artinya, kita harus sangat waspada dalam memastikan bahwa upaya dan kecakapan kita tidak terbuang percuma karena melakukan pekerjaan di luar lingkup kerja kita, bahwa pekerjaan itu bukanlah kewajiban kita. Saya akan menceritakan pengalaman pribadi, sesuatu yang sulit saya atasi. Saya cenderung ikut campur mengurusi semua pekerjaan.

Saya menjadi pembicara kunci dalam sebuah konferensi. Saya telah selesai menyampaikan materi. Saya berjalan berkeliling ruang konferensi (konferensi dibagi ke dalam beberapa ruang kecil) dan sebuah judul di satu ruang yang menarik perhatian saya. Judul itu berbunyi, "Menyalurkan Hasrat Mengontrol" (Rewiring the Control Freak). Saya masuk dan duduk. Saya mendengarkan seorang motivator bergaya Tony Robbins. Dia bilang, "Hasrat mengontrol orang bisa berkurang jika mereka melakukan sesuatu lagi dan lagi dan lagi. Mereka harus melihat orang lain melakukan pekerjaan dengan buruk dan tidak melakukan apa-apa." Saya pilih makan kodok mentah! Bagaimana mungkin Anda melakukan itu? Jadi, saya mencoba, dan saya gagal. Dan saya mencoba, dan saya akan gagal lagi. Gagal, gagal, gagal, gagal, gagal, gagal.

Sekarang, kita percepat waktu ke acara Natal di rumah ibu saya. Kami bekerja keras untuk mendekor dan, ya, begitulah watak ke-Yahudi-an kami. Kami menghidangkan daging angsa. Kami menyanyikan lagu "Deck the Halls" Fa-la-la-oy. OKE. Jadi, ibu dan kakak saya ada di sana. Saya selalu kesulitan untuk menjelaskan bagaimana... bagaimana ngomongya. OKE. Ada dua orang dalam hidup saya yang tidak pernah gagal membuat saya tampak kompeten. Saya tidak yakin itu cara terbaik untuk mengatakannya.

Jadi, ibu dan kakak saya ada di sana, dan mereka mencoba membungkus hadiah menggunakan gunting bergerigi, sebuah gunting yang memiliki tepi zigzag. Mereka pikir membungkus hadiah dengan gunting bergerigi akan menyenangkan. Sekarang, gunting itu tersegel, gunting baru itu tersegel di bungkus plastik mengerikan yang tidak mungkin bisa dibuka oleh manusia. Jadi saya, sebagai anggota keluarga yang suka membantu, punya sedikit ide, ide yang begitu saja melintas di kepala. Dan ide itu adalah, Kenapa tidak menggunakan gunting lain dan memotong atasnya? Kemudian, untuk alasan yang tidak dapat saya jelaskan, orang dalam seminar itu muncul di kepala saya, dan saya berpikir, Oh, ini dia, ini dia, inilah dia. Jadi saya hanya duduk dan melihat.

Mereka menggigit paketnya dan mereka mencoba menggunakan garpu. Dan saya yang hanya duduk di kursi itu membatin, Potong atasnya, potong atasnya, potong atasnya. Tapi Anda tahu? Tidak ada yang mati. Kepintaran unik saya hanya jadi debu di rak buku dan tidak ada yang mati. Dan rasanya begitu membebaskan. Momen itu mempercepat penciptaan ruang putih sehingga tidak melakukan interupsi menjadi hobi baru saya. Saya akan berjalan-jalan di bandara dan supermarket dan mencari orang bodoh yang melakukan pekerjaan dengan sangat buruk sehingga saya tidak bisa membantu mereka.

Meski yang saya katakan itu tampak sebagai candaan, saya akan bilang bahwa belajar untuk mempersempit perimeter, belajar untuk bertanya dan bertanya lagi dengan sebuah filter Apakah ini pekerjaan saya? akan mempercepat penciptaan ruang putih. Ketika tergoda untuk turut campur, ingatlah bahwa setiap tindakan Anda, setiap sentuhan pada pekerjaan yang bukan tugas Anda, akan mengurangi kapasitas Anda. Bahkan di rumah. Anda sampai di rumah dan memperhatikan seseorang telah memasukkan piring ke dalam mesin pencuci piring dengan cara yang salah. Jangan hiraukan. Jangan hiraukan.

Saat kita kekurangan ruang putih, kita merasa bermasalah ketika santai. Salah satu cara untuk membuang perasaan bermasalah itu adalah dengan melakukan sedikit penghitungan. Karena kita semua dapat berpura-pura bahwa pekerjaan harus dijalankan dengan cara A, tetapi sebenarnya ada harga yang harus dibayar. Katakanlah, perusahaan dengan 10.000 karyawan mencoba untuk menghemat $50 juta per tahun. Angka itu tampak begitu besar, tetapi jika dipecah-pecah ke level bawah, angka itu bisa dikelola. Anda memiliki karyawan dengan penghasilan $80.000 per tahun; artinya, dia berpenghasilan $40 per jam. Penghitungan itu menunjukkan bahwa dia harus bisa mengembalikan nilai kepada perusahaan tiga kali lipat. Yaitu, $120 per jam.

Jika kita membuang 10 menit kesibukan tak berarti dari kerja 1 hari seorang karyawan, katakanlah, kita mengurangi surel cc yang dia dapat, kita sudah menghasilkan $20. Dua dolar per menit, $20. Sekarang, katakanlah kita melakukan itu setiap hari kerja selama setahun; jumlahnya $15.000. Jika kita kalikan jumlah karyawan sebanyak 10.000, ada penghematan $50 juta.

Sekarang, mari kita lihat contoh lebih kecil dalam level tim alih-alih level perusahaan. Kami bekerja dengan nasabah di industri farmasi. Di level tim, mereka sedang berupaya untuk menjawab pertanyaan, "Adakah yang bisa kita buang?" Seperti banyak orang, tanggapan pertama mereka adalah tidak. Semuanya penting. Kami terus mendesak mereka, dan akhirnya mereka berkata, "Hmm, kami mengerjakan laporan bulanan. Setiap orang bekerja sekitar satu jam sebulan untuk mengerjakannya. Kami adalah tim yang terdiri dari 100 orang, dan kami berbaris untuk menyerahkan sebuah laporan kepada CEO yang mungkin tidak pernah dibaca. Mungkin kita bisa berhenti melakukan itu." Dan mereka berhenti melakukan itu.

Kemudian mereka mulai menghitung, yaitu 100 orang per jam per bulan. Mereka baru saja membebaskan 1.200 jam. Artinya, dengan berhenti menulis laporan, mereka menciptakan ruang sebesar 60 persen dari waktu kerja seorang pegawai purnawaktu. Dan, atasannya bahkan lebih senang lagi karena ruang itu dicipta dari potongan kecil talenta dan kapasitas seluruh tim. Begitulah angka mendukung konsep-konsep yang sedang saya bicarakan.

Sekarang, pikirkan secara menyeluruh sebelum membuat keputusan. Adakah yang bisa kita buang? Kita telah memeriksa para pencuri; kita telah selesai dengan pertanyaan-pertanyaan; kita telah membongkarnya. Sekarang saya akan mengajak Anda untuk melatih penciptaan ruang putih.

Latihan yang akan kita bahas hari ini adalah mengenai salah satu alat yang menghalangi kerja Anda. Alat apa yang menghalangi kerja Anda? Alat yang saya maksud adalah sistem dan perangkat pendukung yang menjanjikan peningkatan kerja, tetapi kenyataannya malah cenderung melampaui batas, membajak waktu dan sumber daya kita. Misalnya: surel, teks, atau bahkan tim yang bisa jadi alat yang menghalangi kerja Anda.

Kita akan membahas surel. Dua ratus empat juta surel per menit—itulah yang kita kirim, dan semuanya begitu penting. Bukankah Anda menyukai orang yang mengirim surel kepada Anda dan bertemu Anda di lorong kemudian berkata, "Aku baru saja kirim surel. Mau kuceritakan isinya?" Sebagian besar orang mengeluh tentang jumlah surel, tetapi kita punya sudut pandang berbeda. Kita sebenarnya berpikir bahwa masalah terbesar tentang surel adalah bahwa kita semua ikut menciptakannya, dan sekarang kita tak bisa menggoncang asumsi perlunya tanggapan waktu-nyata. Dan surel dibuat untuk percakapan.

Surel tidak dirancang seperti itu. Surel dirancang untuk mengakomodasi komunikasi dengan jeda. Artinya, saya mengirim sesuatu kepada Steve saat saya punya waktu. Ping. Dan Steve membalas surel saya saat dia punya waktu. Ping. Dan tidak ada tekanan di sana. Kemudian beberapa orang yang terlalu bersemangat karena terlalu banyak kafein berpikir bahwa kita bisa mengubah surel menjadi olah raga kompetitif dengan mempercepat waktu tanggap. Jadi, sekarang, rata-rata orang menghabiskan seluruh harinya di depan kotak masuk dengan bet Pingpong dan bersiap untuk memukul balik bola pingpong secepat mungkin atau dia akan kehilangan poin. Dan itu bencana. Bencana bagi kerja berpikir mendalam.

Lalu, apa yang bisa kita perbuat? Saya akan memberi Anda satu latihan kecil yang kami sebut kode "BR". Kode BR adalah petunjuk. Kode itu adalah petunjuk yang kita sematkan pada kolom subjek surel untuk menerangkan urgensi sebenarnya, lawan dari halusinasi urgensi. BR artinya "Butuh Respons" di kolom subjek surel. BRHI adalah "butuh respons hari ini." BRC adalah "butuh respons cepat." Dan favorit saya, BRHKB, adalah "butuh respons hari kerja berikutnya." Kita semua bepergian, kita semua sibuk. Anda menulis draf surel hari Minggu dan turun dari pesawat di zona waktu berbeda. Anda tidak ingin menyimpannya sebagai draf, dan kemudian mengirimkannya ke semesta dengan BRHKB, dan dengan begitu Anda telah berkomunikasi dengan tim Anda. Tidak, jangan menaruh sudip di hari Minggu dan meninggalkan barbeku Anda. Tidak perlu terbangun di tengah malam. Hari kerja berikutnya tidak masalah.

Jika ada tongkat sihir, kita akan membuat laku kerja menjadi proses yang dapat diandalkan. Artinya, kita akan mengerahkan semua kecakapan dan kreativitas di perusahaan dan organisasi kita, semua yang baik, semua niat, semua perhatian, dan semua itu akan menjadi aliran manfaat yang tiada terkira. Semua itu akan mengisi gelas kosong pengguna akhir.

Harus saya katakan kepada Anda bahwa bagan serangan yang saya tunjukkan di awal, dan semua daya yang turun untuk menjadi beban Anda, semua itu musuh Anda. Tapi saya ingin Anda mempertimbangkan aliran yang berbeda, aliran manfaat ruang putih. Bagaimana jika ada sebuah aliran dari perusahaan atau organisasi yang kecepatan dan iramanya seiring dengan manusia, bukan mesin? Yang dapat mengaliri para pemimpin senior dengan waktu untuk membuat strategi dan memeriksa titik buta mereka? Yang dapat mengaliri personel garis depan dengan lebih banyak kreativitas dan produktivitas dan keterlibatan? Yang dapat mengisi gelas kosong pengguna akhir sehingga pengalaman mereka dengan perusahaan atau organisasi Anda menjadi begitu berkesan? Dengan ruang putih, ke sanalah tujuan kita.

Dan saya harap Anda ikut ke sana.

Funt

Juliet Funt adalah CEO WhiteSpace at Work, sebuah firma pelatihan dan konsultasi yang membantu perusahaan, pemimpin, serta karyawan mereka memutar-balikkan norma-norma bisnis untuk merengkuh kembali kreativitas, produktivitas, dan mempererat hubungan. Dengan konten yang merangsang pikiran dan alat yang dapat langsung digunakan, Funt berhasil menjadi pakar yang diakui secara nasional untuk urusan menghadapi "Zaman Luber" yang menjadi lingkungan hidup dan kerja kita saat ini. Klien-kliennya meliputi sejumlah perusahaan Fortune 100 dan berasal dari berbagai jenis industri.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments