Select Language

Check Application Status
en

Resource Zone

Pemimpin Pemandu: Menggiring Kekacauan Menuju Ketenangan

Romie Mushtaq, M.D.

Rate 1 Rate 2 Rate 3 Rate 4 Rate 5 0 Ratings Choose a rating
Please Login or Become A Member for additional features

Note: Any content shared is only viewable to MDRT members.

Berbagai jenis latihan kewaspadaan (mindfulness) seperti meditasi telah menjadi alat standar untuk mencapai kinerja otak terbaik di banyak perusahaan, tim olah raga profesional, dan universitas terkemuka. Mushtaq, seorang ahli saraf dan guru meditasi, akan menjelaskan meditasi dari perspektif ilmu saraf dan juga menunjukkan bukti-bukti medis di baliknya. Dalam loka karya interaktif ini, Anda akan mempelajari latihan kewaspadaan yang dapat Anda mulai di rumah dan di kantor.

Saya neurolog yang dilatih secara tradisional dalam 14 tahun pertama karier saya. Artinya, hidup saya benar-benar dikendalikan penyeranta yang ributnya minta ampun di tengah malam. Hampir tiap malam ada saja yang menyeret saya ke situasi yang mungkin mengancam jiwa pasien untuk menangani kesehatan otak atau mental. Tiap kali saya masuk ke UGD, saya selalu memikirkan hal yang sama: Wow, sayangku, ini sama sekali tidak mirip acara TV Amerika. Shonda Rhimes, aku tak tahu yang ada di benakmu. Ini bukan Grey's Anatomy. Maaf saja, tapi saya terpaksa menyampaikannya pada Anda semua yang gemar drama televisi Amerika bertema medis. Tidak ada pria tampan yang akan menggoda dan menggiring Anda ke ruang persediaan rumah sakit. Jika Anda penggemar Grey's Anatomy, maaf karena saya terpaksa mengecewakan Anda—saya belum pernah bertemu Dr. Avery Jackson, si Dokter Pemimpi, atau si Dokter Seksi. Nona-nona, si Tua McDonald dan hewan ternaknya pun tidak ada.

Saya justru berdiri di tengah kakacaubalauan, otak saya blank. Alarm, orang-orang menjerit, bau. Dan satu-satunya cara untuk tahu kalau saya memang dibutuhkan tengah malam itu adalah dengan mendengar panggilan khas minta tolong. "Ya, ampun, siapa dokter jaga neurologi; di mana, sih, dia?" Saya meringkuk di pojok, mengangkat tangan saya. "Saya di sini." "Kalau begitu, cepat. Ada pasien yang mungkin mengalami stroke di kamar tujuh. Pria ini didiagnosis dengan masalah enzim jantung; Anda cuma punya 30 menit untuk menangani stroke akutnya."

Saya pun bergegas, berusaha mengabaikan semua kekacauan di sekitar saya. Ini pertama kalinya saya sadar kalau latihan meditasi yang saya lakukan sangat membantu. Sambil mengabaikan keributan di sekitar, saya diam, menarik napas, dan fokus ke pasien tua ini. Saat melihatnya saya sadar, Tunggu, coba perhatikan fluktuasi gas darah arterinya dan gerakan dadanya itu. Ini bukan stroke; diagnosisnya meleset. Sebenarnya ada gumpalan di paru-parunya. Saya diam sebentar dan menarik napas, lalu memanggil dokter paru-paru dan perawat agar pasien ini bisa menjalani pemindaian darurat.

Pikir saya, Tunggu sebentar. Anda tahu, pasien-pasien seperti ini selalu muntah saat saya membungkuk memeriksanya. Begitu dia muntah di baju saya, kami segera memindahkannya untuk pemeriksaan sinar-X darurat. Dua perawat wanita yang belum pernah saya temui bergegas masuk untuk membersihkan bekas muntahan di baju saya. Belum juga mereka selesai membersihkan baju, lagi-lagi saya dengar ada yang meneriakkan panggilan khas itu: "Ya, ampun, di mana, sih, dokter jaga neurologi itu?" Saya pun berlari keluar. "Kamar 4. Petugas patroli perbatasan butuh ditangani. Badan sebelah kirinya tidak bisa digerakkan, kesadarannya naik-turun, dan Anda cuma punya empat menit sebelum semua anggota pasukannya kemari dan mencereweti kita. Cepat."

Saya bergegas ke kamar 4, diam sejenak, lalu berpikir. Di saat seperti ini otak saya blank, respons stres mulai menerjang. Anda mungkin bisa lihat ekspresi wajah saya berubah, fokus saya pudar, dan respons stres itu menyerang. Apa yang terjadi saat saya dengar respons stres itu? Anda mungkin bisa bayangkan—sekerumunan bibi dari India bersamaan mengomeli saya. "Kau ini di ruang UGD tengah malam dan Tuhan mengirimkan pria tampan dan terhormat ke hadapanmu, tapi bajumu malah penuh muntahan. Lebih baik berhenti sajalah, cukur gundul, jadi biksu, lalu meditasi."

Saya ambil napas panjang, diam sejenak, meditasi, lalu bergegas masuk ruangan. Saya mulai mencari tahu riwayat kesehatan petugas patroli itu. Dia sulit menggerakkan sebelah badannya dan tampak bingung. Saya cuma berpikir, Biarkan aku tenangkan dulu stres dan suara-suara di kepalaku ini. Itu membuatku meragukan diri dan kemampuanku. Saya tarik napas panjang beberapa kali, dan saya dengar pasien itu bicara dengan suara berat: "Maaf, Dok. Anda tarik napas panjang seperti itu? Kedengaran seperti Darth Vader. Anda di UGD ini sambil meditasi?" Oh, Tuhan, saya ketahuan.

Memang aneh, kan, kalau saya duduk meditasi di rumah sakit? Saya cepat-cepat tarik napas dan mengumpulkan fokus, lalu melakukan apa yang diajarkan pada saya sebagai dokter: Saya tidak tunjukkan emosi dan menjaga jarak, lalu saya bilang padanya, "Saya perlu meminta pemindaian otak segera. Saya akan ke sini lagi kalau Anda sudah selesai dipindai."

Beberapa jam kemudian, setelah saya membersihkan diri dan menerima hasil pemindaian otaknya, saya masuk ke ruang rawat petugas patroli perbatasan itu. Seluruh anggota pasukannya sudah ada di sana. Saya gemetar, tapi dia berkata, "Hei, lihat teman-teman. Ini dokter yang suka meditasi itu." Saya baru mau kabur, tapi dia justru berkata, "Tunggu, Dok, jangan pergi. Tidak apa-apa. Kembalilah kemari. Kami juga meditasi." "Oh?" Saya mulai memelintir rambut saya dan bergaya seperti, Hei, coba lihat ini. Aku tidak lagi berlepotan muntahan. Mereka pun bercerita bagaimana para petugas patroli perbatasan AS-Meksiko ini bisa meditasi.

Mereka semua adalah anggota pasukan yang sering bermitra dengan Drug Enforcement Agency (DEA) dan polisi-polisi lain, dari Amerika Serikat maupun Meksiko, untuk menangkap kriminal. Unit khusus ini ditugaskan untuk menyelamatkan korban perdagangan manusia. Tapi apa yang terjadi jika mereka dapat bocoran informasi tentang kegiatan kriminal di dekat perbatasan? Mereka siap bertempur, cepat-cepat ke gudang atau kamar hotel yang dimaksud, lalu mengetuk pintunya keras-keras. Tok, tok, tok. "Ini Petugas Patroli Perbatasan, DEA, keluar dan angkat tangan kalian. Kalian ditangkap atas kepemilikan narkotika, senjata api ilegal, dan perdagangan manusia." Dalam situasi kacau dan tegang ini, tak jarang mereka disambut dengan tembakan. Orang-orang tak berdosa bisa saja terluka dan barang bukti penting mungkin ikut hancur.

Mereka sadar kalau butuh sesuatu yang berbeda. Itulah kenapa ketua petugas patroli perbatasan akhirnya mengundang master bela diri aikido. Tujuannya bukan untuk belajar bela diri, tapi mempelajari kewaspadaan dan meditasi. Mereka undang guru tersebut untuk mempelajari manfaat sikap diam sejenak dan meditasi dalam tugas mereka.

Jadi saat mereka beraksi bersama tim-tim lain, mereka pun akan menarik napas dan diam sejenak. Mereka kenakan alat taktisnya, dan karena ini skuadron utama jadi tidak perlu menyerbu dan beraksi gaduh, tapi cukup berjalan mantap ke pintu, lalu mengetuknya seperti petugas layanan kamar. Tok, tok, tok. "Halo, kami Petugas Patroli Perbatasan dan DEA. Anda ditangkap, silakan keluar dengan tangan di atas." Dengan cara kalem ini para tersangka akan mengangkat tangan, membuang senjata, dan ke luar kamar. Setelah enam bulan mereka sadar jumlah insiden yang hasilnya buruk berkurang hingga lebih dari 80 persen.

Jadi, bagaimana meditasi bisa membantu dokter UGD dan petugas patroli perbatasan saat mereka menghadapi situasi genting di lapangan? Intinya adalah saat Anda bisa mengendalikan pikiran, Anda juga bisa mengendalikan situasi. Coba saya jelaskan, karena saat kita diam sejenak dan mengambil napas, kita sedang mengendalikan pikiran. Dan kita akan mampu menanggapi keputusan penting dengan tepat. Entah ini soal mengikis kesenjangan antara segala kekacauan di hidup pribadi atau pekerjaan Anda, luangkan waktu dan diam sejenak, tarik napas, dan berikan respons, lalu sadarilah kalau saat Anda bisa mengendalikan pikiran, Anda pun bisa mengendalikan situasi. Beberapa orang mungkin tidak begitu percaya dan bilang, "Dr. Romie, saya juga seperti Anda, bekerja siang malam. Yang Anda maksud kehidupan pribadi itu yang mana?"

Saya ingin jeda sebentar di sini dan membahas mengapa hubungan saya dan organisasi serta Million Dollar Round Table punya dampak begitu besar. Sebagai neurolog dengan spesialisasi kedokteran integratif dan kewaspadaan (mindfulness), saya amat menghargai konsep Whole Person di Million Dollar Round Table. Konsep Whole Person MDRT mengajari kita menyadari bahwa saat kita bisa mengendalikan pikiran, berarti kita pun bisa mengendalikan situasi dalam semua area hidup kita. Konsep Whole Person mencakup tujuan hidup dan pekerjaan, kesehatan fisik, hubungan pribadi, dan kebahagiaan kita sepanjang waktu. Hasilnya, kita menjadi kaum profesional yang sukses.

Di dunia saya, dalam upaya menyatukan ilmu otak dan kewaspadaan, inilah gagasan intinya—pikiran Anda adalah obat yang kuat. Jika kita perlu membahas pemimpin pemandu untuk menggiring kekacauan menuju ketenangan dalam hidup pribadi dan profesional, kira-kira seperti apa jadinya?

Yang pertama, kita akan definisikan ulang apa itu kekacauan, lalu saya akan bahas kewaspadaan sebagai penyembuh stres. Terakhir, tapi tak kalah penting, kita akan berlatih bersama menumbuhkan ketenangan. Baik, mari kita definisikan kekacauan menurut Anda. Bukan berarti Anda harus berada di tengah situasi yang mengancam jiwa, menghadapi pasien di ruang UGD, atau menyelamatkan korban perdagangan manusia di perbatasan. Kekacauan terjadi dalam hidup keseharian kita. Untuk Anda profesional bidang keuangan, mudah saja mengaitkan suasana hati dengan kinerja pasar keuangan atau keraguan dalam menumbuhkan basis klien. Sebenarnya stres tidak ada hubungannya dengan kondisi di luar diri kita. Stres bisa mengurung diri kita di pikiran kita sendiri. Stres ini menjadi cara kita memandang berbagai tuntutan dari luar yang dibebankan pada kita dan cara kita mengatasinya. Inilah mengapa saya ada di sini hari ini: Untuk mengajari Anda ilmu otak, psikologi, dan memanfaatkan kewaspadaan untuk membebaskan diri dari kungkungan stres.

Apa itu stres? Anda sudah dengar contoh bagaimana saya berdiri di ruang UGD dan petugas Patroli Perbatasan beraksi di lapangan. Saat stres meninggi, saya seperti dengar suara-suara di kepala saya atau seperti diomeli bibi-bibi saya dari India. Atau, bagi para petugas Patroli Perbatasan, saat tingkat stresnya tinggi, mereka akan melakukan hal-hal negatif di lapangan. Orang saling menembak dan malah memusnahkan barang bukti yang penting. Otak menanggapi stres seperti ini.

Area ini adalah amigdala. [gambar] Saya menyebutnya "pusat kendali lalu lintas bandara" di otak. Saat terpicu stres, area ini akan menciptakan respons stres, atau respons "hadapi atau kabur". Hormon stres Anda meningkat, misalnya hormon glukokortikoid. Sel-sel di otak Anda berubah, dan semua tingkat hormon stres Anda pun melonjak, lalu apa yang terjadi? Kita mengalami tekanan emosional, bukan? Nafsu makan berkurang, tidur pun tak lelap. Apa Anda seperti ngidam bayam atau wortel saat Anda stres? Saya sendiri sering bilang kalau cokelat adalah obat stres. Anda suka makan cokelat kalau stres? Ya, sampai sekarang semua orang tahu kalau cokelat bisa menumbuhkan semangat saya, tapi yang sebenarnya terjadi adalah kita sangat ingin menikmati makanan-makanan itu ketika stres. Mungkin tidak selalu cokelat, bisa saja makanan asin, karbohidrat, gorengan, atau kombinasi keju dan karbohidrat seperti piza, atau samosa, ya, kan? Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kita tahu kalau pikiran kita ini kunci menuju kemakmuran dan keberhasilan, dan saat stres mengambil alih pusat kendali lalu lintas bandara di otak kita, amigdala jadi macet, bayangkan saja landasan pacu yang dijejali banyak pesawat.

Saya tahu Anda semua terbang dari berbagai penjuru dunia. Anda tahu bandara mana yang paling sibuk di dunia? Ya, bandara tersibuk di dunia ada di sini, di Amerika Serikat, tepatnya di Bandar Udara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta. Dalam kondisi cerah, setiap harinya, dalam satu jam saja, kira-kira ada 125 pesawat yang lepas landas atau mendarat. Apa yang terjadi saat sistem bandara mengalami stres, misalnya karena cuaca buruk atau ada masalah? Pusat kendali lalu lintas bandara akan menutup semua landasan pacu. Persis seperti itulah yang terjadi di otak saat kita stres. Pusat kendali lalu lintas bandara kita pun menutup pengaturan emosi, atau kemampuan memahami memori dan memusatkan perhatian, mencari kata, dan gizi kita, dan semua hal itu memang dikorbankan agar hal-hal penting dalam diri kita bisa tetap berfungsi. Inilah sistem kendali yang dikenal sebagai sistem saraf otonom di pusat kendali lalu lintas bandara, dan saraf vagus adalah semacam landasan pacu bandara ke semua organ di tubuh kita.

Seberapa cepat sistem ini mematikan operasinya? Coba bayangkan seperti ini. Kalau Anda tahu posisi Atlanta di peta Amerika, kalau menara kendali lalu lintas bandara tidak berfungsi dan penerbangan ditangguhkan di sana, di Atlanta, menurut Anda, butuh berapa lama hingga berdampak pada penerbangan di West Coast, Los Angeles? Tidak sampai 10 menit. Bagaimana dengan Hong Kong atau London, atau Dubai? Dalam 30 menit. Pusat kendali lalu lintas bandara di otak cuma butuh kurang dari 30 detik untuk memengaruhi kerja perut, ingatan, suasana hati, dan tekanan darah kita. Ini konsep yang dikenal sebagai peradangan. Sebagai dokter, menurut saya sangat menarik kalau kita melihat, di seluruh penjuru dunia maupun di Amerika Serikat, bahwa orang-orang memikirkan ulang bagaimana penyakit ini terjadi di tubuh kita. Peradangan adalah penyebab sekian banyak penyakit kritis, seperti serangan jantung, Alzheimer, depresi, dan diabetes. Bagaimana kita bisa tahu apakah pusat kendali lalu lintas bandara kita bekerja sebagaimana mestinya atau tidak?

Ada tiga pertanyaan yang sering saya ajukan pada pasien saat pertama kali datang ke klinik saya. Saat menemui pasien yang mengalami stres, kita akan menjalankan seluruh panel pemeriksaan laboratorium, memeriksa level hormon dan penanda peradangan. Tapi justru di ketiga pertanyaan yang saya ajukan itu dampak pusat kendali lalu lintas bandara bisa langsung dirasakan: Apakah Anda sulit tidur? Mungkin Anda minum obat tidur atau alkohol agar bisa tidur, dan itu tidak masalah, tapi tetap saja Anda terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur kembali. Anda mungkin berpikir, "Lebih baik sekarang aku membalas surel-surel kantor atau mencuci pakaian saja karena aku tidak bisa tidur lagi." Itu masalah nomor 2. Atau, masalah nomor 3 dan yang paling serius, yaitu Anda sudah melakukan apa saja agar bisa tidur, dengan bantuan obat atau tidak, dan Anda memang tertidur. Namun yang Anda rasakan justru, "Dr. Romie, saya tidur delapan sampai sembilan jam, tapi saat bangun, saya tetap merasa sangat lelah." Ini artinya pusat kendali lalu lintas bandara Anda tidak berfungsi.

Dalam istilah klinis, dan sebagai topik yang dibahas di buku pertama yang sedang saya tulis, ini dikenal sebagai Busy Brain Syndrome (Sindrom Otak Sibuk). Apa yang terjadi saat respons stres terpicu? Bagaimana Anda bisa mengetahuinya? Anda tidak cuma sulit tidur atau justru tetap terjaga. Tapi Anda juga ingin sekali menyantap makanan tertentu. Mungkin Anda kesulitan menurunkan berat badan, padahal tinggal 5 atau 10 pound saja. Anda kesakitan. Anda mungkin mengalami nyeri sendi, heartburn (nyeri dan panas di dada), begah, atau kembung setiap kali makan; Anda mengalami irritable bowel syndrome (IBS), sindrom iritasi usus besar; atau Anda mungkin sulit memusatkan perhatian, cemas, atau ADHD. Ini semua gejala peradangan yang saya sebut "gejala otak sibuk", dan ada jawaban untuk hal ini, karena gagasan pokoknya adalah jika kita tidak mantap dalam mengelola stres, stres bisa jadi mematikan. Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention menyatakan 80 persen kunjungan pasien rawat jalan kepada dokter ternyata berkaitan dengan berbagai penyakit akibat stres. Apa penyebab utama stres di Amerika Serikat, dan mungkin juga di seluruh dunia? Itu tugas kita, dan saya sampaikan ini bukan sebagai dokter saja, tapi juga pasien.

Sebagai neurolog, yang hampir setiap hari bangun tengah malam untuk bekerja, kurang tidur, dan dengan jam kerja antara 80 sampai 90 jam seminggu, saya mulai sakit secara fisik dan emosi. Begitu saya mulai sulit bernapas saat bangun tengah malam, barulah saya sadar kalau ada yang tidak beres. Saya tersedak muntahan atau ludah saya sendiri, dan setelah menghabiskan bertahun-tahun untuk pemeriksaan, barulah kami tahu kalau saya mengalami kondisi medis yang tidak biasa, yaitu akalasia. Saya jadi tidak bisa menelan, dan saat kondisi ini terdiagnosis, saya sudah mengalami perubahan prakanker.

Saya malu sekali. Saya ini dokter, tapi malah begini—saya tidak bisa mengelola stres yang saya alami, dan saya jatuh sakit. Saat menjalani operasi bedah untuk menyelamatkan nyawa saya, yang saya khawatirkan bukanlah, Ya, Tuhan, apa aku mengidap kanker? Di sana saya duduk dan berpikir, Bagaimana mungkin ini sampai terjadi padaku? Kenapa dulu aku tidak belajar mengelola stres dengan lebih baik, dan misalkan aku bisa, apa yang bisa kuubah?

Ternyata saya tidak sendirian. Global Benefit Attitudes Survey yang dilakukan Towers Watson pada 2014 mengulik apa yang terjadi saat karyawan mengalami stres tingkat tinggi. Mereka cenderung lebih sering izin sakit, dan produktivitasnya merosot jauh, jadi ternyata saya bukan satu-satunya yang mengalaminya. Jika Anda tidak mengelola stres yang Anda alami, stres akan mengganggu produktivitas Anda. Lalu, bagaimana dengan anggota tim Anda? Yang lebih penting lagi, dalam industri keuangan dan perbankan, kami mendalami pentingnya keterlibatan karyawan. Yang kami temukan dalam survei ini adalah karyawan yang mengalami stres tingkat tinggi punya kecenderungan 50 persen lebih tinggi untuk tidak mau terlibat. Sebaliknya, jika tingkat stres mereka rendah, mereka bersemangat untuk bekerja. Itulah masalahnya, dan karenanya karyawan yang mengalami stres lebih sering izin sakit. Mereka absen. Mereka kurang produktif, dan mereka tidak ingin bekerja. Ada solusi untuk hal ini, dan jika Anda menyimak cerita ini dan berpikir, Ya, ampun, Dr. Romie, begitulah yang kualami, saya hadir di sini untuk menyampaikan satu hal ini: Anda tidak sendirian, dan Anda tidak gila. Coba saya ulangi. Anda tidak sendirian, dan Anda tidak gila, karena tidak ada yang lebih buruk di dunia ini daripada tahu kalau Anda tidak bisa mengelola stres yang Anda alami dan merasa kalau diri Anda yang sangat sukses dalam industri keuangan ternyata melakukan suatu kesalahan. Saya hadir di sini untuk memberi tahu Anda kalau Anda tidak sendirian, dan Anda tidak gila.

Justru, saya hadir hari ini dengan membawa gabungan antara neurologi, psikologi, dan kewaspadaan untuk mengajari Anda cara memahami kalau pikiran Anda itu obat yang hebat. Nyatanya, Anda sebenarnyalah yang pegang kendali. Coba kita cermati. Pusat kendali lalu lintas bandara pribadi di otak Anda? Apakah otak Anda sibuk, atau apakah fungsinya mencapai titik kinerja puncak? Coba kita lakukan sedikit tes psikologi di sini. Saya akan beri 30 menit, dan tugas Anda adalah mengingat daftar kata dalam bahasa Inggris ini: thread, pin, sharp, point, sewing, eye, thimble, prick, thorn, hurt, haystack, injection, syringe, cloth, knitting. Lalu, ini daftar kata berikutnya yang harus Anda ingat: bed, tired, rest, awake, wake, dream, snooze, blanket, slumber, doze, snore, nap, drowsy, peace, yawn. Anda semua ini yang terbaik di Million Dollar Round Table. Anda pasti tidak akan kesulitan mengingatnya.

Dari kata-kata berikut, mana saja yang ada dalam daftar yang saya sebutkan tadi: awake, door, candy, needle, sewing, sleep? Tidak usah panik kalau salah menjawab. Mungkin saja ini karena Anda berpesta sampai larut tadi malam, kan? Jawabannya awake dan sewing.

Inilah yang terjadi saat pusat kendali lalu lintas bandara kita tidak berfungsi. Bukan berati Anda mengalami demensia dini. Ini gejala otak sibuk, dan saya hadir di sini untuk memberi obat kewaspadaan untuk mengatasi stres Anda.

Apa artinya menghadirkan obat kewaspadaan untuk mengatasi stres, khususnya jika dikaitkan dengan pekerjaan? Saya akan mulai secara spesifik dengan peran Anda sebagai pemimpin. Jika Anda bertanya, "Apa? Apa maksud Anda, Dr. Romie? Saya tidak merasa saya ini pemimpin." Yah, coba pikirkan peran-peran di hidup Anda. Kalau ada dua atau tiga orang bertemu, peluang untuk memimpin pasti ada. Jadi, entah itu di dalam bisnis, keluarga, komunitas spiritual di gereja, di kuil, di sinagoge, ataupun di masjid, Anda tetap bisa disebut pemimpin. Pemimpin yang dapat memandu akan menumbuhkan rasa kesadaran yang terpusat pada masa kini, sadar kalau saya ada di sini bersama Anda sebagai pemimpin.

Apa pentingnya mengatasi stres dalam pekerjaan? Kita enggan bekerja jika situasinya kacau karena rasanya semua jadi tidak terkontrol. Tapi, Anda bisa tampil saat Anda diam sejenak, menarik napas, dan menanggapi dengan berkata, "Saya ada di sini." Ini bukan cuma tentang kesadaran yang terpusat pada masa kini, tapi juga tentang cara Anda memimpin tim. Sebagai pemimpin pemandu, Anda dapat membantu anggota tim menumbuhkan fokus, kejelasan, kreativitas, dan kasih, sambil memikirkan cara melayani sesama. Inilah kualitas pemimpin pemandu. Bagaimana Anda bisa melayani sesama? Ini sejalan dengan jati diri Anda sebagai anggota MDRT yang melayani masyarakat Anda.

Kedengarannya mungkin esoteris, tapi sekarang hal ini tidak lagi dianggap aneh atau hanya tren semata. Di Amerika Serikat, hampir satu dekade lamanya literatur bisnis membahas pemimpin pemandu. Kini kita tahu kalau teknik-teknik berdasarkan kewaspadaan tidak ditujukan hanya untuk pasien yang terbebani stres, depresi, cemas, dan sulit tidur. Nyatanya, ada banyak pemimpin berkata, "Saya tahu saya bisa bekerja lebih baik lagi. Saya belum mencapai titik puncak saya."

Saya memikirkan beberapa klien yang sudah saya layani, baik yang perorangan atau peserta diskusi dan lokakarya perusahaan. Suatu kali pejabat eksekutif datang pada saya dengan gagasan seperti ini, "Bagaimana Anda bisa membantu saya memanfaatkan konsep kewaspadaan dan kepemimpinan untuk memandu tim di masa merger atau akuisisi?"

Atlet profesional, misalnya pemain basket, berkata, "Saya ingin meningkatkan persentase lemparan bebas saya." Atau, pemain golf berkata, "Saya ingin mendapatkan tour card untuk PGA." Sudah banyak pengacara datang menemui saya untuk mengatakan kalau mereka ingin punya prestasi di pengadilan, atau dalam kasus litigasi. Ini beberapa contoh nyata tentang bagaimana orang-orang yang dianggap sudah mencapai titik puncak dalam industri mereka, seperti Anda, dan ternyata masih berkata, "Saya ingin mencapai kinerja puncak saya dan mempertahankannya." Begitulah kewaspadaan bisa membantu.

Jadi, apa yang sudah diajarkan literatur neuropsikologi pada kita? Saat membahas meditasi dan bagaimana praktik ini memengaruhi kinerja puncak kita, bukan saja respons stres itu akan nonaktif sehingga pusat kontrol lalu lintas bandara di otak kita bisa sepenuhnya aktif, tapi kini kita juga mengaktifkan pusat kreativitas dan bisa fokus pada tugas, menjadi produktif, dan meningkatkan kinerja. Siapa, sih, yang tidak ingin jadi orang seperti itu, produktif dan punya kinerja terbaik?

Orang-orang sudah mulai menghadirkan konsep kewaspadaan dan meditasi ke perusahaan mereka. Salah satu contohnya Intel. Perusahaan ini punya program Awake. Program ini disebutkan dalam literatur terbitan 2014 silam, dan menunjukkan bahwa saat karyawan diminta mengikuti program kelas meditasi atau yoga dua kali seminggu saat makan siang, rata-rata, ada peningkatan sebesar 33 persen pada jumlah karyawan yang melaporkan seberapa baik perasaan mereka hanya dalam delapan minggu saja. Stres mereka berkurang 20 persen dan produktivitas meningkat 20 persen. Mereka ikut meditasi atau yoga selama delapan minggu, dan mereka mengatakan mereka merasa lebih baik, berkurang stresnya, dan menjadi lebih produktif dan kreatif. Konsep sederhana.

Bagaimana dengan Aetna Insurance? Perusahaan ini meminta 15.000 karyawannya ikut program yoga dan meditasi. Hasilnya bukan hanya peningkatan produktivitas saja, tapi juga penurunan jumlah klaim medis dan, yang lebih penting lagi, peningkatan kualitas tidur. Rata-rata klaim medis tiap karyawan berkurang sebesar $3.000. Semua ini dimuat di New York Times, di bagian bisnis pada 2014. Sekarang Anda mungkin berpikir, Yah, baiklah, jika banyak perusahaan sudah melakukannya dan membuktikan kalau ini langkah strategis untuk perorangan, untuk para pemimpin, dan untuk tim mereka, bagaimana saya bisa mulai melakukannya untuk diri saya sendiri? Gagasan pokoknya adalah agar bisa menjadi pemimpin pemandu, kita harus terlebih dahulu menumbuhkan ketenangan dalam diri kita sendiri, karena Anda tidak bisa mengenal orang lain sebelum mengenal diri Anda sendiri. Langkah pertama dalam cara memimpin yang penuh kewaspadaan bukanlah tentang siapa yang Anda pimpin, tapi tentang cara menguasai psikologi pikiran Anda sendiri—Anda tidak akan bisa mengenal orang lain sebelum mengenal diri Anda sendiri. Inilah kewaspadaan itu.

Ada banyak pertanyaan tentang arti kewaspadaan. Ini bukan istilah religius atau spiritualitas. Saya tahu kalau banyak dari Anda, seperti halnya saya sendiri yang juga dokter, adalah orang yang sangat analitis, dan Anda mungkin berpikir, Apa itu kewaspadaan, dan apa hubungannya dengan kinerja dan diri saya? Dalam istilah psikologi, kewaspadaan adalah gagasan bahwa kita melatih otak untuk tetap sadar dan mencurahkan perhatian pada saat ini tanpa menilai. Nah, ini mungkin terdengar agak sulit. Katakanlah pekerjaan Anda menganalisis angka-angka keuangan, memperkirakan tren, dan membantu klien Anda. Pekerjaan saya menganalisis pasien medis beserta diagnosis medis mereka, tapi itulah yang disebut analisis. Itu pemikiran rasional kita. Itu otak kita pada titik kinerja puncak. Saat kita menyertakan emosi seperti stres dan pemikiran negatif ke dalamnya, itu disebut penilaian. Kewaspadaan berarti belajar melatih otak Anda untuk hadir dan mencurahkan perhatian tanpa menilai.

Apa manfaat kewaspadaan dan meditasi? Saat menilik pusat kendali lalu lintas bandara di otak, kita ingin sekali menonaktifkan respons stres itu, kebalikannya biasa dikenal sebagai respons relaksasi, yang diajukan Dr. Herbert Benson dari Harvard Medical School pada 1970-an. Dr. Herbert Benson adalah salah satu peneliti yang pertama kali mempelajari dampak meditasi terhadap kesehatan perilaku, serta otak manusia. Hasil risetnya menunjukkan meditasi dan teknik napas terkendali bukan saja mampu menonaktifkan respons stres, tapi juga membantu mengendalikan pusat kendali lalu lintas bandara di otak kita, serta merangsang sistem yang disebut sistem saraf parasimpatik. Jadi, apa yang terjadi saat area otak tersebut menerima rangsangan? Respons relaksasi akan aktif, dan tekanan darah Anda turun. Ketegangan otot pun berkurang, dan Anda bisa memusatkan fokus dan tidur lebih mudah. Sistem kekebalan tubuh meningkat, dan, tiba-tiba saja, Anda merasa nyaman. Ini semua hasil praktik meditasi selama 20 menit sehari. Studi klinis pun membuktikan hal ini.

Bagaimana kita bisa menghadirkan gagasan ini ke dalam resep kewaspadaan bagi diri kita sendiri sebagai pemimpin? Inilah yang dimaksud dengan menumbuhkan ketenangan. Saya akan minta Anda berlatih praktik detoks digital dan menumbuhkan kesadaran diri, yang jadi kunci mendasar dalam kewaspadaan. Kita akan bahas peran meditasi, lalu menetapkan keinginan positif.

Kita mulai dengan melindungi tidur Anda. Tidur kita di malam hari berfungsi membantu memulihkan bukan cuma pikiran dan ingatan saja, tapi juga tubuh kita. Tubuh perlu diberi kesempatan untuk beristirahat. Saat kita mengalami stres kronis dan kurang tidur, penanda-penanda peradangan akan menanjak naik, dan tubuh serta otak kita tidak memperoleh kesempatan untuk menyembuhkan diri. Dalam spiritualitas Timur, tidur dianggap suci. Mengapa begitu? Dasar pemikirannya ini, saat tidur, jiwa kita naik ke surga, dan karenanya saat bangun, kita harus bersyukur karena jiwa kita bisa kembali ke tubuh dan kita tetap hidup. Orang-orang bilang saat menarik napas pertama kali setelah bangun, kita harus bersyukur karena masih bisa bernapas sepanjang hidup kita. Jika Anda pernah terbangun dan hanya diam berbaring saja, sering kali Anda akan merasa kalau di saat itulah gagasan atau intuisi kreatif dan inovatif Anda bisa begitu kuat. Itulah sebabnya tidur dianggap suci untuk pikiran, tubuh, dan jiwa.

Saya minta Anda, selama 30 menit sebelum tidur, untuk mengalihkan ponsel dan semua perangkat digital ke mode terbang, menjauh dari segala rangsangan, dan meletakkan perangkat elektronik di ruang lain. Jika Anda perlu melakukannya saat tengah hari, jauhkan semua perangkat elektronik atau menjauhlah dari meja kerja, lalu cari posisi duduk yang nyaman. Saya minta Anda melakukannya hanya selama 30 menit sebelum tidur.

Hal kedua adalah, bagi Anda yang bilang, "Saya tidak bisa tidur karena pusat kendali lalu lintas bandara di otak saya malah sedang lari maraton," saya minta Anda melakukan yang saya sebut "pembersihan otak". Ambil pena dan kertas, lalu buat daftar untuk semua hal yang muncul di pikiran Anda, semua hal yang harus Anda lakukan, emosi Anda, cerita-cerita Anda—apa pun itu, tuliskan saja. Mengapa ini penting? Jawabannya adalah karena saat mata kita menatap kertas dan tangan kita menyentuh pena dan kertas, pusat kendali lalu lintas bandara di otak kita akan terpicu dan akan berpikir, "Hei, tenanglah. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu atau mengingat-ingatnya lagi." Maraton pikiran di dalam kepala kita pun akan berhenti.

Setelah selesai melakukan detoks digital dan pembersihan otak, apa langkah selanjutnya? Inti dari kewaspadaan adalah gagasan bahwa meditasi adalah obat bagi pikiran. Anda siap mencobanya? Mulailah dengan latihan napas terkendali selama tiga menit. Jika masih ada pena dan kertas atau ponsel di pangkuan Anda, silakan selesaikan, lalu letakkan. Anda akan berlatih praktik detoks digital. Gagasan pokoknya adalah selama tiga menit, Anda mengatur napas untuk mengendalikan otak Anda, sama seperti yang saya lakukan di ruang UGD atau yang dipraktikkan petugas patroli perbatasan saat menghadapi situasi berbahaya. Sesederhana itu.

Silakan cari posisi duduk yang nyaman. Jika mau, Anda bisa memejamkan mata. Jika tidak, cukup cari satu titik di lantai dan fokuskan pandangan ke sana. Tarik napas panjang dan dalam lewat hidung, tahan napas, buka mulut, dan embuskan dalam-dalam. Tarik napas, dua, tiga, tahan napas. Embuskan, dua, tiga, empat. Lakukan selama tiga menit, tarik napas dengan hitungan satu, dua, tiga, tahan napas, lalu embuskan, dua, tiga, empat. Bagaimana jika ada banyak pikiran melintas di benak Anda? Tetap pejamkan mata dan pertahankan diri dalam posisi yang nyaman. Tidak apa-apa jika ada pikiran dan gagasan yang memasuki benak Anda. Sadari saja aliran dan pikiran-pikiran itu. Ini disebut "momen air terjun" dalam meditasi. Tetap fokus pada napas Anda. Sambil menarik napas, sadari diri Anda, dari kepala turun ke badan sampai ke kaki. Tarik napas dalam-dalam. Saat mengembuskan napas, bayangkan Anda membuang napas lewat ujung kaki Anda.

Sekarang, apa yang terjadi dengan semua pikiran di benak Anda? Apakah rasanya seperti air terjun yang mengalir deras dan membuat Anda tidak bisa duduk tenang dan bermeditasi? Tidak apa-apa. Itu wajar. Coba bayangkan gelembung pikiran. Adakah gagasan atau cerita, atau sesuatu yang melekat di benak Anda, misalnya daftar tugas yang harus Anda kerjakan? Bayangkan ada gelembung besar dan jernih di depan kepala Anda. Setiap kali ada pikiran, citra, gambar, cerita, atau emosi melintasi benak Anda, bayangkan saja semua itu keluar dari otak Anda dan masuk ke gelembung itu satu per satu. Tidak perlu menilainya. Setiap pikiran, emosi, dan gagasan yang Anda masukkan ke dalam gelembung itu akan melayang pergi. Ambil napas panjang dan dalam, lalu embuskan. Setiap kali ada pikiran atau citra yang melintasi benak Anda, masukkan ke gelembung itu. Saat mengisi gelembungnya, bayangkan gelembung itu pelan-pelan melayang di atas kepala Anda. Manfaatkan konsep menjaga otak dari berbagai pikiran yang melintas, dan isilah gelembung itu. Saat melakukannya, bayangkan gelembung itu melayang di atas kepala Anda dan menembus langit-langit hingga ke angkasa, membawa pergi semua pikiran tadi bersamanya.

Lalu, kita masuki tahap meditasi tenang. Di sini, jika ada yang mengusik pikiran Anda, coba tarik napas, pusatkan perhatian pada kata tenang, dan embuskan napas sambil memusatkan perhatian pada kata damai.

Sembari menuntaskan meditasi, coba tetapkan keinginan untuk hari ini. Anda ingin sukses? Anda ingin tenang? Apakah Anda kuat? Lalu, ucapkan. Saat menarik napas, katakan, "Ya, aku kuat," dan saat mengembuskan napas, katakan: "Aku kuat" dan "Aku tenang."

Jika sudah siap, buka mata Anda dan bawa kembali kesadaran Anda. Anda bisa menggoyang-goyangkan jari kaki di dalam sepatu Anda, menggoyang-goyangkan jemari Anda, dan melihat ke sekeliling. Selamat datang kembali.

Silakan coba gagasan ini. Bisakah Anda luangkan waktu 30 menit untuk mengarahkan diri Anda menuju pikiran yang kuat? Butuh waktu 30 menit sebelum tidur untuk mematikan semua perangkat, membersihkan otak, bermeditasi, dan menetapkan keinginan yang positif. Jika Anda butuh eBook berisi panduan untuk melakukan langkah-langkah ini dan meditasi gratis yang dipandu, Anda dapat mengirimkan pesan singkat berisi "STRESS" ke 72000. Harap ingat, bagi Anda yang berasal dari luar negeri, pesan singkat Anda mungkin dikenai tarif pesan singkat dan tarif internasional. Kirimkan pesan singkat berisi "STRESS" ke 72000. Kami akan mengirimkan eBook gratis dan meditasi yang dipandu.

Orang-orang sering menanyai saya, "Dr. Romie, apa Anda masih meditasi setiap hari, atau hanya sebatas omongan saja?" Tim saya bisa memberi tahu Anda kalau seluruh jadwal saya, bahkan saat bepergian ke berbagai penjuru dunia dan menjadi pembicara, selalu diawali dengan doa dan meditasi. Mengapa saya bermeditasi? Saya bermeditasi karena delapan tahun lalu, para dokter yang menangani saya tidak yakin apakah saya bisa selamat dari operasi bedah, dan kalaupun saya selamat, saya mungkin masih harus menjalani banyak operasi bedah lain dan mungkin saja cacat. Saya tahu saya harus mencari jalan lain untuk hidup. Pikiran saya jadi obat yang kuat karena praktik meditasi dan kewaspadaan yang saya lakukan telah membantu saya, bukan hanya untuk tetap sehat, tapi juga membantu memenuhi misi yang mulia ini, untuk membantu orang-orang dan perusahaan di Amerika Serikat dan di seluruh penjuru dunia agar memahami seperti apa rasanya menjadi Whole Person MDRT.

Saya tantang Anda untuk meditasi. Mengapa? Jawabnya adalah karena saat Anda meluangkan waktu untuk diam sejenak, Anda sadar bahwa saat Anda mampu mengendalikan pikiran, berarti Anda juga mampu mengendalikan situasi apa pun yang Anda hadapi. Inilah artinya menjadi Whole Person MDRT. Saya minta Anda bermeditasi karena pikiran Anda adalah obat yang kuat.

Romie Mushtaq, M.D., ABIHM, adalah seorang ahli saraf yang dilatih secara tradisional, dengan sertifikasi tambahan di bidang pengobatan integratif. Mushtaq memadukan ilmu kedokteran Barat dan kearifan Timur untuk membantu menghadirkan cara pandang baru mengenai otak dan kesehatan jiwa. Program-programnya ditunjang pengetahuan khas di bidang ilmu saraf, pengobatan integratif, dan kewaspadaan (mindfulness). Ia merupakan kontributor ahli yang rutin tampil di media nasional seperti NBC, Huffington Post, Fox News, dan NPR.

 

{{GetTotalComments()}} Comments

Please Login or Become A Member to add comments