Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Daya Diam Sejenak

Romie Mushtaq, M.D.

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Ketika terlalu sibuk dan tertekan, orang berupaya keras untuk jeda dan menyapa rasa bahagia, tetapi malah bergeser dari satu masalah ke masalah baru. Kalau bersedia untuk berhenti sebentar, kata Mushtaq, kita menciptakan ruang bagi pikiran dan hati yang terbuka. Di sesi ini, Romie Mushtaq, seorang ahli saraf, akan membahas cara membuat otak kita merasa lebih tenang dan cara membebaskan diri dari jeratan hidup yang terlalu sarat akan jadwal.

Pernahkah Anda berjalan ke ruangan yang dipenuhi orang dan merasa sendirian, seakan-akan tak ada yang melihat Anda, apalagi percaya pada kemampuan Anda? Menyeimbangkan tanggung jawab hidup dan kerja bisa begitu berat sehingga Anda tidak yakin apakah masih percaya pada diri Anda sendiri.

Suara khas sepatu hak tinggi bergema di koridor rumah sakit yang sebelumnya tidak pernah dikunjungi stiletto. Klik klik klik klik. Itu adalah sinyal untuk para kolega, perawat, dan pasien bahwa dia telah tiba—seorang dokter otak perempuan, spesialis epilepsi, dan pecandu coklat yang tak mungkin bisa disembuhkan.

Saya masuk neurologi ketika jumlah ahli saraf perempuan kurang dari 5 persen. MDRT menyambut anggota perempuan pertamanya dua puluh tahun sebelum komunitas neurologi melakukannya di Amerika Serikat. Saya langsung paham bahwa saya harus menundukkan kepala, meninggikan hak sepatu, dan tetap fokus pada sinar laser. Yang terjadi sebenarnya adalah: saya kewalahan dan kurang tidur karena mencoba memenuhi jam kerja mingguan 80 dan 90 jam. Saya merasa sendirian, dan setiap pagi berdoa agar orang tidak mengetahui aib dan rasa kesepian yang saya sembunyikan di balik seragam laboratorium yang saya kenakan.

Untuk para perempuan di sini, saya ingin mengucapkan selamat kepada Anda semua karena telah menjadi pemimpin perempuan di MDRT di industri keuangan dan di masyarakat. Diskusi mengenai hak-hak perempuan di tempat kerja belum pernah terjadi dalam sejarah di sini di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Jika Anda merasa kewalahan atau sendirian, saya harap Anda akan ingat pesan saya: ambillah jeda. Ketika mengambil jeda, saya harap Anda menemukan suara Anda dan bertahan dengan kekuatan Anda.

Sejak momen kesepian yang terjadi hampir 10 tahun lalu itu, saya telah belajar bahwa saya bukan hanya satu-satunya laki-laki atau perempuan profesional yang hidup dengan dorongan untuk sukses, yang merasa terjebak dalam suatu kehidupan yang kita ciptakan sendiri. Tidak ada yang kebal terhadap rasa kesepian atau ketidakbahagiaan meski dunia berpikir Anda telah sukses besar. Solusinya ada pada daya waktu jeda.

Kita mengambil jeda dan menetapkan tujuan lain, seperti menghadiri Pertemuan Tahunan, menguruskan badan, meningkatkan penjualan dua kali lipat dari tahun lalu. Kita mencipta tekanan pada diri sendiri untuk mencapai tujuan itu. Kita sukses dan kemudian berpikir, Apakah sekarang saya bahagia? Kebahagiaan cuma mampir sebentar dan kemudian kita merasa kesepian dan tidak bahagia. Kita memulai siklus stres-sukses itu lagi. Terjebak dalam siklus stres-sukses tidak hanya membuat kita tidak bahagia, tetapi juga berbahaya untuk kesehatan. Stres bisa membunuh. Saya tahu itu bukan hanya karena saya seorang dokter tetapi karena stres hampir membunuh saya.

Saya ingat, suatu siang saat berada di klinik sebagai dokter praktik, perawat saya mengetuk pintu dengan panik dan berkata, "Dr. Mustaq, maaf mengganggu, tapi ibu Anda menelepon dan bilang ada masalah penting." Saya segera ikut panik. Sama seperti banyak dari Anda, salah satu peran saya adalah sebagai putri yang berbakti pada orang tua. Saya khawatir sesuatu terjadi pada ibu atau ayah saya. Saya berlari menuju bagian depan dan mengangkat telepon, "Halo, Bu. Ada apa?"

"Romie bhayta, tante-tantemu datang siang ini untuk merayakan chai. Semuanya, akhirnya Romie mengangkat telepon. Bilang halo."

"Halo, sayang. Kami bangga padamu. Kamu sudah besar dan jadi profesor dokter. Sudah dapat calon suami di rumah sakit?"

Saya segera sadar, mereka tidak sedang berada dalam masalah. Sayalah yang berada dalam masalah. "Bu, aku lagi kerja. Semua orang menatapku sekarang. Nanti telepon lagi, ya." "Tidak! Aku dan tante-tantemu punya pengumuman penting. Kami bicara soal kamu yang sudah beberapa kali tidak hadir dalam pertemuan keluarga dan tampak stres berat. Kami sepakat: kamu harus meditasi."

"Ibu meneleponku agar aku meditasi? Aku harus kerja. Aku itu dokter yang sukses dan sibuk."

"OKE, OKE, OKE, Bu Dokter yang sibuk. Sekarang kamu boleh pergi. Nanti malam Tante Deepa akan meneleponmu jam setengah delapan untuk memberikan instruksi meditasi. Ayo semua, bilang da-da pada Romie."

"Da-da, sayang. Kami bangga padamu. Terus kerja keras sebagai dokter. Tapi, kerja keras juga untuk dapat suami."

Saya tiba-tiba merasa jadi orang kerdil. Saya merasa seperti jiwa saya baru saja diserang. Jadi, jika Anda duduk di sini dan bertanya-tanya, Mengapa Komite Perencanaan Tahunan MDRT menghadirkan seorang dokter otak untuk berbicara tentang kewaspadaan (mindfulness) dan meditasi, jawabannya: Diam sejenak. Ambil napas. Dan percayalah, ada pesan yang perlu otak kita dengar dan hati kita rasakan.

Saya tidak mendengarkan nasihat tante dan ibu saya. Saya terus bertarung di siklus stres-sukses sampai saya mulai merasakan sakit di dada. Awalnya, dokter tidak bisa mengerti apa yang terjadi. Mereka mengira itu asam lambung dan stres. Mereka menyuruh saya berhenti makan coklat dan minum obat mag. Anjuran itu tidak manjur, jadi saya mulai makan coklat lagi. Saya sadar saya dalam bahaya saat mulai bangun tengah malam karena sulit bernapas. Saya tak bisa menelan makanan, saya tersedak karena air liur saya sendiri dan kemudian muntah. Di titik itu, saya didiagnosis menderita gangguan medis langka yang disebut akalasia; dan gangguan itu begitu parah sampai saya harus dioperasi. Saya ingat berbaring di brankar sebelum dioperasi, khawatir jangan-jangan saya menderita kanker atau akan cacat. Saya masuk ke ruang gelap dan bertanya-tanya, Bagaimana bisa saya, yang konon hidup sukses, jatuh hingga titik serendah ini?

Setelah operasi, saya mulai melakukan yoga ringan dan meditasi. Dengan meditasi, rasa sakit pasca-operasi berkurang dan suasana hati saya mulai membaik. Manfaat yang saya rasakan itu membuat saya berkeliling dunia mempelajari peran kewaspadaan (mindfulness) dan meditasi. Setelah membaca banyak penelitian tentang daya praktik berbasis meditasi dan kewaspadaan (mindfulness) untuk membantu kesehatan badan dan pikiran, saya tahu saya mesti membagikan apa yang saya dapat kepada pasien dan orang lain yang terjebak dalam siklus stres-sukses.

Di sini hari ini, saya ingin Anda membuka hati dan pikiran untuk menerima daya waktu jeda. Pelajaran ini selaras dengan konsep inti MDRT, Whole Person, untuk mencapai keseimbangan dalam hidup.

Saat diam sejenak, kita menenteramkan otak dan merasa kembali mampu mengendalikan situasi. Anda tahu, terjebak dalam siklus stres-sukses akan memberi dampak negatif pada otak kita. Ada kawasan di otak kita yang disebut lobus temporalis, yang bertanggung jawab atas ingatan dan perasaan. Di dalam lobus temporalis, amigdala bertindak seperti menara ATC di otak kita. Amigdala memproses semua kata dan bunyi yang kita dengar, semua yang dilihat mata, dan sensasi lainnya menjadi ingatan, tindakan, dan perasaan.

Bila kita terjebak dalam siklus stres-sukses, menara ATC di otak kita macet, dan memunculkan reaksi stres. Otak seperti dibajak dan kita tidak mampu berpikir jernih. Emosi mengambil alih pikiran rasional. Saat otak beku, kita menjadi reaktif. Risikonya bisa berupa membalas surel dengan kata-kata kasar, salah bicara saat presentasi penjualan, atau memicu konflik dengan kolega kita.

Untuk mengendalikan situasi ini, kita harus mengendalikan otak kita. Rahasianya ada pada daya waktu jeda. Saat kita mengambil jeda dengan mengatur napas, meditasi, atau teknik-teknik kewaspadaan lainnya, kita dapat menggeser kondisi otak dari beku menjadi tenteram dan terkendali. Saat otak kita tenteram dan terkendali, kita memutus rantai siklus stres-sukses dan bergerak maju, mencapai tujuan dengan performa tinggi yang konsisten.

Jadi, bagaimana kita menerapkan daya waktu jeda ke dalam hidup yang disesaki jadwal? Anda mungkin berpikir tidak ada waktu untuk bermeditasi. Ada yang sama dari kebiasaan psikologis orang-orang dengan pencapaian tinggi: Mereka mengerti bahwa untuk menambah kecepatan, mereka harus lebih rileks. Ya, untuk menambah kecepatan, Anda harus lebih rileks.

Rileks dengan daya waktu jeda dipraktikkan dalam tiga langkah sederhana:

  1. Keluar dari jerat perangkat digital.
  2. Tuangkan isi kepala.
  3. Jeda untuk bernapas.

Langkah 1: Keluar dari Jerat Perangkat Digital

Langkah pertama dalam daya waktu jeda adalah memutus sambungan dengan perangkat digital kita. Dalam dunia yang sangat terhubung, ada ekspektasi untuk terus tersedia setiap saat. Saya meminta Anda untuk mematikan semua perangkat elektronik 30 hingga 60 menit sebelum tidur. Kedip-kedip lampu biru dari perangkat kita merangsang bagian belakang mata dan bilang pada menara ATC otak, "Bangun! Ayo berpikir dan menganalisis lagi." Kedip-kedip lampu biru dari layar perangkat kita memancing reaksi otak dan membuatnya beku. Bila begitu, kadar neurokimia serotonin dan melatonin yang penting di dalam otak akan menurun, yang berujung pada sulit tidur dan meningkatnya tekanan stres.

Karena itu, matikan semua perangkat digital 30-60 menit sebelum tidur.

Langkah 2: Tuangkan Isi Kepala

Anda merasa pikiran Anda seperti sedang lari maraton di dalam otak? Dengan jeda untuk menyadari pikiran ini, kita menghentikan kecamuk pikiran di dalam kepala. Ambil pena dan kertas, lalu tuliskan.

Langkah 3: Jeda untuk Bernapas

Apakah otak Anda sedang beku? Jeda untuk bernapas. Saya akan merasa terhormat jika Anda ikut jeda bersama keluarga MDRT sehingga kita, sebagai sebuah kelompok, dapat merasakan daya waktu jeda kolektif.

Dengan hembusan napas berikutnya, bawa kembali kesadaran ke dalam tubuh Anda, goyang-goyangkan jari kaki di sepatu Anda, dan ambil waktu sebentar untuk jeda dan merasakan energi di ruangan ini. Saat Anda membuka mata, renungkan apa yang dapat dilakukan daya waktu jeda untuk manajemen stres, fokus, dan kinerja Anda.

Saya sering ditanya apakah saya benar-benar bermeditasi setiap hari. Meditasi adalah obat untuk Whole Person saya. Meditasi adalah komponen kunci dalam rencana saya untuk mempertahankan kesejahteraan dan menjaga kesehatan saya delapan tahun setelah operasi yang menyelamatkan hidup saya. Saya ingin Anda mempertimbangkan meditasi sebagai bentuk jeda dan menyadari daya diri Anda sendiri sebagai Whole Person.

Dan jika Anda duduk di sini dan merasa sendirian dalam perjalanan hidup Anda, sadarilah bahwa saat kita terhubung ke daya waktu jeda, kita tidak pernah benar-benar sendirian.

Saya ingin Anda bergabung dengan gerakan ini, dan mengambil jeda.

Mushtaq

Romie Mushtaq, M.D., adalah seorang ahli saraf yang dilatih secara tradisional, dengan sertifikasi tambahan di bidang pengobatan integratif. Mushtaq memadukan ilmu kedokteran Barat dan kearifan Timur untuk membantu menghadirkan cara pandang baru mengenai otak dan kesehatan jiwa. Program-programnya ditunjang pengetahuan khas di bidang ilmu saraf, pengobatan integratif, dan kewaspadaan (mindfulness). Ia merupakan kontributor ahli yang rutin tampil di media nasional seperti NBC, Huffington Post, Fox News, dan NPR.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments