Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Hidup yang Diniati

John Maxwell

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Kadang orang ikut Anda karena terpaksa; kadang karena mau. Maxwell menjelaskan perbedaan di antara lima level kepemimpinan, yang mencirikan pemimpin karena kedudukan, karena hubungan, atau karena panutan. Ia juga akan menerangkan bahwa orang lebih setia karena hasil dan rasa hormat, bukan karena kewajiban.

Saya sudah mengajarkan topik ini selama 30 tahun. Saya mengajarkannya kepada West Point, Microsoft, Eli Lilly, dan Delta. Orang-orang dari organisasi dan perusahaan besar dunia mendatangi saya dan berujar, "John, ajarilah kami Lima Level Kepemimpinan," karena mereka paham kalau kita, hari ini, sebentar lagi, mengerti cara kerja kepemimpinan (omong-omong, kata "kemimpinan" bukanlah nomina melainkan verba aksi yang menggambarkan proses) dan jika kita paham bagaimana beralih dari Level Satu ke Level Dua, Tiga, Empat, dan Lima dalam kepemimpinan, jangkauan kepemimpinan, pengaruh, dan efektivitas kita akan lebih luas. Mari langsung saja bicarakan topiknya.

Level Satu

Kita mulai dari level terbawah. Kita semua mulai dari level jabatan. Kita mulai dengan gelar, uraian jabatan, dan tata jabatan. Kata kuncinya di sini adalah hak. Dengan kata lain, orang-orang di Level Satu ikut Anda karena terpaksa. Anda adalah atasan atau berjabatan sebagai pengawas. Bawahan tentu akan mengikuti Anda. Ini adalah awal perjalanan kepemimpinan kita. Kita dapat jabatan sebagai pemimpin. Orang-orang menghampiri saya dan berucap, "John, saya baru diangkat jadi pemimpin minggu lalu!" Saat diberi tahu demikian, saya paham maksudnya. Mereka tidak jadi pemimpin minggu lalu; yang terjadi adalah mereka naik jabatan jadi pemimpin. Omong-omong, jabatannya tidak membuat Anda jadi pemimpin. Saya kenal banyak orang berjabatan sebagai pemimpin, tapi mereka bukan pemimpin yang baik. Anda mungkin pernah bekerja dengan orang seperti mereka. Jabatannya tidak menjadikan Anda pemimpin. Jabatannya jadi bermakna jika Anda adalah seorang pemimpin yang baik. Di sinilah awal kita.

Level Satu adalah wadah untuk membentuk dan menentukan kepemimpinan kita. Kita dapat pekerjaan sebagai pemimpin, jadi pengawas, dan sekarang kita berupaya jadi pemimpin; awal kita mendefinisikan diri. Sisi buruknya adalah orang-orang yang mengikuti Anda hanya memberikan sedikit energi dan usahanya. Dengan kata lain, jika mereka ikut Anda karena terpaksa agar mendapat gaji dan Anda hanya punya jabatan sebagai atasan, mereka akan selalu memberikan sedikit sekali waktu, kemampuan, usaha, dan gagasannya. Orang-orang tidak suka mengikuti orang lain karena terpaksa. Inilah kesalahan besar yang dibuat orang-orang dengan jabatan sebagai pemimpin. Mereka berpikir, Orang-orang akan ikut saya karena gelar dan jabatan saya! padahal nyatanya, kalau Anda bukan pemimpin yang baik, mereka hanya ikut Anda karena terpaksa dan demi gaji. Sekali lagi, Anda hanya akan mendapat sedikit sekali energi, usaha, dan gagasan orang-orang di Level Satu.

Saya sering melihat ini saat bekerja sama dengan perusahaan terkait kepemimpinan. Anda selalu bisa tahu apa itu perusahaan atau kultur kepemimpinan Level Satu. Di perusahaan yang bekedudukan sebagai pemimpin Level Satu, jika hari kerja selesai pukul 17.00, semua orang membenahi meja kerjanya pukul 16.30. Mereka memindahkan barang-barang karena ada sisa waktu 30 menit hingga akhir hari kerjanya. Mereka mulai menghitung mundur karena mereka tidak ingin ada hambatan saat mereka keluar dari gedung. Pukul 16.45, mereka menjauhi meja kerja, berkeliling ke ruang kerja lain, dan mulai berpamitan. Mereka berucap, “Senang bisa bekerja dengan Anda hari ini. Hari saya menyenangkan. Sampai jumpa besok!” Mereka melakukannya karena pada pukul 17.00, mereka tidak ingin dibebani hal-hal seputar relasi dengan orang lain. Mereka ingin melakukannya saat jam kerja. Pukul 16.50, mereka pergi ke toilet. Tentu saja! Mereka ingin buang air kecil saat jam kerja! Pukul 16.55, mereka kembali ke meja kerja untuk berganti sepatu karena pukul 16:57 mereka bersiap pulang dan pukul 17:00, semua orang sudah pulang. Kecepatan mereka bergegas pulang sangat mengejutkan. Saat Anda melihat ke luar jendela, Anda akan terkejut tempat parkirnya sudah kosong. Anda bertanya-tanya, Bagaimana orang-orang bisa meninggalkan gedung sangat cepat tanpa latihan tanggap darurat kebakaran? Biar saya jelaskan. Di perusahaan yang berkedudukan sebagai pemimpin, semua orang memarkir kendaraannya dengan sangat hati-hati di pagi hari. Mereka memarkir mundur kendaraan karena saat pulang, mereka ingin keluar dengan cepat tanpa membuang waktu.

Jika Anda tunjukkan perusahaan, budaya, dan pemimpin yang berpikir karena jabatannya sebagai pemimpin kepada saya, saya jamin bahwa setiap saat mereka senantiasa bertanya-tanya, Mengapa karyawan saya tidak memberikan kinerja terbaiknya? Anda tidak mendapatkan kinerja terbaik karyawan Anda karena mereka ikut Anda karena jabatan Anda. Mereka akan memberi Anda sedikit sekali energinya. Kabar baiknya adalah Anda tidak perlu berhenti di Level Satu.

Level Dua

Level pertama adalah level berdasarkan jabatan, Level Dua adalah level berdasarkan izin. Di level ini kata kuncinya adalah relasi. Di level ini, orang-orang mengikuti Anda karena keinginan sendiri. Ada banyak perbedaan antara mengikuti seseorang karena terpaksa dan mengikuti orang karena keinginan sendiri. Apa yang terjadi di antara Level Satu dan Dua? Anda terhubung dengan karyawan Anda. Anda tidak hanya terhubung dengan mereka, tetapi secara relasi, mereka menyukai Anda dan sebaliknya; kalian telah mengenal satu sama lain. Di lingkungan kerja ini, mereka tidak mengikuti Anda hanya karena Anda adalah pengawas, tapi karena Anda adalah pengawas yang disukai orang-orang. Saya selalu takjub dengan orang-orang yang memiliki jabatan atau tanggung jawab sebagai pemimpin tapi tidak disukai. Anda tahu maksudnya? Orang-orang tidak menyukai mereka! Orang-orang tidak memedulikan mereka. Situasinya sulit saat Anda harus bekerja dengan banyak orang dan mereka tidak menyukai Anda! Kadang saat melihat mereka saya ingin duduk dengan mereka dan bilang, "Namaku John, aku temanmu. Dan aku ingin kau tahu bahwa orang-orang tidak menyukaimu."

Pernahkah Anda tidak menyukai atasan Anda? Biar saya perjelas—bukan di kondisi pekerjaan Anda sekarang. Saya tahu ini tidak terjadi sekarang karena Anda bahagia. Tapi berapa banyak di antara Anda semua yang pernah punya atasan yang tidak disukai di pekerjaan, waktu, dan tempat lain? Saya ingin mengajukan pertanyaan pokoknya: Siapa saja yang duduk di samping orang tersebut sekarang?

Relasi dengan orang lain adalah dasar kepemimpinan. Kepemimpinan dibangun dari relasi. Mengapa? Karena pengaruh menciptakan kepemimpinan. Anda tidak dapat mempengaruhi orang yang tidak Anda sukai. Kita semua tahu rasanya dekat dengan orang yang tidak disukai. Pernahkah Anda ke toserba dan melihat orang yang tidak ingin Anda lihat? Kabar buruknya adalah Anda melihat mereka, kabar baiknya mereka tidak melihat Anda.

Di Level Dua Anda mulai mengembangkan kemampuan berelasi. Biar saya jelaskan pemimpin yang ada di Level Dua. Mereka memiliki tiga hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi pemimpin yang rasional. Pertama, mereka adalah pendengar yang baik, mereka dapat petunjuk kepemimpinan dengan berjalan perlahan melewati orang-orang dan mendengarkan mereka. Kedua, mereka mengamati dan menyadari di mana dan apa yang dilakukan karyawannya. Mereka mengamati secara konsisten. Ketiga, mereka belajar. Dalam proses mendengarkan, mengamati, dan belajar mereka bersikap sebagai pelayan. Mereka tahu caranya melayani. Selain itu, mereka melayani dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Saya tinggal di Florida, satu hal yang saya sukai dari Chick-Fil-A adalah mereka punya budaya melayani. Mereka punya nilai-nilai relasi di Level Dua. “Dengan senang hati! Bagaimana saya dapat membantu Anda?" Ini adalah pola pikir dan budaya. Jika Anda ingin tumbuh sebagai pemimpin, Anda tidak boleh tumbuh sebatas gelar dan jabatan Anda. Anda bisa jadi punya jabatan, Level Satu, tapi di level kedua Anda punya relasi dan kemampuan menjadi akrab dengan orang lain.

Level Tiga

Level ketiga adalah level produksi. Kata kuncinya di sini adalah hasil. Di level ini Anda mulai membantu lini bawah perusahaan Anda. Anda mulai "meraih sukses". Di level ini Anda menjadi pemimpin yang efektif karena Anda memproduksi sesuatu. Karakteristik pemimpin di Level Tiga umumnya adalah: Mereka memproduksi berdasarkan contoh dan mereka adalah teladan terkait cara menjadi efektif dan produktif bagi orang-orang yang mengikutinya. Prinsip paling memotivasi di dunia adalah orang-orang melakukan apa yang dilihat. Banyak pemimpin seperti agen perjalanan mengantar orang-orang ke tempat yang mereka sendiri belum pernah kunjungi. Anda ingin jadi pemandu wisata dan membuat orang mengikuti Anda. Anda ingin bilang, "Saya pernah ke sini. Ini tempat tinggal saya. Ini tempat saya memimpin. Mari, ikuti saya." Di Level Tiga, kepemimpinan Anda mulai punya kredibilitas karena Anda memberikan lebih banyak informasi bagi orang-orang sekitar Anda. Anda membuat teladan yang ingin dilihat orang-orang dan Anda mulai berproduksi. Hal lain turut terjadi: Saat Anda menjadi produktif dalam hidup, Anda menarik orang-orang untuk turut jadi produktif.

Dalam buku saya, The 21 Irrefutable Laws of Leadership, salah satu hukum yang ditulis adalah hukum ketertarikan. Dalam hukum ketertarikan, kita menarik mereka yang sepemikiran dengan kita, bukan orang yang kita mau. Saat saya berbincang dengan para pemimpin mengenai tipe orang yang mereka rekrut dalam perusahaan dan departemen sebagai pengawas, mereka memberikan daftar karakteristik seperti disiplin diri, berorientasi pada layanan, dan empat hingga lima karakteristik lainnya. Saat saya membaca daftar tersebut, saya menanyakan apakah mereka punya sifat tersebut. Di Level Tiga, yang mendefinisikan kepemimpinan Anda adalah orang-orang yang masuk di tim Anda. Saat Anda mulai berproduksi dan mengembangkan sesuatu, Anda mulai dapat momentum. Momentum adalah hal berharga bagi pemimpin karena momentum merupakan daya dorong yang kuat. Saat Anda punya momentum, segalanya tiba-tiba kelihatan lebih baik dan jadi mudah dikembangkan dan dipimpin. Ini hal yang baik. Upaya pemecahan masalah banyak dilakukan di Level Tiga. Manajer mencoba memecahkan masalah, tetapi pemimpin membuat momentum karena mereka tahu jika punya momentum, 80 persen masalah akan terpecahkan. Momentum adalah pemecah masalah. Kekurangan momentum adalah penghenti masalah. Kereta yang melaju di rel dengan kecepatan 55 mil/jam dapat menghantam melewati dinding dari beton dan besi berketebalan lima kaki dan terus melaju karena keretanya punya momentum. Kereta yang sama berhenti di rel, tidak melaju, tidak punya momentum, dan tidak dapat bergerak kalau ada balok-balok selebar satu inci di rel menghalangi rodanya. Kereta yang sama yang menghantam melewati dinding tidak dapat bergerak tanpa momentum.

Saya sering memberi tahu orang-orang bahwa saat mereka menghadapi masalah di perusahaannya, masalah yang terlihat bukanlah yang sesungguhnya. Mereka pikir yang terlihat adalah masalahnya, sehingga mereka berpusat kepadanya. Yang tadinya bukan masalah sudah jadi masalah, bukan karena ia adalah masalah sesungguhnya, tapi karena mereka tidak tahu bahwa ia bukan masalah sebenarnya, sehingga sekarang ia jadi masalah. Momentum dan kepemimpinan Level Tiga akan mengatasi 80 persen masalah dalam perusahaan. Ini terjadi dalam bidang olahraga, bisnis, bahkan dalam pemerintahan. Momentum adalah hal berharga bagi pemimpin. Anda harus mencapai Level Tiga untuk dapat memanfaatkan momentum.

Level Empat

Ini adalah level pengembangan karyawan. Ini adalah hal yang saya tuju dan upayakan. Ini yang membuat saya bersemangat. Hal ajaib terjadi saat Anda mulai mengerti aset paling berharga yang Anda miliki dalam organisasi adalah orang-orang dalam organisasi tersebut. Anda mulai berkomitmen untuk mengembangkan orang-orang dalam organisasi; perusahaan tumbuh karena orang-orang di dalamnya berkembang. Saat Anda mengembangkan mereka, mereka meningkatkan kapasitasnya sendiri dan kapasitas Anda untuk melakukan dan mencapai sesuatu.

Saya punya tiga gagasan untuk pengembangan karyawan. Pertama, cara mengembangkan orang baru ada di proses perekrutan. Semakin baik orang yang Anda rekrut, semakin besar peluangnya bagi Anda untuk mengembangkan mereka. Saya makan siang bersama Lou Holtz, ia bilang, "Saya punya pemain yang baik dan buruk dalam tim sepak bola saya. Saya jadi pelatih yang baik saat melatih pemain baik." Tentu saja. Delapan puluh persen keberhasilan Anda dalam membuat orang lain berhasil tergantung pada siapa yang Anda rekrut. Kita tidak punya gambaran jelas mengenai apa yang kita cari, kita tidak akan mengetahuinya sekalipun kita melihatnya. Orang-orang yang mencari pemimpin baik untuk perusahaannya mendatangi saya dan saya selalu menanyai mereka, "Seperti apa pemimpinnya? Beri saya karakteristik dan gambarkan seperti apa mereka."

Yang kedua adalah pemosisian—kemampuan untuk tidak hanya merekrut orang yang tepat, tetapi juga menempatkannya di posisi yang benar. Orang-orang sukses selalu berada di posisi yang sesuai. Saat Anda melihat orang sukses, mereka sukses karena menemukan kekuatan dan ceruknya, dan tinggal di "tempat nyamannya" untuk menjalankan keahliannya. Semua orang sukses pasti akan mengungkapkan rahasia suksesnya adalah karena mereka tahu keahliannya atau karena mereka berupaya lebih dari sekadar mengatasi kelemahannya. Pemimpin yang sukses tahu keahlian orang lain. Orang sukses memosisikan dirinya dengan baik, pemimpin sukses memosisikan orang lain dengan baik. Pemimpin selalu melihat dan mengamati orang lain.

Setiap tahun, saya kembali ke Universitas Ohio, tempat pertama saya belajar untuk jadi pembicara. Karena saya lahir di kota itu, saya memberi tahu teman-teman kalau saya akan pulang dan mengajak mereka makan malam bersama. Kami tertawa, bersenang-senang, dan bertukar cerita selama dua jam lalu pelatih basket kami muncul. Setiap tahun, ia selalu mengganti pemain utama di semua posisi dengan pemain pengganti. Ia mengajari kami bahwa itulah cara menentukan posisi dengan benar. Anda merekrut; memosisikan; dan membekali orang-orang dengan benar. Anda memahami kekuatan dan kelebihan mereka dan memutuskan caranya meningkatkan, melatih, dan membekali mereka.

Hal ketiga dalam mengembangkan orang-orang adalah membekali mereka.

Proses Pembekalan Lima Langkah

  1. Saya melakukannya. Anda tidak dapat mengajari orang lain hal yang bisa Anda lakukan sendiri. Kita boleh mengajarkan yang kita lakukan tapi kita hanya dapat menghasilkan orang-orang seperti kita.
  2. Saya melakukannya bersama Anda. Menghabiskan waktu bersama. Saya jadi mentor/pelatih; Anda akan melihat dan mengamati. Anda akan melihat dan menanyai saya di berbagai situasi.
  3. Anda melakukannya bersama saya. Saya mengawasi dan menyesuaikan, membantu Anda menjadi lebih baik, menyetel Anda untuk jadi baik.
  4. Anda melakukannya. Anda tidak perlu saya lagi karena Anda sudah punya bekal.
  5. Anda melakukannya bersama orang lain. Latihan dan pembekalan Anda untuk orang-orang tidak bermakna hingga mereka mampu "menggandakan" diri. Itu perlu waktu, uang, pengaruh, dll. Empat belas tahun lalu, saya membangun organisasi nonprofit bernama Equip yang sekarang jadi organisasi kepemimpinan terbesar di dunia. Kami melatih dan membekali lebih dari 3 juta orang di 154 negara. Kuncinya adalah kami hanya melatih orang-orang yang punya tekad untuk melatih orang lain.

Level Lima

Inilah level puncak. Kata kuncinya di sini adalah penghargaan. Anda telah melakukan hal baik dengan banyak orang dalam waktu lama hingga orang-orang pasti mengikuti Anda karena diri, kualitas, dan hal yang sudah Anda lakukan. Ada penghargaan besar di sini, butuh waktu untuk sampai di sini. Kita semua bisa sampai ke sana, tapi prosesnya perlu waktu seumur hidup. Kepemimpinan selalu merupakan proses belajar dan bertumbuh.

Karena Anda memiliki kelima levelnya dan tahu bagaimana kesemuanya mengarah ke satu sama lain, Anda dapat menanyai diri sendiri ada di level mana Anda sekarang. Jika Anda menanyakan itu pada diri sendiri, Anda mungkin akan frustrasi karena tahu Anda tidak ada di level yang sama dengan yang lain. Saat dibandingkan dengan satu orang, Anda mungkin ada di Level Dua, tapi dengan yang lain Anda mungkin ada di Level Empat. Dengan orang baru di perusahaan, Anda kembali ke Level Satu saat menghadapi orang tersebut. Jawaban yang akan ditemukan adalah Anda ada di level yang berbeda saat bersama orang yang berbeda.

Saya ingin Anda memahami ini. Ambil contoh dari orang-orang yang Anda pimpin, tuliskan namanya lalu tanyai diri Anda, Ada di level manakah saya saat bersama orang ini? Usahakan untuk memberikan nomor level agar setelah tahu level Anda dengan setiap orang itu, Anda tahu dengan pasti cara memimpin mereka. Sehingga saat mengutarakan visi dengan orang-orang di organisasi atau departemen Anda, mereka tidak melihat Anda sebagai jabatan Anda atau pemimpin. Mereka melihat Anda berdasarkan jaringan "lima level", pandangan orang dari Level Satu terhadap Anda berbeda dari mereka yang ada di Level Empat. Semakin tinggi level Anda dengan orang-orang, komitmennya semakin besar. Perhatikan bahwa saat mengutarakan visi ke orang-orang dan memberi tahu mereka tujuan Anda, reaksinya akan berbeda-beda karena mereka Anda di level yang berbeda dengan Anda.

Buat catatan, pelajari, lalu terapkan dalam hidup Anda. Mulai pelajari Kepemimpinan Lima Level, dan Anda akan meraih sukses karena kepemimpinan ada dalam pengaruh—selalu begitu. Kemampuan meningkatkan pengaruh ada dalam diri Anda.

Maxwell

John Maxwell adalah penulis buku terlaris New York Times, coach, dan pembicara yang dikenal sebagai pemimpin bisnis top oleh Asosiasi Manajemen Amerika dan salah satu pakar kepemimpinan paling berpengaruh di dunia oleh majalah Business Insider dan Inc. Pada 2014, Maxwell menerima Hadiah Bunda Teresa untuk Perdamaian dan Kepemimpinan Dunia dari Jaringan Kepemimpinan Luminary. Organisasi yang dipimpinnya – John Maxwell Company, John Maxwell Team, dan Equip – telah melatih lebih dari 6 juta pemimpin di seluruh dunia.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments