Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Bayanganku Berlari Cepat

D. Scott Brennan

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Pensiun itu usia atau perasaan saja? Apakah pensiun harus selalu berarti cukup tidaknya uang saya? Bisakah orang pensiun dan tetap menjalani hidup yang bermakna? Jika orang sangat melekat dengan pekerjaannya, bisakah ia benar-benar lepas dari pekerjaan itu? Di sesi yang dirancang untuk kecerdasan emosional Anda ini, Anda akan menyimak seseorang yang telah menjadi anggota MDRT selama 35 tahun dan telah ikut berperan menciptakan masa pensiun yang bahagia bagi banyak orang dan mendalami akar masalah guna membantu mereka yang belum mengalaminya. Brennan akan berbagi banyak gagasan yang dirancang untuk membantu orang mentransformasi dirinya sendiri.

Someday we’ll go places (Suatu hari kita kan pergi)
New lands and new faces (Ke negeri baru, wajah baru)
The day we quit punching the clock. (Di hari saat kita purnawira.)
The future looks pleasant, (Hari depan tampak syahdu
,)
But at present (Tapi terlebih dahulu)
Let’s take a walk around the block. (Jalan-jalan sebentar marilah kita.)

Orang yang sudah beruban, atau sudah botak, pasti kenal syair lagu dahsyat yang ditulis oleh Harold Arlen ini. Lagu kenangan yang ditenarkan oleh Ella Fitzgerald dan, kemudian, oleh Mel Torme, ini bercerita tentang sejoli yang punya rencana begitu besar bagi hari depan mereka. Alih-alih merasa gentar dengan rencana yang begitu besar, mereka malah jalan-jalan sebentar sambil memikirkannya.

Coba bayangkan sejenak: Anda jalan-jalan sebentar bersama saya, dan saya mencoba sebaik mungkin membuka pikiran Anda untuk hal-hal baru yang mungkin belum pernah Anda pikirkan.

Lebih banyak orang yang cedera ketika turun daripada saat mendaki gunung. Anda pasti pernah mendengar atau membacanya. Begitu juga dengan pekerjaan dan karier yang jalani dan nasabah yang kita layani.

Sebagian Anda yang bekerja di bidang perencanaan pensiun lebih sering menggunakan otak kirinya. Saya minta Anda untuk menggunakan sisi yang satunya lebih sering lagi.

Maksudnya apa?

Otak kiri Anda tahu bahwa ada empat arah mata angin: utara, selatan, timur, dan barat. Selesai. Tetapi jika saya tanya sisi otak Anda yang lain, “Ada berapa banyak arah mata angin?” Anda mungkin berpikir, Bukankah itu tergantung ke mana orang pergi? Orang yang empatis akan lanjut bertanya, “Butuh tumpangan?”

Orang Indian Navajo punya tujuh arah mata angin: utara, selatan, timur, barat, atas, bawah, dan dalam.

Kalau Anda anggap cara pikir seperti ini berguna, Anda akan paham hal yang kita akan bahas di sini. Kalau Anda belum mengerti dan berpikir bahwa perencanaan pensiun itu hanya soal angka dan bukan soal rasa, untuk sementara ini mungkin Anda berada di ruang yang salah. Tidak apa-apa; belum tentu Anda tersesat hanya karena belum tahu mau ke mana.

Apa jarak terpanjang antara dua tempat? Waktu. Kalau tidak percaya, buka laci dan lihat album foto lama.

Wanita paruh baya: Lihat tangan Anda. Itu bukan tangan Anda; itu tangan ibu Anda yang cantik.

Pria paruh baya: Siapa orang tua yang Anda lihat di cermin tadi malam saat hendak kembali ke ranjang setelah ke kamar kecil? Tidak apa-apa; dia di sana setiap malam.

Pertama, Anda muda.

Lalu, Anda paruh baya.

Lalu, Anda luar biasa; nikmatilah.

Saya tidak mengelola uang, tidak pula orang. Saya mengelola hubungan. Bisnis saya bisnis sifat manusia. Sebagian dari hubungan ini bersama orang yang ingin pensiun atau yang sudah pensiun. Sebagian besar kita bisa menghitung tingkat keuntungan dari uang yang ditanamkan. Akan tetapi, tingkat keuntungan manusia dan hubungan Anda dengan mereka itu eksponensial.

Matematika tak punya emosi, manusia punya.

Nasabah paruh baya datang ke kantor Anda dan berkata, “Saya siap pensiun.” Bagi sebagian Anda, pertanyaan pertama yang diajukan pasti berkaitan dengan uang. Agen yang empatis akan bilang, “Wah, selamat! Tapi saya punya satu pertanyaan sulit. Kapan terakhir kali Anda cuti sebulan, diam di rumah, dan tetap merasa semua terpenuhi?” Bagian sulit dari pensiun bagi orang-orang sukses bukan soal uangnya; tetapi soal bayangan bahwa mereka tidak lagi dianggap penting. Bagi banyak orang, hal tersebut menjadi pukulan telak bagi ego mereka; banyak orang cerdas yang luput membayangkan hal ini. Kalau Anda dengan lembut menunjukkan hal ini dan membicarakannya, Anda sudah beda dari yang lain.

Kadang, Anda hanya tahu apa yang bukan.

Beberapa tahun yang lalu, saya berbicara dari hati ke hati dengan seorang teman yang memimpin departemen perwaliamanatan dari sebuah bank tepercaya. Dia bilang dia akan pensiun, dan saya tanya satu kata: “Selamanya?” Dia terkekeh dan bilang tidak; hanya sementara saja. Katanya, bank memintanya mencurahkan 90 persen waktunya untuk mengelola karyawan dan hanya 10 persen saja untuk nasabah, dan dia tidak suka. Dia lebih senang melayani nasabah dan merasa mengelola karyawan itu susah dan menguras tenaga.

Saya tanya, semisal dia bisa membalik persentasenya, apa dia mau kerja lagi. Dia jawab iya, tapi dia butuh jeda satu atau dua tahun untuk menyegarkan diri. Dia mau melancong, membaca, menghabiskan waktu bersama istrinya, dan mencari kegiatan lain. Saya bilang, tampaknya dia bukan mau pensiun; dia cuma sedang mencari “pot” yang lain. Dia memandang saya dengan terperangah, “Itu dia; benar itu! Itu yang mau aku lakukan; mencari 'pot' yang lain.” Selama beberapa tahun setelahnya, saat kami berjumpa, dia selalu mengenang kembali percakapan itu.

Henry Miller pernah menulis, “Tujuan manusia bukanlah sebuah tempat, melainkan cara baru mencari sesuatu.”

Saat mengunjungi nasabah, jika orang tampak sedang kesusahan, dan Anda bertanya, “Semua baik-baik saja?” mereka mungkin tidak selalu akan membuka diri. Akan tetapi, jika Anda tanya orang yang sama, “Bagaimana tidurmu?” seringnya mereka akan menceritakan apa hal yang mengganggunya.

Perilaku intuitif ini sangat berharga dalam profesi kita. Dulu gaya “empati aktif” ini punya tempat di bidang profesi kita. Dan lambat-laun sepertinya gaya tersebut akan usang kalau orang selalu terpaku pada ponselnya. Ingat, kalau orang terlalu sering ber-SMS, keterampilan mendengar, berbicara, dan menulis mereka akan menurun atau, bagi yang masih muda, mungkin tidak akan berkembang.

Orang yang sudah pensiun punya waktu untuk berdialog. Anda mau jadi penasihat rencana pensiun yang luar biasa? Jadilah komunikator yang baik. Berperilakulah seperti detektif; cari petunjuk. Dengarkan yang tidak diucapkan. Pertajam naluri Anda. Sekali lagi, dulu gaya seperti ini punya tempat di pasar kita. Pisahkan diri Anda dari kerumunan massa.

Amatir akan berupaya hingga kerjanya benar; anggota Million Dollar Round Table berupaya hingga kerjanya tidak mungkin salah.

Kalau nasabah datang ke kantor Anda dan bilang mereka mau meninggalkan karier atau tempat kerja setelah bertahun-tahun, lumrah jika Anda bertanya, “Kenapa? Apa yang terjadi?” Kadang Anda mendapat jawaban, kadang tidak.

Saat mendengar seseorang hendak keluar dari perusahaan setelah 35 tahun, atau meninggalkan profesinya setelah 40 tahun, agen yang empatis akan meminta nasabahnya duduk dan bertanya ringkas, “Sudah mantap hati?”

Pisahkan diri Anda dari kerumunan massa.

“Usia manusia selalu berpijak di dua tumpuan: terlalu muda dan terlalu tua.” Itu kata-kata mutiara yang semakin benar maknanya kini sejak Dylan Thomas menulisnya bertahun-tahun yang lalu. Pensiun bagi banyak orang hebat berarti kerja lebih sedikit dengan pemasukan yang sama. Anda bisa melakukan kedua-duanya.

Bagi banyak orang profesional, melambat itu kemewahan. Pilihannya: harus kerja ATAU harus pensiun. Mereka tidak mampu merangkul keduanya. Kita bisa. Anda sadar betapa beruntungnya kita? Kita bisa terlahir kembali berkali-kali dan tidak seberuntung seperti di siang hari ini.

Anda sudah pernah baca buku Moneyball atau menonton filmnya? Kalau Anda tinggal di kota kecil yang besar, akan bermanfaat jika Anda piawai di lebih dari satu bidang.

Menurut Anda masuk akal bagi orang yang memasuki masa pensiun untuk mengambil asuransi kesehatan jangka panjang? Itu seperti gajah di depan mata; setidaknya bicarakanlah.

Menurut Anda asuransi jiwa akan melengkapi rencana pensiun pasangan suami-istri? Bukankah lebih mudah Anda mengeluarkan lebih banyak uang untuk polis lain kalau sudah punya polis jiwa bagi anak-anak Anda? Untuk dua orang, yang sama-sama berusia 65 tahun, kans bahwa salah satu dari mereka akan hidup hingga usia 90 tahun itu 50/50.

Tawarkan produk anuitas untuk nasabah berusia tua; produk-produk ini bagus sekali. Anak-anak mereka nanti akan sangat gembira karenanya.

Pasar keuangan naik ... lalu turun ... lalu naik lagi, walau tidak mesti seperti itu urutannya.

Pasar terjun bebas di kuartal keempat 2008 dan sepanjang 2009. Saya bertemu para nasabah dan memulai percakapan kami dengan berkata, “Saya tahu Anda kehilangan uang, saya tahu keadaan tidak sebaik yang kita harapkan, tapi mohon ingat bahwa ini hanya sementara. Anda cerdas, punya keluarga bahagia, dan rumah yang indah; bersyukurlah dan ingat, Anda bisa saja terlahir kembali belasan kali, dan tidak seberuntung di pagi hari ini.”

Saya katakan itu kepada nasabah lama saya di suatu pagi, dan dia membalas, “Saya kehilangan $300.000 di pasar.”

Saya tanya, “Menurut Anda uang itu akan kembali dalam lima tahun?”

Jawabnya, “Sepertinya begitu.”

Lalu saya katakan, “Kalau begitu, ayo taruh $300.000 untuk jangka lima tahun demi menjamin dana tersebut kalau-kalau hal yang tidak diinginkan terjadi.”

Katanya, “Itu ide bagus.”

Beberapa tahun yang lalu, seorang nasabah saya pensiun sebagai seorang mitra dari sebuah firma akuntan, dan sembari kami sarapan dia bilang dia kaget bahwa Arthur Andersen bisa bermasalah. Yang sedang menghadapi senjakala ini adalah sebuah firma CPA yang sangat prestisius. Selama lima tahun ke depan, firma nasabah saya ini akan membayar setengah juta dolar untuk uang pensiunnya. Saya tanya apakah dia membutuhkan uang tersebut.

Saat dia menjawab, “Tentu saja butuh,” saya sarankan agar dia gunakan $500.000 tersebut untuk membeli polis dengan jangka 10 tahun kalau-kalau dia meninggal atau kalau firmanya kolaps sehingga tidak sanggup membayar uang pensiun untuknya atau untuk jandanya.

Dia merasa itu ide yang baik. Saya tidak perlu bicara macam-macam; sudah tertulis di kartu nama saya: “We connect great people with good ideas.” ("Kami hadirkan ide bagus untuk orang-orang luar biasa.")

Anda main bridge? Salah satu alasan bridge tetap disukai para pemainnya di seluruh dunia adalah karena agar bisa bermain bagus, orang harus mau dulu bermain jelek.

Saat saya memulai profesi di asuransi jiwa, saya menjalani kaul kemiskinan. Saya tidak memenuhi syarat untuk masuk ke lingkaran Million Dollar Round Table. Meja gepeng pun tidak. Tapi sekarang, setelah sekian tahun, setelah sedikit demi sedikit memperbaiki diri tiap tahunnya, saya tidak mau menyerah. Anda juga mungkin merasakan hal yang sama, atau nanti akan merasakan hal yang sama.

Ini bukan pekerjaan; ini panggilan.

Saya dilatih secara tradisional untuk menjadi penjual asuransi jiwa dan menyusun polis jiwa pada puncaknya merupakan seni, alih-alih sains. Di dalamnya terdapat paduan angka dan kecerdasan sosial. Dan ketika saya melakukannya dengan baik, saya merasa telah berbuat baik. Percayalah, bukan hanya saya yang merasa seperti ini. Anda masih bingung mau sedikit bekerja dan banyak bermain atau banyak bermain dan tidak bekerja di usia tua? Tidak apa-apa.

Saya lebih merasa bersyukur, ketimbang bangga. Terjadi seiring waktu, dan MDRT membubuhkan bumbu yang pas bagi saya untuk sadar bahwa saya punya kehidupan yang luar biasa, seperti Anda.

Restoran bintang lima saja menyajikan hidangan ikan dengan lima suhu yang berbeda: dingin, sejuk, sesuai suhu ruangan, hangat, dan panas. Dengan demikian, pasti ada lebih dari satu cara untuk pensiun. Data statistik menunjukkan bahwa orang tidak hanya bekerja lama, tetapi ada juga yang pensiun sementara lalu kembali bekerja.

Ingatkan orang lain, nasabah, dan prospek Anda bahwa "pensiun" tidak lagi berarti setelah usia 65. Boleh jadi pensiun di usia 60 dan kembali lagi selama lima tahun di usia 65. Atau kerja paruhwaktu di usia 56 hingga seterusnya.

Dalam permainan golf, kalau tidak suka pukulan di lubang pertama, pemain biasa akan memukul lagi. Istilahnya 'bola sarapan' (breakfast ball). Orang berbakat dan kreatif dapat melakukan hal yang sama dengan pensiun mereka.

Pensiun adalah kata yang dapat dimaknai dengan berbagai cara. Ia seperti jaket aneka warna.

Dewasa ini, ada berbagai produk yang mewujudkan fleksibilitas. Jadilah pemandu jalan bagi orang yang melalui jalur yang kadang terjal dan berbatu ini. Mengapa saya mengutarakannya sebagai peringatan?

Salah satu tingkat bunuh diri tertinggi di Amerika saat ini terjadi pada kelompok pensiunan laki-laki berusia di atas 70 yang dahulu sukses dalam hidup mereka. Bagus memang berbisnis dengan orang yang ingin pensiun, tetapi sebagian dari nasabah ini membutuhkan kepuasan batin dan kestabilan emosi yang hanya bisa didapatkan dengan bekerja, atau bekerja paruhwaktu.

Gangway, we’ll begin (Dari gang, kita bermula)
When our ship comes in. (Saat kapal kita tiba.)
You’ll sit on my lap, (Kau duduk di pangkuanku,)
All over the map. (Kita berkeliling dunia.)

To London in May time, (Ke London di bulan lima,)
Venice in play time, (Melompat girang ke Venezia,)
To Paris in time for a frock, (Ke Paris, waktunya bergaya,)
To Boston in bean time, (Ke Boston, dalam sekejap mata,)
Darling, meantime, (Sementara itu, Juwita,)
Let’s take a walk around the block
. (Jalan-jalan sebentar marilah kita.)

Salah seorang teman saya menduduki posisi No. 3 di setiap perusahaan besar dan kemudian memegang jabatan tertinggi di organisasi lainnya. Saat ia pensiun, ia mengirimkan surat kepada 20 CEO yang sudah pensiun, meminta waktu untuk mewawancarai mereka. 12 orang dari mereka setuju, dan sebagian besar menyatakan dengan cukup blak-blakan bahwa tahun-tahun pertama pensiun jauh lebih susah rasanya ketimbang bekerja. Mereka menghadapi tantangan berat. Rutinitas baru mereka tidak terasa memuaskan. Dan tidak jarang istri mereka masih kagok melihat mereka ada di rumah untuk makan siang di tengah hari.

Orang yang dapat menerima dirinya tampak lebih mampu menyesuaikan diri. Tetapi semakin tinggi tangga karier yang telah dicapai, semakin sulit. Ingat, sebagian besar kita pernah menyaksikan contoh cara melakukannya dengan baik dan benar. Kalau nasabah mengalami kesulitan seperti ini, hubungi mereka. Tanyakan kabarnya; ajak makan siang. Pada akhirnya, yang diinginkan manusia dari sesamanya adalah kebaikan hati. Berbaik hatilah; kita semua pintar dalam hal ini.

Orang pesimis bilang, “Rumahku ludes terbakar; habislah semuanya.” Orang optimis bilang, “Rumahku ludes terbakar, sekarang langit jadi atapku.” Sebagian nasabah masuk ke dalam kehidupan Anda sebagai berkat, dan sebagian lain untuk memberi pelajaran. Saya alergi dengan orang-orang berpikiran negatif; orang-orang penuh semangat menjadikan segalanya lebih baik. Charles Dickens benar: Mau masa baik, atau masa buruk, putuskan sendiri.

Sulitkah mengawinkan filsafat dengan kenyataan? Sulit. Anda akan menyaksikan tantangan yang dihadapi orang-orang yang baru pensiun, dan tantangannya tidak selalu soal uang. Setelah enam bulan pensiun, seorang kenalan saya yang sukses bercerita bahwa semua minuman beralkohol di rumahnya habis. Waktu saya tanya mengapa, dia jawab karena setiap bulannya jam minum koktail jadi semakin awal.

Dalam hidup ini, kita tidak cuma dapat tiga keinginan; kita dapat banyak. Saya tanya seorang nasabah saya, pendidik berusia 67 tahun yang pintar bergaya dalam hal busana, mengapa ia tidak pensiun walau uangnya cukup. Ia bilang bahwa rekan-rekan sesama pengajar yang sudah pensiun masih mengenakan pakaian yang sama lima tahun setelah berhenti bekerja. Saya rasa ini luarbiasa.

Beberapa tahun yang lalu, seorang nasabah saya yang sudah pensiun dan pindah ke Florida berkata bahwa ia tahu ia sedang bosan saat setiap pagi ia mengecek siapa yang akan tampil di acara Oprah siang hari nanti.

Ada satu kisah yang ditulis Jim Koch tentang pengarang Kurt Vonnegut. Mungkin kisah ini benar, mungkin tidak, tetapi saya akan ceritakan lagi di sini. Vonnegut sedang menghadiri pesta, duduk di sebelah orang kaya raya yang tak berhenti berkoar tentang kekayaan dan harta-bendanya. Orang ini punya banyak lukisan Picasso sampai-sampai salah satunya 'terpaksa' digantung di kamar mandi tamu. Vonnegut akhirnya menyela dan konon ia berkata, “Kau tahu, punyaku ini pasti ingin sekali kau miliki, tapi rasa-rasanya kau takkan pernah bisa.”

Orang kaya itu membalas, “Memangnya punyamu apa?” Tampang orang kaya itu seolah dia siap membayar harga berapa pun hanya untuk bisa bilang kalau dia juga punya.

Kurt Vonnegut menatapnya dan perlahan ia berkata, “Punyaku cukup.”

Ingini lebih sedikit, hargai lebih banyak.

Saya menonton turnamen golf AS Terbuka di televisi musim panas lalu. Pembawa acara mengatakan bahwa arsitek lapangan golfnya menempatkan lubang sedemikian rupa sehingga angin bisa menjadi hazard yang tidak terlihat. Ada hazard (bahaya) tak terlihat bagi para pensiunan. Seperti ada mata-mata yang siap menyergap. Sekilas info: Facebook bukan kehidupan nyata.

Kalau ini lagu musik country, saya akan berhenti bernyanyi dan mulai bicara; istilahnya “Resitasi.”

Seorang manusia tidak akan pernah menjadi manusia terkaya, terkurus, atau berbusana terbaik. Akan tetapi, seorang manusia dapat bersyukur. Bersyukur dan bersikap menghargai merupakan keputusan yang cendekia.

Kalau orang tidak nyaman dengan dirinya saat bekerja, mereka tentu tidak nyaman pula saat pensiun.

Keberlimpahan itu ada di pikiran kita. Kita tidak selalu butuh lebih. Kita butuh hari ini, dan kita saling membutuhkan, dan itu cukup; selalu begitu.

Pertama, Anda muda. Lalu, Anda paruh baya. Lalu, Anda luar biasa. Sesuaikan sikap hidup dengan usia Anda ... dan nikmati kebaikan yang muncul dari tindakan yang bijaksana tersebut. Kita bisa saja terlahir kembali berkali-kali dan bisa saja tidak seberuntung seperti di siang hari ini.

Ingin membuat orang-orang pensiunan merasa baikan? Beri mereka pujian yang tulus. Para lansia, dan bahkan orang-orang paruh baya, cenderung terlewatkan dan terpinggirkan oleh masyarakat dan media. Orang-orang muda kadang melihat kita seolah kita ini tak kasatmata.

Puji saja orang yang belum Anda kenal.

“Hei, rambutmu bagus.”

“Waw, kacamatamu keren.”

“Wah, kau tampan dengan pakaian itu.”

Bukan hanya mereka yang merasa senang; Anda juga. Bukan begitu? Coba saja.

Kebaikan hati adalah pilihan yang cendekia. Cinta kasih itu tidak butuh juru bahasa; cerahkan hari sesamamu.

Saya baca sebuah ulasan restoran di salah satu koran langganan saya, dan di situ tertulis, “Pelayanan: Bagus begitu mereka tahu Anda di situ.”

Orang yang sudah sukses tidak mengharap pelayanan baik; mereka meminta pelayanan luar biasa. Dan kalau tidak Anda sediakan, kabar tersebar ke mana-mana. Hari esok tidak tersedia hingga tengah malam nanti; bereskan hari ini juga.

Cara kita mengerjakan sesuatu adalah cara kita mengerjakan segalanya. Berperilakulah yang baik; sikap ini tidak pernah ketinggalan zaman. Perlakukan orang dengan bermartabat, rasa hormat, dan pengertian; itu kunci persahabatan.

Dalam hidup saya, hadir di Pertemuan Tahunan adalah pengalaman berharga, kadang luar biasa. Dan, sesekali, tidak ternilai harganya.

Ini kali ke-35 saya hadir, berturut-turut. Bagi sebagian Anda, tampaknya sudah banyak, dan bagi sebagian Anda, tampaknya masih seperti awal yang bagus saja. Bagi saya, kedua-duanya.

Saya tidak tahu ke mana 35 musim panas itu sudah berlalu.

Bayanganku berlari cepat. Tangan saya sama, kaki saya sama. Akan tetapi, hati dan pikiran saya bertumbuh karena Million Dollar Round Table.

D. Scott Brennan dari South Bend, Indiana adalah Past President MDRT yang telah menjadi anggota selama 35 tahun. Lulusan Universitas Indiana, ia telah menjadi pembicara di lebih dari 12 Pertemuan Tahunan. Brennan adalah mantan presiden Forum 400, anggota kawakan AALU, dan penerima Penghargaan Memorial John Newton Russell ke-75.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments