Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Harimu Telah Tiba

Vince Poscente

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Poscente mungkin belum lagi memenangkan medali emas, tetapi atlet seluncur es Olimpiade ini sangat paham soal keteguhan yang dibutuhkan agar mampu meraih prestasi. Di sesi ini, ia akan membahas cara merangkul kesukaran dan mengerjakan hal yang malas dilakukan orang lain. Dengan sikap tulus dan lebih berani, Anda bisa berbelas-kasih dan mengejar kesempurnaan yang paripurna.

Perebutan Medali Emas

Hari impian yang telah lama Anda nantikan sudah tiba. Anda berdiri di puncak gunung untuk babak final merebut medali emas. Anda sampai di sini karena tahu kemudahan adalah musuh pencapaian. Anda bulatkan tekad dalam empat tahun ini untuk speed skiing. Impian Anda terwujud: Anda ikut arak-arakan di upacara pembukaan Olimpiade, dan kini waktunya berlomba! Sekarang saatnya memberikan yang terbaik. Wasit berkata, "Siap, yak." Dengan helm ala Darth Vader dan baju ketat berbahan karet, Anda entakkan papan ski, lalu mulai meluncur turun. Dalam tiga detik Anda melesat 60 mil per jam menuruni lereng bukit. Meski sedikit terselip, Anda dapat mempertahankan posisi aerodinamis berkat latihan bertahun-tahun. Di detik ke-11 kecepatan Anda mencapai 125 mil per jam. Angin menghantam tubuh Anda. Papan ski 240 cm itu mulai sulit Anda kendalikan. 130 mph, 135, dan pada 138 mph, Anda membentur gundukan. Seketika gerakan Anda kacau. Anda terus melaju. Bayangkan, Anda menyeberangi lapangan sepak bola dalam 1,5 detik. Kecepatan Anda sudah final. Meski akhirnya gagal merebut medali, Anda senang bisa memacu adrenalin di Olimpiade ini. "MDRT, harimu telah tiba; ini untuk Anda!"

Mencari Kesukaran

Kita ingin bahas sebentar kira-kira apa yang akan Anda dapat dari konferensi ini? Anda semua punya kinerja sempurna, dan kini Anda harus ambil keputusan: Puas dengan pencapaian Olimpiade atau naik kelas ke perspektif baru. Mana yang Anda pilih: Melakukan hal rutin atau bertualang ke tempat yang tidak ingin dikunjungi siapa pun: kesukaran.

Anda tahu, kan, kemudahan adalah musuh pencapaian. Anda punya momentum, Anda pernah meraih sukses, tapi itu semua akan memudar. Ini waktu Anda! Tapi, bagaimana cara Anda sampai ke puncak gunung yang baru? Seberapa tinggi Anda harus naik untuk melihat cakrawala baru? Ayo, mendaki bersama.

Saya cuma peringkat ke-15 Olimpiade, lalu pilih pensiun. Bukankah keputusan ini sangat aneh? Awalnya hampir tidak ada yang butuh saya jadi pembicara. Ya, siapa sih yang mau mengundang atlet Olimpiade tanpa medali? Tapi saya akan bagikan formula sukses sebagai atlet Olimpiade, Pembicara Hall of Fame, penulis laris New York Times sekaligus, dalam satu dasawarsa terakhir, pendaki yang menaklukkan dan menamai gunung yang belum pernah didaki di Himalaya.

Bisa dibilang saya habiskan paruh pertama hidup saya menuruni gunung—selebihnya ya untuk mendaki.

Formula "mencari kesukaran" terus saya pakai sejak Olimpiade. Formula ini untuk Anda. Anda bisa pakai ini untuk menentukan kembali diri Anda pada level kesempurnaan baru sebagai penasihat keuangan sehingga penjualan lebih meningkat dan berdampak pada lebih banyak orang.

Nah, sebelum makin penasaran dengan formula ini, ketahui bahwa: Formula ini lebih tentang siapa diri Anda, karakter Anda, cara Anda hadir, bukan apa yang Anda lakukan. Kalau bisa merangkul lima sifat ini, Anda bisa jadi pahlawan di lingkungan Anda, seorang pakar untuk hidup dan masa depan nasabah. Anda pasti tahu pepatah "Air pasang mengangkat semua perahu". Jadilah air pasang itu. Coba hadir dalam hidup sesama dan jadi cerminan apa yang jadi kebutuhan mereka. Sodorkan kontrak di meja dan tunjukkan kalau Anda ini mencerminkan sifat gigih, welas asih, tidak egois, tak kenal takut, dan rendah hati.

Gigih

Hal pertama yang mutlak dilakukan dalam perjalanan mencari kesukaran adalah sifat gigih. Level kesempurnaan yang baru ini serba tidak pasti. Anda sampai di titik di mana Anda merasa sudah bekerja sangat keras: Bagaimana supaya saya bisa bekerja lebih keras lagi? Itu pertanyaan yang keliru. Bagaimana supaya saya bisa bekerja lebih cerdas? Dengan kegigihan, yang Anda ambil dari pengalaman Olimpiade. Beralih dari pemain ski awam ke atlet Olimpiade bukanlah soal kerja keras. Ini justru tentang terus-menerus melakukan hal yang tidak mau dilakukan para pesaing. Anda perlu catat ini: "Lakukan hal yang tidak mau dilakukan para pesaing."

Lalu, apa yang tidak mau dilakukan penasihat keuangan yang hebat? Biasanya, itu juga hal yang tidak ingin Anda lakukan. Mengapa? Karena belum-belum kita sudah merasa itu sulit, padahal baru memandang gunungnya saja.

Biar saya jelaskan. Saya butuh waktu 18 bulan untuk beralih dari atlet Olimpiade ke pembicara. Itu tidak mudah, saya terus dihantui keraguan dan ketidakpastian. Fisik, mental, dan emosi saya benar-benar diuji. Saya amat kacau. Namun, jika Anda menundanya lagi, sampai kapan Anda bisa sampai di level kesempurnaan yang baru? Suatu saat Anda akan sadar kalau sekaranglah saatnya. Sekarang saatnya melakukan hal yang tidak mau dilakukan para pesaing.

Untuk bisa gigih, pertama-tama kenali apa yang tidak mau dilakukan penasihat keuangan yang hebat. Saya ambil contoh dari tiga bulan pertama saya masuk ke dunia pembicara. Saya tawarkan diri pada manajer penjualan kantor real estat untuk jadi pembicara motivasi gratis bagi tenaga penjualan mereka. Seluruh tawaran saya pasti diterima karena manajer penjualan selalu mencari hal baru untuk dikerjakan "di rapat penjualan minggu ini". Dalam tiga bulan Anda bisa melakukan 100 presentasi. Dan dalam tiga bulan, Anda makin mahir. Saat kompetitor sedang sibuk menentukan kampanye media sosial yang baru atau skema warna situs web mereka, Anda berhadapan dengan banyak orang yang ingin mencapai level kesempurnaan lebih tinggi. Anda semua penasihat keuangan, jadi berikan saran keuangan pada orang yang sangat membutuhkannya: tenaga penjual.

Inilah masalah yang akan Anda hadapi saat mencari kesukaran. Anda akan bertemu dengan kesukaran.

Saya pernah mewakili layanan investasi real estat. Saya ikut promosi keliling untuk membantu mempromosikan proyek investasi kondominium di kota Calgary, Edmonton, dan Phoenix. Salah satu presentasinya diselenggarakan di Grand Prairie Community Hall. Peserta: 20.000. Saya hadir dengan setelan jas. Sepatu dan ikat pinggang saya tampak serasi. Masalahnya, saya tidak diberi tahu dress code-nya—sepatu bot dan jaket flanel.

Baru lima menit berbicara, seorang pria paruh baya naik ke panggung. Ia mulai mengarahkan telunjuknya yang terlihat seperti sosis Hormel gosong itu pada saya. "Anda, ANDA, ANDA hanya mau menipu kami, kan?" Semuanya hening. Semua mata yang tadinya fokus pada pria berjari sosis itu kemudian beralih memandangi saya.

"Anda terdengar skeptis." Saya berkedip, dan ruangan dipenuhi gelak tawa. "Tapi saya serius; Anda harus skeptis. Jika Anda skeptis, berarti saya harus jawab pertanyaan Anda, dan Anda perlu memastikan pertanyaan Anda dijawab. Begitu, Pak. Terima kasih telah mengatakannya." Lalu ia duduk, tersenyum, dan kami bisa melanjutkan acara.

Anda akan mengalami momen yang amat tidak nyaman. Semakin banyak kesukaran yang Anda cari, semakin banyak pula ketidaknyamanan yang Anda dapati. Namun, dengan kegigihan, Anda akan dapat melewatinya.

Hasil lain dari mencari kesukaran adalah momen hening di mana Anda diminta untuk memperhatikannya.

Berwelas asih

Berwelas asih menjadi sifat kedua performer kelas atas yang mencari kesukaran. Kata compassionate (berwelas asih) dibentuk oleh kata passion (hasrat kuat). Cari hasrat Anda, dan Anda bisa dorong penasihat keuangan yang berwelas asih ke level yang sepenuhnya baru.

Sekali lagi, berwelas asih adalah soal memperhatikan. Perhatikan yang terjadi di luar laptop, di luar meja kerja, di luar kantor Anda. Perhatikan orang-orang yang Anda layani dengan hasrat kuat.

Ingatlah, Anda bisa sampai di sini karena, di satu titik dalam hidup, Anda yakin kalau Anda dimaksudkan untuk mencipta perubahan bagi hidup sesama.

Suatu malam yang dingin di bulan Oktober, titik yang saya maksudkan itu tiba. Saya hampir lulus SMA. Ada satu hal yang terus menghantui pikiran saya. Tidak tahu kenapa, saya sangat terobsesi untuk memberi pidato perpisahan. Dari mana datangnya obsesi itu? Mengapa obsesi itu muncul di benak saya?

Pada suatu Rabu malam yang sunyi, ibu saya menggedor jendela dan berkata, "Cepat keluar, Vince. Ada aurora." Anda pasti tahu kalau aurora borealis itu muncul sekejap saja. Meski sudah buru-buru ke luar rumah, paling-paling Anda hanya kebagian ujung ekornya saja. Tapi, ini bukan aurora biasa.

Kilauan cahaya itu menari-nari di angkasa. Dari timur ke barat terbentang garis yang memendarkan warna hijau, biru, dan merah. Lalu, seperti pusaran krim yang dituang ke cangkir kopi, cahaya itu membentuk pusaran di langit. Bentangan cahaya yang tadinya naik turun berubah jadi ke kanan dan ke kiri, lalu mengerucut, dan mata kerucutnya berada di atas kami. Saya dan ibu tercengang, dan setelah menghela napas, cahaya itu menyatu dan melesap dalam bongkahan cahaya, hilang ditelan langit malam.

Ibu menoleh dan berkata, "Itu untukmu."

Akan ada momen di mana Anda akan merasa "ditepuk". Seseorang akan menepuk lembut bahu Anda sambil memberi pesan "Perhatikan".

Bagaimana Anda bisa sampai duduk di ruangan ini? Suatu hari, Anda akan ditepuk. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti, Anda akan ditepuk agar mau memperhatikan. Cari kesukaran. Hal ini tidak akan mudah, tapi ini hasrat Anda.

Tujuh bulan kemudian, saya memberikan pidato perpisahan. Ada perasaan membara untuk menggerakkan orang-orang. Untuk mencoba hal baru. Untuk meyakini diri sendiri dan mengikuti hasratnya. 2.600 orang berdiri bertepuk tangan meriah begitu pidato ini selesai.

Satu tepukan lagi.

Tidak Egois

Sebelumnya saya katakan saya bergelut dengan keraguan dan keengganan menghadapi kesukaran selama 18 bulan. Saya juga perlu waktu lama hingga akhirnya memutuskan melakukan 100 presentasi. Sebenarnya cukup mudah untuk mengenali titik di mana Anda merasa ditakdirkan untuk mendaki gunung baru. Cara ketiga adalah mengejar kesempurnaan. Dengan itu, Anda akan dituntut agar tidak egois.

Sifat terpenting ketiga adalah tidak egois. Tidak egois itu paradoks. Anda tahu simbol ying dan yang? Anda harus mengejar kesempurnaan agar tidak egois. Semakin sering Anda mengejar kesempurnaan, semakin mampu Anda untuk tidak egois. Sifat tidak egois berhubungan erat dengan fokus pada kesempurnaan. Contohnya, dulu saat jadi atlet ski, pelatih minta kami meniti tali yang jaraknya 2 kaki dari tanah. Semuanya gagal. Padahal di antara kami ada pemain ski terbaik dunia. Lalu pelatih berkata, "Berhenti! Jangan lihat ke bawah. Lihat ke atas! Ambil satu titik di tembok, fokus ke situ." Kawan kami siap meniti, ia lihat titik di tembok, lihat ke bawah untuk memastikan pijakannya, pelatih pun berseru, "Berhenti! Jangan lihat ke bawah. Kamu berdiri dengan kakimu, talinya jelas-jelas di bawah kakimu. Fokus ke titik di dinding." Dalam hitungan menit, kedua puluh atlet ini bisa meniti tali. Apakah keterampilan kami berubah? Tidak. Kami ubah fokusnya. Sama halnya dengan tidak egois. Jangan fokus pada diri sendiri, anggap titik di tembok itu kesempurnaan. Fokuskan semua yang Anda lakukan pada kesempurnaan. Maka Anda akan punya sifat tidak egois yang sangat kuat, dan secara alami bisnis Anda akan terbentuk.

Tidak Kenal Takut

Sifat keempat yang sering kali salah ditafsirkan adalah tidak kenal takut. Tidak kenal takut itu bukan tidak takut pada apa pun. Namun, ini soal tidak didominasi rasa takut.

Anda berhasil masuk Million Dollar Round Table. Anda orang luar biasa di bidangnya. Rasanya menyenangkan, ya? Anda mengalami yang namanya kurva S klasik. Anda bayar iuran keanggotaan. Anda sampai di titik nyala, lalu Anda melesat bagai roket. Tanpa Anda sadari Anda telah mencapai titik tertinggi.

12 Juni 2008 di San Francisco, kita bertemu untuk pertama kalinya. Di pertengahan 1990-an karier awal sebagai pembicara berjalan lambat. Namun sesudahnya semuanya meledak. Titik nyala saya ada di 1997, dan selama 10 tahun, karier saya sangat gemilang. Pada 2007 saya dapat penghargaan dan dinobatkan sebagai penulis laris New York Times. Saya benar-benar berada di puncak. Saya investasikan uang pada bisnis Anda. Membangun rumah senilai $2 juta, lalu 2008 tiba.

Pada hari itu, sebelum tampil, setelan jas sudah saya kenakan, saya tahu perencana rapat menunggu kehadiran saya di ruang konferensi. Saya tutup muka sambil menangis, Apakah saya bisa melaluinya?

Rasa takut itu sangat menguras tenaga. Anda tidak bisa lari dari rasa takut. Hanya bisa menguranginya. Dan, sebagai penasihat keuangan yang gigih, berwelas asih, tidak kenal takut, dan tidak egois, Anda dapat membantu nasabah tanpa perlu terlalu takut!

Lagi-lagi, cari kesukaran. Kurangi rasa takut dengan menghadapinya. Uangnya dari mana? Nah, di situ titik serunya. Pernah saya tidak punya uang sepeser pun di rekening. Saya harus berbicara dalam beberapa minggu lagi. Saat isi bensin, saya cuma punya 25 sen. Saya berikan $7,25 sen ke petugas dan tetangga saya yang banyak mulut melihatnya. Tahu, kan, orang yang sukanya bicara sana sini.

Cari kesukaran.

Butuh bertahun-tahun untuk jadi kaya lagi. Pernah saya cuma punya $80 di rekening, tapi harus terbang ke tujuh kota. Ini satu rangkaian acara publik di mana saya bisa dapat uang kalau program pelatihan seluler ELEPHantPOWER terjual. Sampai di Boston, panitia datang menjemput saya. Ia lalu bertanya, "Anda menginap di hotel mana?"

"Oh, saya baru mau pesan lewat aplikasi Hotel Tonight."

"Kalau belum ada rencana, menginap saja di rumah kami."

"Oh, Anda baik sekali! Saya juga lebih senang tinggal di rumah Anda daripada di hotel."

Singkat cerita, saya berhasil melakukan tur itu karena saya tidak dikendalikan rasa takut. Hanya menguranginya saja.

Rendah Hati

Pilihannya dua: rendah hati atau direndahkan. Itulah cara kelima, cara yang sangat penting untuk mencari kesukaran. Rendah hatilah.

Anda dipilih, tapi bukan yang terpilih. Jadi anggota MDRT tidak boleh membuat kita sombong; justru ini latihan untuk menjadi rendah hati.

Di titik terendah ini, Anda punya pilihan untuk berhenti atau terus mendaki. Putuskan sendiri.

Saya tidak tahu kenapa saya harus rendah hati. Saya tentu bersyukur atas apa yang saya sampaikan dan pada orang yang mau berinvestasi pada program saya. Mencari kesukaran jadi misi saya. Waktu diajak naik gunung di Himalaya yang belum pernah didaki, tanpa pikir panjang saya bilang ya. Pendakian ini malah membuka pintu untuk pendakian lain. Di ekspedisi ketiga, tepukan terjadi di lereng bebatuan. Saya tidak tahu posisi pastinya.

Dalam perjalanan ke puncak, kami tidak melihat ada binatang liar. Saat mendaki, kadang Anda harus jeda sebentar untuk melihat ke atas. Saat mulai melangkah, fokus Anda ada di bawah, memperhatikan tiap langkah.

Setelah mencapai puncak, saya dan Ankit, seorang pemandu, duduk berjauhan. Ankit duduk 50 meter dari saya yang sedang bermeditasi mengucap syukur atas napas, atas kemauan mencari kesukaran, dan atas kesempatan untuk terus mendaki.

Lalu ada kawanan burung yang terbang di langit. Seperti krim yang dituangkan ke cangkir kopi, mereka terbang membentuk pusaran berbentuk kerucut. Saya tercengang melihatnya. Tak lama setelah itu, mereka berpencar dengan bercicit dan mengepakkan sayapnya menjauh.

Ankit menemui saya dan kami berdua tercengang. "Itu tadi apa ya?"

"Itu untukmu, kawan!"

Satu tepukan lagi. Apa artinya itu tadi?

Perhatikan. Di depan Anda ada gunung kesukaran.

Anda dan saya ada di bisnis untuk membantu sesama. Siapa pun Anda, penasihat keuangan atau pembicara untuk penasihat keuangan terbaik di dunia, pertimbangkan tepukan ini.

MDRT, harimu telah tiba.

Semoga video ini jadi tepukan untuk Anda. Judulnya "The Heroes Climb". [video]

Kita di sini merefleksikan masa lalu, mengantisipasi yang akan datang.

Gunung mana yang harus Anda daki? Apa kesukaran yang akan Anda temui? Untuk siapa Anda menaklukkannya?

Anda telah dipilih oleh orang yang membutuhkan Anda.

Anda punya tanggung jawab untuk meninggalkan kenyamanan di rumah.

Dunia menunggu Anda mencari kesukaran.

Sekaranglah waktunya. Jangan pedulikan kata orang; itu akan menahan langkah Anda.

Kembangkan hasrat Anda. Itu akan memperkaya dunia. Kalau sekarang belum kalah, nanti pasti begitu.

Di petualangan selanjutnya mungkin Anda akan dapat tepukan. Ini bisnis yang kompetitif! Namun, kita tidak sedang beradu cepat.

Di sini tidak ada yang bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain. Tentukan kecepatan Anda sendiri.

Bisnis ini memilih Anda. Putuskan jalan Anda sendiri.

Selalu ada hal baru di dunia ini. Dan hal baru itu adalah Anda!

Harimu telah tiba.

Kegigihan akan memelihara dan membuat Anda bahagia.

Hargai saat-saat Anda masih tegak berdiri.

Cari cara untuk lebih berwelas asih.

Hasrat yang Anda bagikan mencerminkan karakter Anda.

Cari cara untuk makin tidak egois.

Dunia ini perlu dipimpin oleh orang yang sempurna.

Kurangi takut. Perbanyak memberi cinta.

Orang akan ingat apa yang mereka rasakan ketika Anda hadir bukan seberapa beraninya Anda.

Rendah hatilah.

Anda itu orang yang berani, meski tidak merasa begitu.

Waktu yang kita habiskan bersama ini untuk Anda.

Saya merasa terhormat karena boleh berbagi dengan Anda.

Semoga kita bertemu di ruangan ini atau di alam luas.

Kemudahan itu musuh pencapaian, dan suatu hari, semua akan berubah.

Mungkin itu kemunduran. Mungkin juga impian yang terwujud.

Semoga itu kesukaran yang dapat kita hadapi bersama.

Ayo, mendaki bersama.

MDRT, harimu telah tiba!

Poscente

Vince Poscente adalah seorang penulis buku terlaris New York Times dan salah satu pembicara motivasi paling diminati. Ia memiliki gelar master dalam ilmu manajemen kelembagaan, merupakan pemilik usaha pemenang penghargaan, eksekutif bidang penjualan dan pemasaran, serta seorang penulis buku. Poscente pakar dalam membangun tim dan melatih mereka cara menjual lebih banyak, memimpin lebih baik, dan menghasilkan lebih hebat lagi. Ia juga seorang atlet Olimpiade dan pembicara terkenal di Kanada dan A.S.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments