Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Janji

Jason Hewlett

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Ada perbedaan besar di antara tujuan dan janji. Kalau tepat janji, Anda mendapat rasa percaya. Dalam presentasi yang sangat dinamis dan diisi dengan impresi para penyanyi legendaris ini, Hewlett menghadirkan pentingnya memiliki kekhasan sendiri dan bahwa hadir di setiap situasi akan mempererat jalinan hubungan dengan orang-orang terpenting dalam hidup kita.

Saya ingin mulai dengan satu pertanyaan, mengapa menetapkan sasaran jika berjanji saja sudah cukup? Saya tidak hendak menyepelekan sasaran yang tentu saja penting. Akan tetapi, sasaran hanyalah butir informasi, sementara janji, sebuah pernyataan. Coba pikirkan, gagal mencapai sasaran yang sudah ditentukan bukan petaka. Tinggal tentukan lagi sasaran baru. Akan tetapi, jika berjanji dan gagal menepatinya, maka itu akan jadi masalah besar yang berdampak pada bisnis, juga relasi. Saya percaya janji adalah kata paling ampuh dan paling penting dalam hidup, dalam bisnis—lebih kuat dari kepercayaan. Karena kepercayaan dibangun dari janji yang ditepati.

Saat membicarakan janji-janji besar yang sudah dibuat, saya terbayang ruangan ini dan anggota MDRT di dalamnya. Selamat, semua yang di sini sudah menunjukkan kinerja yang amat luar biasa. Saat bicara kinerja, kita harus ingat legenda-legenda besar terdahulu. Seandainya saya bisa ajak Anda semua ke masa awal karier saya sebagai performer, Anda akan lihat saya menirukan beberapa legenda terbesar pertunjukan Las Vegas. Mereka pegang teguh janjinya, mereka performer yang menawan. Semoga Anda semua siap bersenang-senang dengan Frankie Valli and the Four Seasons. Seperti ini kira-kira...

(Bernyanyi)

Ada yang tahu? (Tepuk tangan)

Lalu tentu saja ada legenda lain selain Jersey Boys. Ada banyak sekali legenda, sulit rasanya memilih mana yang harus ditampilkan. Akan tetapi, karena saya menyukai kota Detroit, saya akan tampilkan Motown. Musiknya sungguh menggugah hati. Sewaktu kecil, saya mendengarkan musik ini bersama keluarga. Saya berkata, “Ibu, kenapa kakiku bergerak sendiri?” Ibu pun menjawab, “Ikuti saja musiknya, nak.” Semoga Anda tahu The Temptations. Begini bunyinya...

(Bernyanyi)

(Tepuk tangan)

Selanjutnya, kita tampilkan Diana Ross dan Supremes. Seperti inilah kira-kira penampilan mereka. Mari kita lakukan bersama-sama. Tolong saya.

(Bernyanyi)

Biarkan imajinasi Anda bermain. Saya tahu ini mungkin sedikit susah.

(Bernyanyi)

Sekali lagi, mari.

(Bernyanyi)

(Tepuk tangan)

Harusnya saya pakai kacamata hari ini. Tapi seperti inilah kira-kira. Ayo, mari bersenang-senang. Satukan tangan Anda. Ha ha! Sudah siap?!

(Bernyanyi)

Stevie Wonder!

Orang-orang ini legenda hidup pada masanya. Penampilan mereka yang bertabur gerakan yang khas dan menawan merupakan janji, yang selalu ditepati saat naik ke atas panggung. Mereka tampilkan sesuatu yang unik dan kita semua menyukainya. Kita ingin dengarkan lagu andalan mereka, suara indah yang jadi ciri khasnya. Diana Ross punya ciri khas seperti ini, [visual] dan The Temptations punya kekhasannya sendiri. Saya bahkan tidak perlu memutar musik dan cukup bertanya, “Siapa saya?” Dan Anda semua pasti tahu kalau jawabannya Stevie Wonder.

Jadi, pertanyaannya, apa gerakan khas Anda, dan bagaimana Anda tampil beda di dunia yang seragam ini? Pada dasarnya janji punya tiga unsur utama. Unsur pertama, penonton. Jika kita anggap diri kita performer, kita pasti punya penonton. Penonton itu nasabah, pelanggan yang kita tawari produk. Sebagai performer, kita pasti ingin membuat mereka tergila-gila.

Yang kedua, keluarga. Keluarga yang dimaksud bukan hanya keluarga di rumah, tapi juga keluarga di kantor, rekan-rekan yang kita kasihi dan percayai. Kemudian ada satu lagi, yang terakhir. Tapi saya ingin Anda semua memikirkan apa kiranya unsur ketiga itu bagi Anda selama presentasi ini disajikan.

Mari kita mulai dengan penonton. Siapa penonton Anda? Janji seperti apa yang Anda buat untuk mereka, dan janji apa yang tanpa sadar Anda buat untuk mereka, janji yang, jika tidak ditepati, bisa membuat bisnis hancur? Saya punya satu cerita yang dekat dengan industri Anda. Ada seorang mahasiswa di University of Utah, dan dia bingung memilih mau jadi dokter atau pengacara. Pada akhirnya, ia menikah dan mulai bekerja paruh waktu menawarkan layanan asuransi. Lalu ia menyadari di situlah keahliannya. Asuransi ini industri yang penuh tantangan bagi pelaku di dalamnya. Akan tetapi, pria ini berhasil, sama seperti Anda semua.

Suatu saat ia sadar kalau uang yang dihasilkannya lebih besar dari penghasilan profesornya. Saat masa kuliahnya hampir usai, ia pun berpikir, Mengapa aku masih di sini? Aku bisa saja jadi sales asuransi. Ayahnya pernah coba bekerja di asuransi, tapi tidak begitu sukses. Jadi, saat ia pulang ke rumah dan berkata pada istrinya, “Aku akan coba. Ya, aku akan mencobanya”—itu pilihan berisiko. Namun, seiring berjalannya waktu, ia tahu gerakan khas legendarisnya, ia ajak semua nasabahnya menonton pertandingan golf. Ia biasa mengajak nasabahnya nonton pertandingan Utah Jazz dan duduk di baris depan. Ia lakukan itu selama 20 tahun. Semua orang ingin ada di dekatnya dan ingin mengenalkan nasabahnya kepada pria ini. Pria ini punya dampak besar di hidup semua orang karena ia tahu pentingnya asuransi dan paham kalau bisnis ini suatu relasi. Penontonnya itu, ya, semua nasabahnya.

Kisah hidupnya hampir jadi lelucon keluarga. Setiap kali ia hendak pulang ke rumah, semuanya bertanya-tanya, Patung atau pedang Excalibur mana lagi yang akan dibawanya pulang hari ini? Semua itu karena ia anggota Million Dollar Round Table. Pria itu ayah saya. Namanya John Hewlett. Saya menghormatinya karena kariernya amat gemilang di industri asuransi. Saya tidak pernah berhasil ada di posisi Anda saat ini meski ayah saya terus mendorong saya untuk mengejarnya. Ia ingin anaknya jadi pekerja asuransi. Tetapi saya gagal mewujudkan impiannya. Saya katakan kepadanya, “Sepertinya tempatku ada di atas panggung.” Karena itu, bukannya jadi penonton seperti Anda semua, saya malah senang bisa berdiri di sini.

Ayah saya akhirnya terjun ke industri baru, yaitu industri kesehatan dan kebugaran, dan ia cepat sekali sukses. Saya sangat bangga kepadanya. Gerakan khasnya sungguh dahsyat. Banyak orang masih sering berkata: “Saya ingat ia dulu mengajak saya ke pertandingan Jazz” atau “Saya dulu pernah main golf dengannya”. Bagi orang-orang itu, ayah saya adalah performer legendaris.

Berhubung kita sedang membicarakan performer legendaris, saya ingin Anda berpikir tentang orang-orang hebat yang sudah pergi mendahului kita. Belum lama ini kita kehilangan Prince, David Bowie, dan Tom Petty. Mereka orang-orang hebat. Saya ingin membicarakan pria bernama Michael Jackson, yang sampai kapan pun akan tetap jadi legenda bagi kita. Bayangkan Anda sedang menyaksikan konsernya di era 1990-an. Pastinya ada satu gerakan yang Anda nantikan. Gerakan apakah itu?

Penonton: Moonwalk.

Bagaimana seandainya kalau dalam konser yang Anda saksikan itu ia tidak mengeluarkannya? Anda tentu kecewa, tak peduli seberapa kerennya penampilannya saat itu. Karena dia itu Michael Jackson. Akan tetapi, ia tak akan mungkin naik ke atas panggung tanpa menyuguhkan gerakan yang membuatnya terkenal. Gerakan itu alasan penontonnya terus kembali datang melihatnya. Mari saya tunjukkan seperti apa rasanya saat ia gagal memenuhi janjinya kepada Anda, penontonnya. Saya akan tunjukkan rasanya kecewa, meski mungkin penampilannya tetap memukau seperti biasa.

(Bernyanyi)

Mari bernyanyi bersama.

(Bernyanyi)

Memang asyik, tapi masih ada yang kurang, bukan? Anda ingin lihat semuanya. [menari seperti Michael Jackson]

Terima kasih. [suara Michael Jackson] Michael Jackson. [suara normal]

Michael Jackson itu seorang legenda. Itu semua karena ia selalu berjanji setiap kali tampil di panggung, dan ia tak pernah ingkar. Dan jika Anda pergi ke sebuah konser karena sudah tidak sabar menyaksikan aksi performer favorit, Anda pasti kecewa jika ia tidak memainkan lagu terbaiknya. Karena itu, saya ingin Anda pikirkan apa yang Anda janjikan kepada penonton. Dalam konteks penonton, jika saya bertanya kepada Anda, “Apa gerakan khas Anda?”, Anda mungkin bertanya-tanya pada diri sendiri, Apa aku punya gerakan khas?. Percayalah, Anda punya. Banyak orang baru menyadarinya saat bersinggungan dengan keluarganya. Keluarga di kantor dapat membantu kita menemukannya karena kita semua punya sesuatu yang unik dan berbeda.

Mari saya kisahkan satu cerita tentang keluarga di tempat kerja. Kisah ini terjadi baru-baru ini, dan membekas di hati saya karena setiap membicarakan keluarga, kita mungkin akan bertanya-tanya, siapa sebenarnya keluarga itu? Keluarga bisa saja mereka yang Anda sebut tim, komunitas, kru, atau kelompok—bisa apa saja. Kita semua di sini keluarga MDRT. Saya ingin Anda merenungkan kata keluarga. Karena kata keluarga lebih kuat dari kata lainnya.

Jadi, cerita yang masih hangat ini mengisahkan seorang pria yang berjalan kaki ke kantornya setiap hari. Hampir delapan belas kilometer. Kisah ini terjadi di Arkansas. Di Arkansas, ia berjalan kaki ke kantor setiap hari. Tidak ada yang tahu, tapi ia harus berjalan hampir 18 kilometer untuk bekerja. Pria ini harus sampai di kantor pukul empat pagi karena ia bekerja di kantor pos. Nah, di setiap kantor pasti ada yang berperan sebagai ibu, bukan? Namanya Mama Pat, dialah yang menyadari pria ini berjalan tiap pagi ke kantor selama tujuh bulan. Mama Pat lalu mengajak banyak orang patungan untuk membelikan pria ini mobil bekas, hanya mobil biasa. Saturn ION. Mereka hadiahkan mobil itu kepadanya, dan Trenton Lewis sangat kaget.

Mobil itu mengubah seluruh hidupnya. Semuanya berkat keluarganya di kantor. Dan lewat cerita “keluarga” ini, saya ajak Anda memikirkan keluarga apa yang Anda punya, karena mungkin saja keluarga Anda keluarga di kantor. Mungkin saja keluarga Anda keluarga MDRT. Bagaimana dengan keluarga Anda? Siapa saja mereka? Seperti apa mereka di mata Anda? Kita semua punya definisi keluarga masing-masing. Ini foto keluarga saya. [visual] Inilah orang-orang yang saya cintai. Kami diberkati dengan empat anak dalam lima tahun dan karenanya saya selalu mengantuk. Sudah lama sekali saya tidak bisa tidur nyenyak.

Anak yang berdiri di samping ini bernama Romney. Nama khas orang Utah, Romney. Pada suatu hari saat ia berusia tiga tahun, saya baru saja kembali dari perjalanan dan, sebagai ayah, saya memarahi anak-anak lucu itu. Semuanya kacau. Setelah itu, setiap kali pulang, saya bertekad: Saya akan jadi ayah yang lebih baik. Sasaran saya adalah jadi ayah yang lebih baik. Pada suatu ketika, saya pulang ke rumah, dan mengharapkan pelukan dari anak-anak, tetapi mereka tidak melakukannya. Saya tanya istri saya, apa yang salah? Jawabnya, “Kamu harus ajak Romney jalan-jalan.”

Maka kami pun melakukannya. Kami pergi bermain berdua dan bersenang-senang. Saya mengajaknya sarapan di McDonald's dan ber-selfie di sana. Kata saya, “Ayo main perosotan!” Romney naik ke atas dan berkata, “Ayah! Ayah!” Lalu ia meluncur turun. Saya berkata, “Ayo coba lagi.” Romney kembali naik dan berkata, “Ayah! Ayah!” Lalu ia meluncur turun. Lagi-lagi Romney berkata, “Ayah! Ayah!” Waktu itu saya berpikir, Oke, sudah cukup.

Seperti itulah saya, orang yang sibuk bepergian. Saya selalu sibuk membereskan banyak hal lewat telepon. Saat bosan menjadi ayah, teleponlah yang jadi pelarian. Lalu saya buka Facebook, menyimak kehidupan orang lain saat seharusnya saya menemani Romney. Foto selfie yang baru semenit lalu diambil pun saya posting, dan saya menulis “Senangnya bermain berdua bersama anak...”. Tapi kemudian saya menyadari kemunafikan saya sendiri.

Detik itu juga saya mengambil satu keputusan berat, menghapus aplikasi favorit saya itu. Jadi, bagaimana caranya hadir 100 persen? Jika Anda berpikir, Aku tidak punya gerakan khas, saya ingin Anda berpikir, mungkin jawabannya adalah kehadiran. Jadilah diri Anda yang sekarang ini, 100 persen fokus. Karena bagaimanapun juga, meski benda kecil ini bisa membuat bisnis berjalan dan menghubungkan Anda dengan dunia, Anda bisa jauh dari keluarga karenanya. Maka hari ini, saya ingin sedikit bernyanyi untuk semua orang yang membekas di ingatan.

Saya harap Anda semua tahu Nat King Cole dan anak perempuannya, Natalie.

(Bernyanyi)

Daripada mengejar target menjadi ayah yang baik, berjanjilah untuk jadi sosok ayah dambaan semua anak. Saya dorong Anda semua di sini untuk melakukannya demi keluarga.

Nah, sejauh ini kita sudah bahas penonton, nasabah Anda. Kita sudah bicara soal menepati janji kepada keluarga di kantor dan di rumah. Yang terakhir ini adalah seseorang. Siapakah seseorang itu? Seseorang itu Anda sendiri. Kenapa Anda? Itu karena melanggar janji kepada penonton dapat menghancurkan bisnis. Jika melanggar janji kepada keluarga, Anda akan ditinggalkan. Lantas, bagaimana jika janji kepada diri sendirilah yang dilanggar? Siapa yang akan peduli? Jawabannya diri kita sendiri.

Saat masih kecil, saya menyadari ada yang berbeda pada diri saya. Kenyataan itu sulit saya pahami dan sadari, karena saya memang anak yang aneh. Waktu itu usia saya lima tahun. Di dalam bus sekolah saya mendatangi satu anak yang kupikir cukup keren dan berkata, “Aku mau duduk di sebelahmu!” Katanya, “Mulutmu besar sekali.” Usia saya baru lima tahun. Masih TK. Dan itu hari pertama sekolah. Itu pertama kalinya saya naik bus sekolah. “Mulutmu besar sekali.” Saya balas saja, “Memang”. [membuat suara] Dan ia berkata, “Lagi,” dan saya pun, “Ahhhh.” Lalu ia berkata, “Ayo duduk bareng. Kamu lucu.”

Sepanjang perjalanan ke sekolah anak itu terus berkata, “Ulangi lagi suara mulutmu.” “Ahhhh.” Dan anak-anak lain juga berkata, “Anak itu mulutnya besar.” Jadilah saya dikenal sebagai anak dengan mulut yang besar. Sepulangnya dari sekolah, ibu bertanya, “Gimana rasanya sekolah? Senang?” Saya jawab, “Tidak, mereka bilang aku jelek dan mulutku besar.” Seperti ibu pada umumnya, ia memandangi saya dan berkata, “Nak, kamu tidak jelek, . . . tapi mulutmu memang besar.” Ibu menambahkan, “Kalau ada yang bilang begitu, senyum saja. Senyumlah.” Saya jawab, “Aku nggak mau senyum.” Ibu membalasnya, “Senyum saja.”

Di usia belia saya belajar kalau orang akan tersenyum jika kita tersenyum kepadanya. Dan apa yang saya berikan adalah apa yang saya dapatkan. Saya sungguh bersyukur punya ibu yang sejak awal sudah mengajarkan itu. Tidak ada yang berubah hingga tiba saatnya kunjungan ke dokter gigi yang membuat saya menyadari kebaikan menjadi diri sendiri, jadi orang bermulut besar. Dokter gigi membuat saya menyadari, mulut besar itu bermanfaat. Waktu itu dokter berkata, “Buka yang lebar.” Dan saya pun, “Ahhhh.” Dokter berkata, “Astaga. Muat dua tangan!” Dokter menambahkan, “Kamu harus bersyukur punya mulut besar.” Saya jawab, “Aku tidak merasa beruntung.” Dan ia jawab, “Mulut besarmu keren karena kedua tanganku bisa masuk dan kamu tetap bisa berbicara normal.” Luar biasa, bukan?

Lalu saya sadar kalau saya bisa menirukan suara ruang periksa dokter gigi saat ia sedang bekerja. Saya berbuat usil dan ia tidak menyadarinya. Dan saya merasa nyaman dengan situasi ruang periksa itu. Saat mendengar suara mesinnya, saya pun menirukannya, [suara ruang periksa dokter gigi]. Dokter berkata, “Nyala nggak, sih, ini?” Dan saya berkata, “Aduh, mesinnya nyangkut di lidah.” [suara ruang periksa dokter gigi] “Stop, jangan begitu.” Lalu ia berkata, “Anak yang aneh.” Saya jawab, “Memang,” dan ia menarik mesinnya keluar dari mulut saya. Tetapi mulut saya tetap seperti ini. Ia berkata, “Kok bisa, sih?” Saya jawab, “Tidak tahu.” Dan ia berkata, “Stop.” Dan saya pun berhenti. Lalu katanya, “Coba ulangi lagi,” dan saya menurut. Katanya, “Itu bakatmu.”

Itulah pesan moral yang hendak saya sampaikan hari ini. Syukuri bakat yang ada. Nah, coba pikirkan bakat Anda dan syukurilah apa yang Anda punya! Dan gunakan bakat itu. Anda punya bakat yang tidak saya miliki. Saya punya bakat yang tidak Anda inginkan. Saya ingin Anda semua menyadari itu. Dokter gigi itu juga berkata, “Kalau sisi mulut yang satu bisa, harusnya sisi yang satu lagi juga bisa.” Dokter itu benar. Sesampainya di rumah saya mencoba gerakan ini dan akhirnya menemukan cara membuat orang tersenyum. Seperti menyambut ombak, seperti lautan. Ini satu-satunya hal yang membuat masa kecil saya menyenangkan, dan saya terus melakukannya. Saya sadar kalau saya bisa melakukannya dengan bibir bawah juga alis, bahkan hidung saya. Luar biasa, bukan! Dokter gigi itu membantu saya menemukannya.

Dan saya berjanji kepada diri sendiri untuk membagikannya pada setiap kesempatan, kapan pun di mana pun. Saya akan membuat semua orang tersenyum. Sekarang, katakanlah saya pergi ke restoran dan pelayannya bertanya, “Pesan apa, Pak?” Jawabannya bisa saja hanya, “Saya pesan salad.” Dan percakapan berakhir begitu saja. Pilihan lainnya adalah menepati janji pada diri sendiri, karena janji adalah bentuk komitmen tertinggi dalam kehidupan. Dan dengan melakukannya saya bisa mencerahkan hari pelayan itu. Si pelayan akan berkata, “Pesan apa?” Dan saya akan menjawab, “Punya selada? [goyang hidung] Aku mau wortel.”

Saya harap Anda semua mempertimbangkan pesan tentang janji ini. Janji apa yang perlu Anda buat dan tepati kepada penonton, keluarga, dan diri sendiri? Janji apa yang mungkin tanpa sengaja Anda buat dan orang lain berharap Anda menepatinya? Anda bisa bersuara. Anda punya gerakan khas. Anda punya sesuatu yang membuat Anda berbeda dari yang lain. Semua akan sia-sia jika Anda punya sesuatu, tapi tidak membagikannya.

Saya harap Anda tahu penyanyi yang satu ini. Lagu penutup ini karya salah satu penyanyi favorit saya.

Louie Armstrong.

Karena kita semua hidup di dunia yang indah.

(Bernyanyi)

(Tepuk tangan)

Hewlett

Di hadapan publik, Jason Hewlett menyampaikan gagasannya lewat penampilan otentik, humor, musik, dan impersonasi yang dipadukan dengan prinsip-prinsip bisnis praktis, yang dapat diterapkan dalam aspek kepemimpinan, kewirausahaan, dan dampak kebudayaan. Salah satu orang termuda yang pernah dilantik ke dalam Hall of Fame Pembicara Sempurna oleh Council of Peers Award yang bergengsi, Hewlett telah menyampaikan presentasi motivasi dan manajemen untuk beberapa acara perusahaan terbesar di dunia.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments