Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Ceritakan yang Baik

Bert Jacobs

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Turut mencipta jenama Life is Good, Jacobs telah menyaksikan dampak dahsyat yang terjadi jika orang fokus pada sisi positif kehidupan. Lagi pula, dunia luar sudah penuh aral melintang, dan berita dari media terpaku pada kabar yang buruk-buruk saja. Di sesi ini, Jacobs akan membahas alasannya berfokus pada optimisme dan orang-orang yang perannya selalu ia kenang di sepanjang kariernya.

Salah satu hal teraneh yang kita dengar dalam konferensi di mana saja adalah gagasan soal keseimbangan hidup. Percaya atau tidak, gagasan tersebut tidak masuk akal. Karena, jika kita mencari keseimbangan hidup, maknanya pekerjaan menghalangi kita menjalani hidup. Kedengaran bodoh, bukan? Yang mesti kita capai adalah keselarasan hidup. Kita mesti mencari hal-hal dalam pekerjaan yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan kita, hal-hal yang penting bagi kita.

Saya akan mengisahkan sebuah cerita tentang industri saya, secara teknis, industri pakaian. Industri saya bisa jadi sangat berbeda dengan Anda, tapi saya rasa kita akan menemukan banyak kesamaan, Anda tahu mengapa? Karena kita manusia.

Ini, untungnya, bukan saya. Ini adik saya, Johnny. [gambar] Meskipun hidup adalah hal yang baik, tumbuh dengan keadaan demikian bukan hal yang mudah. Jangan khawatir; ia baik-baik saja sekarang. Johnny tidur di ranjang bawah, saya di atas. Kami yang paling muda dari enam bersaudara. Kami tumbuh di Boston. Ayah bekerja di toko mesin dan ibu adalah ibu rumah tangga. Jika berkunjung ke rumah orang tua kami, Anda akan melihat lemari buku yang dipenuhi foto-foto kakak-kakak kami. Tapi beginilah salah satu dari ketiga foto proses kami tumbuh. Kami mengerti apa yang terjadi; orang tua kami tidak punya uang; kamera mereka "hilang". Anda tahu jalan ceritanya, 'kan? Dan tak apa Bu, Yah. Kami memaafkan kalian. Saya berbincang dengan ibu saya soal ini baru-baru ini. Saya bilang, “Saya mengerti kenapa kameranya hilang. Tidak apa-apa. Tapi bisakah Ibu pasang seprei di kasurnya?" Dan ibu adalah orang yang pandai. Ia tertawa dan berkata, "Saat ini bukankah semua orang menghabiskan uang untuk membeli seprei organik karena ramah lingkungan?" Saya jawab, "Ya." Lalu ibu berkata, “Bukankah lebih baik tak usah pakai seprei sekalian?” Sungguh cerdas.

Saat saya dan Johnny masih SD, orang tua kami mengalami kecelakaan mobil fatal. Ibu mengenakan sabuk pengaman, beberapa tulangnya patah, tapi keadaannya lebih baik dari ayah. Ayah kami juga selamat tapi lengan kanannya harus diamputasi. Ayah gemar berkegiatan di luar ruangan dan juga seorang seniman, kecelakaan itu mengubah hidupnya. Hematnya, ayah mengalami depresi karena kejadian itu. Ia menjadi depresi karena tidak mampu melakukan hal-hal yang biasa dilakukan. Ia biasanya membuat barang-barang buat kami; mengajak kakak-kakak kami naik gunung dan melakukan selam skuba. Kini ia tidak bisa melakukannya lagi. Perabotan jadi sasaran keputusasaannya. Suasananya sangat tidak nyaman dan tidak kondusif.

Ini ibu saya, Joan. [gambar] Walaupun keadaannya tidak kondusif, ibu kami adalah lambang optimisme yang rasional utama. Ibu kami adalah seorang optimis yang kuat. Saya sangat hati-hati dalam menggunakan istilah orang optimis yang rasional karena orang optimis mengetahui ada hambatan dan kesulitan dalam hidup dan mereka mengatasinya dengan berfokus pada hal-hal yang baik, yang benar. Dan itulah yang ibu kami lakukan. Ia tidak menjelaskannya dengan istilah akademis, ia bahkan tidak menjelaskan apa yang tengah dilakukan, tapi ia mengajarkan hal itu kepada kami. Walaupun keluarga kami mengalami kesulitan, kami punya banyak hal untuk disyukuri dan dirayakan.

Hal utama yang ibu lakukan adalah terus menerus menegaskannya. Satu hal yang nyaris seperti sulap adalah ritualnya di meja makan. Terlepas dari apa yang sedang terjadi, ibu menatap kami satu per satu dan berkata, "Ceritakan hal baik yang terjadi hari ini." Sekalipun banyak kesulitan terjadi dan ayah sering berteriak-teriak, segera setelah kami berkisah tentang hal lucu yang terjadi di sekolah hari itu, hal baik terjadi. Kami semua merayakannya. Hal ajaib yang ia lakukan adalah mengubah energi di rumah kami. Tiba-tiba kami jadi keluarga yang akrab. Kami saling bicara, berinteraksi dengan satu sama lain, dan suasananya jadi lebih baik. Ibu menunjukkan kami punya daya untuk mengatasi kesulitan lewat watak.

Ini adalah foto saya dan Johnny saat lulus kuliah. [gambar] Kalau saja kami lebih cerdas, kami pasti sudah membangun Life Is Good sejak masa kuliah. Tapi kami tidak begitu cerdas dan tidak cepat tanggap. Kami tahu kami ingin dapat uang dari karya yang kami buat dan kaos cukup terjangkau bagi kami. Kami mulai membuat kaos dan menjualnya di jalanan. Percaya atau tidak, kami menghabiskan lima tahun sebelum membangun Life Is Good berjualan kaos di jalanan dengan mobil van ini, dari satu asrama ke asrama lain, sepanjang East Coast. [gambar] Kami membeli mobil van ini dan menamainya The Enterprise. Kami sepakat untuk melakukan hal yang tidak pernah dilakukan penjual kaos sebelumnya. Kami bepergian dan tidur di mobil van setiap malam selama lima tahun.

Jika Anda tanya apakah kami meraih sukses; di satu sisi bisa dikatakan kami tidak sukses karena kami tidak membangun bisnis berkelanjutan, tapi di sisi lain, kami memutuskan untuk tidak mencari kerja dan kami berhasil melakukannya. Setidaknya kami menjual cukup kaos agar cita-cita kami tetap ada. Cita-cita kami tidak begitu jelas. Kami mencari sesuatu; kami mencari yang mungkin bisa jadi jenama kami. Kami mengagumi Nike di pasar karena melambangkan kecakapan atletik. Kami mengagumi Ralph Lauren karena melambangkan kekayaan, sesuatu yang dicari banyak orang. Semua itu bukan simbol atau ide yang tepat bagi kami. Kami mencari sesuatu yang mewakili siapa kami.

Selain percakapan soal mencari jenama, kami juga berbincang soal cara media membanjiri kita dengan informasi negatif––selalu menunjukkan keburukan, bukan kebaikan dunia.

Berita tidak mengisahkan kebaikan dunia, hanya keburukannya. Lalu kami berpikir, mungkin jenama kami bisa merayakan kebaikan dunia.

Dalam meneliti kebenaran soal yang terjadi di luar sana, kami menemukan banyak statistik menarik. Yang ini menunjukkan bahwa, sekalipun masih jadi masalah dunia, kemiskinan bukan masalah terbesar dalam sejarah baru-baru ini. Tahun 1800 belum berlalu begitu lama—planet kita usianya 4,5 miliar tahun. Pada tahun 1800-an, semua orang di dunia hidup miskin. Inilah yang ditunjukkan grafiknya. [gambar] Kalau Anda bukan raja atau ratu, Anda miskin. Seseorang menanyai saya soal makna miskin baru-baru ini, "Apa ukurannya? Standar apa yang Anda gunakan?" Bagaimana dengan kelaparan? Apa yang terjadi jika keluarga Anda kelaparan dan tidak punya kemungkinan masa depan yang berkelanjutan? Itulah yang saya maksud dengan miskin. Lalu sekarang, bertahun-tahun setelahnya, kemiskinan turun 10 persen atau lebih rendah secara global. Meskipun belum sempurna, setidaknya kita sudah jauh lebih baik.

Angka kematian anak global maknanya persentase anak-anak yang meninggal sebelum usia 6 tahun. Jadi bukan kematian bayi (meninggal sebelum usia satu tahun), tapi meninggal sebelum memasuki usia 6 tahun. Ya, saya tahu ini statistik yang buruk. Lihatlah; jumlahnya nyaris 45 persen. [gambar] Itulah anak-anak yang lahir di Bumi di tahun 1800-an. Sekarang, belum sempurna, tapi paling tidak angkanya kurang dari 4 persen. Ini peningkatan yang luar biasa. Umat manusia mengalami peningkatan secara konsisten. Seberapa sering kita mendengar soal itu? Tidak pernah. Itulah mengapa Anda terkejut saat melihat statistik-statistik ini.

Ada satu hal lagi yang tidak Anda ketahui. Kita mendengar soal rasisme; seksisme; kita mendengar banyak hal yang dipenuhi ketidakpedulian. Saat kemampuan membaca meningkat, hal-hal yang dipenuhi ketidakpedulian seperti rasisme dan seksisme akan lenyap. Lihat yang terjadi. [gambar] Di tahun 1800-an, nyaris tidak ada yang bisa membaca dan sekarang, kita mendekati titik di mana 90 persen populasi dunia bisa membaca. Kemampuan baca kita sekarang sebesar 84 persen dan terus naik dengan cepat. Ini statistik yang luar biasa bagus! Ini adalah hal yang menakjubkan! Kita melakukan hal yang benar! Betapa menakjubkannya itu!

Lalu, apa yang kami lakukan dengan semua informasi ini? Saya dan adik saya melakukan yang biasa dilakukan orang-orang di Boston untuk mencari tahu: Kami mengadakan pesta. Kami mengundang teman-teman dan meminta mereka berpendapat tentang ide-ide ini. Kami tulis semua ide baru di dinding—kami memperbolehkan orang-orang menulis di dinding. Adik saya membuat sketsa yang sama sekali tidak menggambarkan "Life Is Good". Sketsanya menggambarkan seseorang yang tersenyum, mengenakan topi baret dan kacamata. Di bawahnya tertulis "Gambar" karena karakternya dimaksudkan sebagai seorang seniman. Karakter itulah yang jadi Jake, karakter Life Is Good. Di pesta pertama itu, tulisan "Gambar" di bawahnya menunjukkan bahwa seniman seperti kami tidak selalu berkepribadian buruk, tertekan, dan tidak bahagia dalam hidup. Kami dapat berinteraksi dengan baik dalam masyarakat dan bersenang-senang, dan mungkin, para seniman bisa turut merayakannya. Seorang wanita yang datang ke pesta kami. Ia melingkari gambar Jake, lalu menggambar anak panah mengarah ke Jake, lalu menuliskan "Ia paham makna kehidupan". Tulisannya menyadarkan kami. Kami berseru, "Wow!" Ada pernyataan lebih bermakna dari "Seniman bisa tersenyum." Jadi kami mengadopsi idenya dan menyarikan yang tertulis dalam tiga kata sederhana: Life Is Good.

Dua hari berikutnya, kami berjualan di jalanan. Ini Johnny berdiri di jalanan Cambridge, Massachusetts. [gambar] Kami melakukan apa saja untuk menjual kaosnya. Kalau Anda lihat posternya, kami membuat orang prihatin hingga membeli kaos kami agar kami bisa makan hari itu. Hari itu, kami menjual 48 potong kaos dalam 45 menit. Mungkin kedengarannya tidak seberapa, tapi sering kali, kami menjual kurang dari 48 potong kaos dalam seminggu. Dan kami menjual sebanyak itu dalam 45 menit. Kata-kata sederhana "Life Is Good" tidak cuma membuat kaos kami laku cepat; kata-kata itu menjangkau orang-orang dari berbagai status sosial. Kami menjual kaosnya ke lelaki pengendara Harley, guru yang berpakaian necis, dan anak punk pemain papan luncur dengan rambut yang dicat warna ungu dan hijau. Hal itu membuat kami takjub. Kami dapat uang dengan cepat dan penjualannya menunjukkan pasar kami luas.

Lalu, apa lagi? Entahlah, tapi kami tahu kami punya sesuatu yang istimewa. Lalu kami melakukan hal yang biasa dilakukan orang Boston saat mencoba memahami sesuatu. Kami berkendara dengan The Enterprise, mobil van kami, ke Cape Cod dan berenang di laut.

Kami pikir mari bersatu dengan Mother Nature; dengan Mother Ocean dan lihat ide apa yang akan muncul. Kami berenang beberapa waktu dan dapat ide. Kami mencoba mendatangi penjual eceran dan menjual produk kami. Kami selalu melakukan penjualan langsung di jalanan; saatnya mencoba menjual ide ini ke penjual eceran. Kami berkeliling dan mencoba menjualnya ke penjual eceran. Di sore hari pertama, kami dapat satu penjual eceran. Seorang perempuan, namanya Nancy, pemilik toko sandal di pantai membeli 24 kaos. Seminggu lebih berlalu, ada yang menelepon kami. Penelepon berucap, "Hai! Tahukah kalian? Aku sudah menjual 24 kaos Life Is Good." Saya jawab, "Luar biasa! Kami akan memasok lebih banyak kaos." Ia menjawab, "Baiklah, tapi aku punya pertanyaan untukmu. Kalau kau ingat, toko kami ada di sebelah gerai es krim. Aku dan suami berbincang dan kami ingin tahu apakah Jake makan es krim, karena kami rasa hidup terasa baik saat kita makan es krim."

Pemikiran sederhana. Lalu ia berucap, "Pertanyaannya adalah, apakah Jake makan es krim?" Saya jawab, "Belum. Tapi Jake akan makan es krim." Lalu Jake mulai makan es krim. Tahukah Anda? Saat kami memasok kaos bergambar Jake makan es krim ke Cape, penjualan Nancy lebih banyak dari kaos yang hanya bergambar Jake tersenyum. Nancy lalu mengenalkan kami ke saudara iparnya, ia punya toko sepeda gunung dan toko perlengkapan di jalur sepeda gunung di Vermont. Kami berbincang via telepon, ia bilang "Ya, Nancy bilang kaos Life Is Good laris manis. Kami mau menjualnya juga, tapi kami ingin tahu apakah Jake suka bersepeda." Kali ini saya cukup pintar dan berujar, "Belum, tapi Jake akan naik sepeda kalau Anda bayar di muka." Saudara ipar Nancy sepakat membayar di muka dan Jake pun mulai naik sepeda.

Bisnis kami cukup sederhana dan mulai tumbuh. Yang perlu kami lakukan adalah berkeliling dan menanyai orang-orang apa yang mereka sukai dalam hidup; sesuatu yang ingin mereka rayakan. Kami bisa merayakan musik. Kami bisa merayakan kegiatan berkebun. Kami bisa merayakan kegiatan melukis. Kami bisa merayakan apa saja selama hal tersebut termasuk gaya hidup sehat. Bisnis kami mulai tumbuh, dalam lima tahun pertama dengan Life Is Good, keuntungan bisnis kami bernilai sekitar 3 juta dolar. Kami pikir bisnisnya cukup bagus. Kami berkeliling dan membeli gudang sendiri, berhenti mengirim dari dapur produksi; semuanya berjalan lancar.

Hal yang mengejutkan terjadi. Orang-orang yang mengalami kesulitan mulai mengirimi kami surat. Mereka adalah pelanggan kami. Saya akan membacakan satu surat yang dikirimkan salah satu dari kedua anak laki-laki yang luar biasa ini. [gambar]

Hai, Bert dan John,

Namaku Alex. Aku punya saudara laki-laki, namanya Nick, umur kami 10 tahun. Kami punya lebih banyak tantangan dalam hidup, tapi kami selalu bisa menguatkan satu sama lain. Kami lahir prematur, berat kami hanya satu pon. Kami perlu waktu untuk tumbuh besar. Saat lahir, kakiku harus diamputasi. Nick mengalami kebutaan. Kami punya semua kaos yang kau jual dengan semua kegemaran kami. Tapi, jika ditanyai soal apa yang paling kami sukai dan membuat kami paling bahagia, jawabannya adalah saat kami bersama. Aku kini tahu Nick punya lebih banyak tantangan, tapi ia mengatakan dan melakukan banyak hal yang membuatku tertawa dan merasa bahagia. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya selain dengan mengatakan aku menyayanginya. Kau beruntung punya saudara juga. [Saya hanya ingin menjelaskan bahwa ia tidak tahu soal Johnny.] Semoga kalian melakukan banyak hal menyenangkan bersama.

Temanmu, Alex dan Nick

Wow! Saya sudah membawa surat itu dalam saku selama bertahun-tahun dan saya sudah membacakannya dan berbagi kisah mereka ke banyak sekali audiens karena mereka pintar dan berani, dan utamanya: Mereka adalah orang optimis yang kuat. Mereka mengalami banyak kesulitan tetapi tidak terpaku pada kesulitannya. Mereka berfokus pada yang baik dan lihatlah senyuman mereka. [gambar] Hidup mereka berjalan dengan baik karenanya. Mereka mengajari kita untuk tidak pernah berkata "Kita harus melakukan sesuatu". Mereka menyadarkan kita bahwa “Kita mampu melakukan sesuatu.” Kita mampu mencuci baju. Faktanya, di tahun 2018, kita tidak lagi mencuci baju; mesin yang melakukannya. Jadi, kita harus mengurangi kebiasaan mengeluh. Kita mampu pergi ke toko swalayan. Kalau kita bisa membaca label dan berjalan ke toko swalayan yang menjual berbagai makanan dari seluruh dunia, apa yang kita keluhkan? Anak-anak ini mampu melakukan banyak hal dan itulah yang mereka kisahkan. Mereka tidak harus melakukan sesuatu dan tidak mengeluh. Rasa syukur punya dampak besar.

Kami dapat surat lainnya. Ini Lindsey Beggan. [gambar] Lindsey Beggan didiagnosis mengidap kanker tulang stadium terminal. Usianya 11 tahun. Saat diwawancarai pihak penerbit koran, ia ditanyai apakah ia paham soal prognosisnya. Ia bilang, "Mereka ragu aku bisa hidup lebih dari setahun ke depan." Lalu, si pewarta bertanya, "Mengapa kamu mengenakan kaos bertuliskan Life Is Good?" Lindsey menjawab, “Karena sebelum aku sakit, aku kurang bersyukur. Sekarang aku sakit. Aku ingin memastikan aku melakukan sesuatu yang bermakna setiap hari." Wow! Luar biasa sekali, bukan? Lindsey menunjukkan bahwa keberanian punya dampak besar. Anak-anak dapat memberi tahu kita banyak hal yang menakjubkan, kan? Hal itu menekankan bahwa mengkhawatirkan hal-hal di luar kendali kita adalah sesuatu yang sia-sia.

Sekarang kaos kami mengajarkan keberanian. Menjadi berani dengan cara yang menyenangkan dan sehat, dengan cara yang memberdayakan orang lain. Hal yang terjadi adalah orang-orang yang mengirimi kami surat menciptakan nilai-nilai Life Is Good.

Jadi kami memutuskan untuk memberikan timbal balik. Kami melakukan hal yang mungkin dilakukan siapa saja di ruangan ini, satu-satunya hal yang logis. Kami menyisihkan anggaran iklan dan mulai mengadakan festival labu. Masuk akal, kan? Festivalnya menggalang dana dan meningkatkan kesadaran terhadap keluarga dengan anak penderita penyakit mematikan.

Ini foto festival labu pertama kami. [gambar] Festivalnya bukan acara besar, kami mengalami banyak kendala. Kami kehabisan labu; es krim labu; kami kehabisan semuanya yang bisa dibayangkan. Tapi kami mengadakan festivalnya di Maine, orang-orang pulang dan membawakan kami lebih banyak labu, pai labu, dan es krim labu. Kami menggalang dana sebesar 80,000 dolar pada festival pertama. Penghasilan perusahaan kami nilainya cuma 3 juta dolar, setiap sennya diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Kami terpikat dengan gagasan tersebut.

Kami terus mengadakan festival labu setiap tahunnya, saat kami bepergian dengan The Enterprise, kami menyusun daftar keinginan. Salah satunya adalah memecahkan rekor. Jika Anda tidak lulus dengan nilai terbaik dan bukan merupakan atlet kelas dunia, yang bisa Anda lakukan untuk memecahkan rekor adalah dengan melakukan hal konyol. Itulah yang kami lakukan. Kami memecahkan rekor dunia untuk jumlah labu yang diukir dan dinyalakan terbanyak di satu tempat dalam satu waktu. Ini fotonya, ada berapa banyak labunya? [gambar] Lebih dari setengah juta labu yang diukir dan dinyalakan di satu tempat dalam satu waktu. Jumlahnya memecahkan rekor dunia. Tapi jujur saja, siapa yang peduli dengan rekor dunia? Yang terpenting adalah festivalnya menggalang dana lebih dari setengah juta Dolar yang seluruhnya disumbangkan ke anak-anak yang membutuhkan. Lebih dari setengah juta orang datang ke taman pada hari itu, taman kota tertua di negara ini. Malam itu adalah malam besar buat kami. Malam itu adalah malam besar untuk relawan kami. Gagasan ini makin memikat kami.

Lalu, yang mulanya hanya upaya membantu anak-anak mulai terintegrasikan ke dalam bisnis kami dan menciptakan Life Is Good Kids Foundation. 10 persen laba dari semua kegiatan yang kami lakukan—menjual kaos, membuat acara khusus, menjual semua produk yang kami tawarkan—apa saja, 10 persen labanya selalu disumbangkan untuk anak-anak yang mengalami kemiskinan, kekerasan, atau menderita penyakit mematikan. Menyumbangkan 10 persen laba untuk anak-anak adalah langkah besar bagi kami. Itulah komitmen kami dan cara kami menyatakan, “Kami tidak hanya menolong orang saat Natal atau di akhir tahun. Saat kami membuat kaos, kami menolong orang sepanjang tahun. Kami melakukan sesuatu yang spesial. Perusahaan kami bukan sekadar pembuat pakaian. Ada makna lebih di balik tindakan kami." Kami dengar soal keterkaitan emosional dengan orang lain dan kami mewujudkannya.

Lalu bagaimana pegawai kami menanggapi ini? Mereka memberi tahu kami lewat survei, selama bertahun-tahun, bahwa yang terpenting bagi mereka adalah Kids Foundation. Mereka tahu jika mereka menjual banyak kaos, membuat desain grafis yang bagus, bekerja sungguh-sungguh di HR atau TI, mereka menyelamatkan banyak anak dan hal tersebut memotivasi mereka. Di akhir pekan, mereka tidak merasa harus jadi relawan di suatu tempat. Mereka tahu bahwa dengan bekerja di sini, mereka melakukan sesuatu yang besar, dan itu adalah motivasi terbaik yang pernah kami berikan untuk staf kami. Kami melakukan banyak hal menyenangkan; ini saat rapat triwulan. [gambar] Kami berbagi tawa bersama. Dan kami berbagi informasi penting terkait yang kami lakukan dalam perusahaan, tapi hal terpenting yang kami lakukan adalah membantu anak-anak.

Inilah hasil festival labu; sekarang acaranya jadi Festival Musik Life Is Good. [gambar] Setiap kali diadakan, acaranya menggalang dana lebih dari 1 juta dolar. Ada artis terkenal di acaranya, kali ini Michael Franti. Semua yang hadir tahu mereka akan menikmati pertunjukan musik yang bagus. Mereka tahu bisa minum bir dingin enak seperti saat pesta kami dulu. Mereka tahu bisa menikmati makanan dari hasil pertanian. Tapi yang terpenting, mereka tahu mereka berdiri saling merangkul dengan orang lain yang membantu sesama. Ini acara kumpul-kumpul kemanusiaan. Anda melihat lebih dari 30.000 orang optimis yang rasional menikmati pesta dan membantu orang yang membutuhkan. [gambar] Saya tidak tahu apa yang anak ini lihat, tapi kami tahu kami membuatnya takjub.

Lalu, apa dampaknya terhadap bisnis kami? Kami membeli labu sambil mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Semua konsultan mengatakan kami mengurangi penjualan sendiri; kami lebih fokus pada anak-anak padahal semestinya kami fokus terhadap produk pakaian, bla... bla... bla... Kami terus melakukan apa yang ada di nurani kami. Kami terus fokus pada hal yang, kami rasa, membentuk kami dan merupakan aspek dari menjadi manusia, dan yang kemudian terjadi adalah pelanggan membangun bisnis kami. Ini nyata.

Kami membuat kesalahan operasional dari waktu ke waktu, tapi pelanggan selalu memaafkan kami. Mengapa? Karena kami autentik. Karena kami jujur. Saat ini, di era digital, jika Anda bilang akan melakukan sesuatu dan tidak melakukannya, orang-orang akan menghancurkan bisnis Anda. Tapi jika Anda bilang akan melakukan sesuatu, melakukannya, dan mempertanggungjawabkannya, Anda tidak perlu jadi sempurna. Kami bukan orang-orang dengan kualitas terbaik. Kami bukan yang tercepat; terkuat; dan kami tidak menjalankan bisnis terbaik di dunia, tapi pelanggan membangun bisnis kami, kami tumbuh setiap hari karena mereka mempercayai kami. Di situlah keterkaitannya. Anda tidak dapat membangun bisnis yang sehat sendirian. Anda mesti membangunnya bersama pelanggan. Mereka harus membantu menulis kisah Anda. Mereka harus jadi bagian kisah Anda. Dulu, Anda mungkin bisa jadi tenaga pemasaran yang pintar dan membangun bisnis sendiri, tapi masa itu sudah berakhir. Anda harus melibatkan pelanggan, dan tahukah Anda? Sekalipun kedengarannya berisiko, tapi ini menyenangkan. Ini foto Richard Branson dan saya. [gambar] Ini tidak ada hubungannya dengan materi saya; saya hanya ingin memberi tahu Anda, saya nongkrong dengan Richard Branson.

Ini buku kami. [gambar] Semua orang perlu menulis buku, kami tidak melakukannya selama bertahun-tahun karena semua orang ingin kami menulis buku soal bisnis. Kami merasa kami sama seperti pebisnis lain yang memulai bisnisnya di garasi atau truk, cerita kami tidak istimewa. Dan mungkin memang tidak istimewa, tapi National Geographic memberikan gagasan cerdas. Mereka mendatangi kami dan berkata, “Jangan tulis buku soal bisnis; tulis buku soal upaya swabantu.” Kami suka idenya karena bisnis kami sesungguhnya terkait dengan kesehatan mental dan itulah topik yang saya bicarakan hari ini. Saya tidak tahu bisnis Anda sebaik Anda. Saya tidak akan mengajari Anda soal manajemen kekayaan atau investasi. Saya tidak punya cukup pengetahuan tentangnya. Saya tidak paham betul, tapi saya bisa memberi tahu Anda sedikit soal kesehatan emosional dan Anda perlu merawat diri sendiri. Anda perlu menjaga kesehatan diri sebelum membantu orang lain, itulah isi buku ini. Buku ini berkisah tentang orang-orang yang mengajari kami. Setiap babnya berisi soal nilai-nilai dan orang yang mengirimi kami surat dan mengapa nilai-nilainya penting.

Ada 12 nilai dan grafik sederhana ini menunjukkan alasan optimisme dapat mewujudkan nilai-nilai sederhana dan kekal tersebut. [gambar] Semua ini sudah ada jauh sebelum kita. Semuanya sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan akan terus ada sepanjang masa. Semua yang kita dengar hanyalah tren. Anda harus jadi tren untuk ini dan itu. Jenama kami bukan soal tren. Jenama kami soal kemanusiaan dan nilai-nilai yang baik––sederhana, kekal, nilai-nilai keluarga. Itulah makna jenama kami. Dan itu pula yang dikisahkan dalam buku ini. Bukunya sangat sederhana, isinya kisah-kisah lucu. Tapi, bukunya mengajarkan bahwa kunci meraih kebahagiaan ada di sekitar kita. Kunci menjalani hidup yang memuaskan ada di sekitar kita dan ini bukan ilmu sulit. Ini ilmu yang sederhana. Yang perlu kita lakukan hanya jadi jeli dan menyadarinya.

Kami bepergian dan menulis bukunya, melakukan penandatanganan buku di Barnes & Noble, dan turut membantu dalam kegiatan kerja sama amal; kesemuanya menyenangkan. Tapi hal paling penting dan paling menyenangkan serta berdampak besar yang kami lakukan dalam perjalanan adalah mengunjungi anak-anak yang mengirimi kami surat, dan tahukah Anda? Mereka bukan lagi anak-anak.

Anda mengenali keduanya? [gambar] Salah satunya masih punya satu kaki dan yang lain masih tidak bisa melihat dengan jelas, tapi lihatlah. Mereka masih punya senyum indahnya. Mereka para lelaki muda yang luar biasa. Terlepas dari kesulitan yang dihadapi, mereka menjalani kehidupan yang indah. Mereka terus bahagia, dikenal banyak orang, dan tetap gembira; mereka menaklukkan kehidupan. Mereka benar-benar menikmati hidup. Kami tidak melakukan hal istimewa. Kami tidak memberi mereka banyak uang. Kami cuma berpiknik dan makan siang bersama. Kami tertawa bersama. Berbincang soal yang terjadi di kehidupan masing-masing. Kami bilang mereka menginspirasi kami. Mereka merasa tersanjung. Mereka membuat kami takjub, kami akan terus berkomunikasi dengan mereka.

Tebak siapa dia? [gambar] Ini Lindsey Beggan. Ialah gadis kecil yang orang-orang kira takkan hidup lebih lama dari setahun setelah diagnosis. Ia tinggal di San Fransisco sekarang. Usianya 28 tahun. Ia orang yang pintar. Ia punya karier bagus. Ia masih harus melakukan pemeriksaan setiap tahun untuk memastikan kankernya tidak kambuh, tapi kankernya sudah sembuh. Daripada saya yang berkisah soal hidupnya, mari lihat video singkat darinya saja, biar dia yang bercerita. [video]

Saya tidak punya semua jawaban pertanyaan di dunia, saya di sini bukan untuk memberi Anda solusi. Saya hanya berbagi kisah dan kami masih terus belajar. Kita semua punya kesulitan. Kita tidak boleh saling menghakimi. Kita tidak tahu apa yang dihadapi orang lain di masa lalu. Kita tidak tahu kesulitan apa yang mereka hadapi. Jadi, jangan hakimi teman kerja Anda. Jangan hakimi pelanggan, klien, atau anggota keluarga Anda. Ketahuilah bahwa semua orang punya masalahnya masing-masing. Kita semua punya masalah, 'kan? Ketahuilah bahwa semakin banyak hal yang menjadi fokus saat bangun di pagi hari––yang benar dan baik dalam hidup kita––semakin kita mampu mengerahkan sumber daya kita yang terbatas untuk hal-hal tersebut. Itulah cara menjadi baik untuk diri sendiri. Itulah cara menjadi baik untuk bisnis. Bisnis bisa jadi sesuatu yang baik di dunia, tapi orang-orang diperlukan untuk menjalankannya. Perlu saya dan Anda untuk mengkhawatirkan diri sendiri, bangun, dan menjalankan peran masing-masing. Berfokus pada hal baik dalam hidup Anda

Lupakan saya. Ingatlah ibu saya. Ambil pelajaran darinya. Mulai pertemuan dengan "Beri tahu yang baik yang terjadi hari ini." Ambil pelajaran dari Lindsey. Anggaplah Anda ingin melakukan sesuatu yang berharga setiap harinya. Ambil pelajaran dari anak laki-laki dengan berkomitmen Anda akan bersyukur setiap hari dan tidak merasa Anda harus melakukan sesuatu lagi. Anda tidak harus hadir di konferensi ini. Anda mampu hadir di sini.

Jacobs

Bert Jacobs adalah salah seorang pendiri sekaligus CEO Life is Good. Diluncurkan pada 1994, perusahaan ini menebarkan daya optimisme melalui karya-karya seni inspiratif, komunitas, dan kerja terobosan yang bersifat nirlaba. Awalnya, Jacobs terilhami kisah-kisah perjuangan orang dewasa dan anak kecil dalam menghadapi kesukaran. Life is Good menyumbangkan sedikitnya 10 persen dari laba bersih tahunan mereka ke Yayasan Anak Life is Good, yang telah membantu lebih dari 120.000 anak menghadapi kemiskinan, kekerasan, dan penyakit.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments